Inspiration

PENJARA SOSIAL

Pembatasan sosial berskala besar yang diterapkan pemerintah sangat berdampak pada seluruh sendi kehidupan. Orang tidak boleh berinteraksi atau bersentuhan secara fisik. Bersalaman pun menjadi tabu. Bersenggolan seolah sesuatu yang najis yang harus segera dicuci.

Pembatasan sosial melahirkan sosok-sosok paranoid di sekitar kita. Ada tetangga yang mengaku tangannya sampai perih-perih karena keseringan cuci tangan. Ada tetangga yang pantang menginjakkan kaki ke rumah saya. Ketika harus menyerahkan sesuatu, jari yang memegangnya pun amat minim. Seolah jijik dan menghindari bersentuhan seinci pun dengan tangan penerima. Uang dikantongi plastik. Ketika akan mengambil harus disemprot dulu. Setelah itu, cuci tangan berkali-kali.

Dalam situasi normal, perilaku-perilaku orang paranoid karena ketakutan berlebih itu sangat menyinggung perasaan. Tetapi dalam situasi seperti ini pun, saya masih sering merasakan rasa tersinggung itu. Saya tidak tahu, apakah saya lebay, atau terlalu cuek, atau terlalu sensitif dan baper. Kalau perilaku itu ditunjukkan orang yang baru saya kenal, maka tidak menjadi masalah. Tetapi justru orang-orang itu yang dulunya teramat dekat dalam kehidupan bermasyarakat.  

Sungguh, pembatasan sosial yang ekstrem ini melukai rasa kemanusiaan kita sebagai makluk sosial. Paling tidak itu yang saya rasakan. Saya sampai merasa seolah saya punya dosa dan penuh noda yang terlarang dalam interaksi manusia. Untunglah, saya lama kelamaan bisa beradaptasi hidup bersama orang-orang paranoid super lebay seperti itu.

Hidup dan tinggal di rumah saja menjadi penjara sosial berskala besar. Setiap orang, setiap keluarga terpenjara oleh rumahnya. Padahal, sesungguhnya penjara itu adalah pikiran atau mindset yang memenjarakan diri kita. Mindset yang penuh kekhawatiran dan ketakutan berlebih, itulah penjara sosial yang sesungguhnya.

Awalnya saya terpenjara dan terkungkung oleh ketakutan itu juga. Lama kelamaan, itu membuat saya depresi. Mungkin saya sempat terkena cabin fever atau demam kabin yang menggambarkan depresi yang muncul akibat tinggal di dalam satu ruangan yang sama dan dalam waktu lama. Demam kabin ini muncul akibat orang merasa terlalu lama terisolasi dan terputus dari dunia luar. Gelisah, mudah curiga, mudah tersinggung, kehilangan motivasi, tidak sabaran, sulit tidur, putus asa, adalah gejala-gejala cabin fever.

Saya sudah ada gejala seperti itu. Maka saya harus keluar dari penjara pikiran itu.

Maka saya sekarang lebih merasa bebas untuk ke luar rumah, menyapa tetangga, bersepeda di jalanan kompleks. Membebaskan sikap parno atau paranoid menjadi cara agar mental kita tetap sehat, berpikiran positif, sehingga imunitas terjaga. Kita harus keluar dari kabin yang memenjarakan kita.

Mateo Tabataba dalam bukunya “The Mind-made Prison” mengatakan bahwa agar orang bisa bebas, orang harus menyadari bahwa segala sesuatu itu sebenarnya bukan apa-apa, karena semuanya hanya perspektif. Perspektif itu kelihatannya benar-benar nyata. Padahal itu hanya buatan imajinasi kita. Kalau orang sudah terpenjara pikirannya, maka ia akan melabeli segala sesuatu dengan kata benar atau salah. Mereka selalu merasa benar dan memaksakan kebenaran versi mereka itu bagi orang lain. Inilah akar dari perpecahan dan penderitaan.

Saya ingin damai dan lepas dari persepsi yang memenjarakan ini. Ketakutan berlebih atau paranoid dan kekhawatiran itulah penjara-penjara pikiran yang membuat kita menderita. Kalau kita sudah bisa menyadari hal ini, maka akan terciptalah kedamaian. Tapi harus diingat, Covid-19 adalah fakta yang harus disikapi dengan bijak dan taat aturan. *** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: katadata.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: