Inspiration

SELINGKUH

Saya kagum dengan ibu saya. Ia seorang perempuan kuat yang tahan uji di segala medan dan cuaca. Derita, sengsara, pengkianatan tak mampu menggoyahkan kesetiaannya sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai perempuan. Keteguhannya untuk setia pada cinta sungguh memberi saya harta hidup tak ternilai.

Suatu hari saya iseng bertanya kepada ibu. “Bu, kenapa sih Ibu bisa setia pada Bapak meskipun dikhianati beberapa kali?” Ibu saya hanya tersenyum. Tidak ada tampang terkejut. Tidak ada ekspresi marah atau tersinggung karena luka lama yang saya korek-korek lagi.

Ibu saya dengan tenang sambil tersenyum menjawab, “Aku selama ini hanya memegang kepercayaan. Aku memberikan kepercayaan penuh kepada Bapakmu dan tidak pernah berpikir aneh-aneh karena kepercayaan sudah aku berikan. Kalau ternyata kepercayaanku itu dikhianati, aku tidak akan marah. Karena akan ada akibat yang ditanggung Bapakmu ketika mengkhianati kepercayaan yang aku berikan.”

Saya terdiam beberapa saat. Ingatan saya mencoba memutar balik memori bahwa ibu saya sanggup bertahan dengan komitmen perkawinannya sampai lebih dari 50 tahun. Akhirnya maut memisahkan kisah cinta ibu saya. Hanya kepercayaan yang dimiliki ibu saya. Dan hanya kepercayaan itu pula yang sanggup membawa pulang bapak saya dari kisah-kisah petualangannya bersama perempuan lain. Kepercayaan itu pula yang selalu menyadarkan bapak saya untuk kembali bersama pasangan sah dan anak-anaknya. 

Pernah pula, suatu kali saya bertanya kepada Bapak soal perselingkuhan dan ‘pertobatan’nya. Bapak berkata bahwa ingatan, cinta, keluarga, dan kepercayaan istrinya yang sudah dilanggar secara sadar membuat Bapak saya beberapa kali ‘gagal’ berfungsi saat berselingkuh. Akhirnya setelah beberapa kali ‘dipermalukan’ oleh keadaan dan terkena ‘kutuk’ kepercayaan ibu saya, Bapak pun kapok. Toh ibu dengan kebesaran hati seorang perempuan desa yang polos yang hanya berbekal kepercayaan masih menerima dengan tangan terbuka ‘kepulangan’ suaminya setelah berselingkuh. 

Mungkin ada benarnya pepatah yang mengatakan bahwa “Mengkhianati orang baik itu ibarat membuang sebuah berlian dan mengambil sebuah batu.” Dari pengalaman Bapak dulu, mungkin ia sadar bahwa batu-batu yang diambilnya tidak ada gunanya. Batu itu hanya memberati langkahnya. Dan tak jarang batu itu malah melukai tangannya. Bahkan batu itu kalau dipelihara akan melukai semua orang, anak, pasangan, keluarga, saudara, tetangga. 

Untunglah Ibu selalu punya stok berlian berupa kepercayaan. Dan, untung pula Bapak saya masih sadar bahwa berlian miliknya tak ternilai harganya dibandingkan sebuah batu yang bisa diambil dari kali. Maka, saran saya kalau kita mencintai seseorang, jangan dikhianati dengan perselingkuhan. Kesepakatan, kesetiaan dan kepercayaan yang dilanggar akan membawa kutukan. Believe it or not

Tapi, pepatah lain mengatakan, “Kalau tetap ingin selingkuh, bebaskan dulu orang yang kita cintai.” Saya sendiri kalau ditanya apakah mau selingkuh, saya akan jawab, “Mau!” Tapi, saya kapok, karena efeknya tiada tara. Rumah bagaikan neraka karena omelan pasangan bagaikan senapan mesin yang tidak pernah macet setiap hari selama berbulan-bulan. Ibu saya malah tertawa terbahak, “Sukur! Kapok kamu, le!” *** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: phys.org

4 thoughts on “Inspiration

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: