Inspiration

LAMPU MERAH

Di suatu pagi, saya kaget menerima panggilan telepon dari sahabat saya yang menjadi pengusaha. Dan yang lebih mengagetkan, di ujung telepon ia memberitakan kabar buruk tentang usahanya yang kini sedang terpuruk. Dia terpaksa mengalami diet alami, karena dalam dua bulan berat badannya bisa turun 10 kilogram, karena tidak doyan makan lantaran stres memikirkan kebangkrutan usahanya yang bernilai milyaran.

Dia nyerocos tentang bagaimana penderitaan yang dialaminya, di keluarga dan di mata karyawannya yang sudah mandeg gajian sebulan lebih. Dia yang selama ini mendewa-dewakan imannya pun seolah menjadi buta, tanpa tahu apa yang harus diperbuat. Yang ada di benaknya adalah mengembalikan investasi milyaran dalam hitungan hari kepada investor dengan menjual aset dan bahkan usaha yang sedang ia jalankan. Ia mengakui bahwa ini kali pertama usahanya terpuruk di titik nadir. 

Setelah mendengarkan keluh kesahnya, saya mencoba memberi penghiburan pada teman saya itu. Karena kalau memberi pinjaman atau duit, jelas saya akan ikut gila, karena dompet saya memang belum pernah disamperin si milyar atau si ratusjuta itu. Saya hanya mencoba membagikan cerita dari apa yang pernah saya baca tentang Dahlan Iskan, pengusaha dan mantan Menteri BUMN. Dalam tulisannya ia pernah mengatakan pengusaha yang tangguh dibentuk oleh kemauannya untuk selalu bangkit sekalipun terpuruk dan ditipu. Ia bisa memiliki lebih dari 100 perusahaan karena berawal dari usaha yang dirintis, lalu merangkak pelan-pelan sampai usahanya menjadi besar. Perlu ketekunan menjalani setiap tahap. Tidak boleh merangkak langsung melompat, nanti usahanya jatuh. Begitu pesan Dahlan terhadap pengusaha kecil. 

Saya juga mencoba mengingatkan dia dengan kata-kata bijak, iman kepada Tuhan. Ia sejenak mendengarkan dan merenungkan. Tapi saya tidak yakin dia sedang merenungkan kebaikan Tuhannya. Saya hanya yakin kalau dia diam karena sedang melamunkan, siapa yang akan mau membeli asetnya dalam waktu dekat? Siapa yang akan meminjamkan uang ratusan juta dalam beberapa hari? Bagaimana nasib usaha dan karyawannya?

Saya lalu hanya mengatakan bahwa sesungguhnya sabahat saya ini sedang berhenti di sebuah perempatan karena lampu lalu lintas sedang menyala merah. Ia baru saja menempuh perjalanan panjang dengan mengendarai mobil mewah sambil bertamasya ke tempat-tempat yang indah. Ketika sampai di perempatan itu, ia harus berhenti dan menetralkan gigi kendaraannya. Ia harus sabar menunggu, sampai lampu kuning dan lampu hijau menyala. 

Begitu pula yang terjadi dengan sahabat saya saat ini. Ia sedang disuruh berhenti di lampu merah. Keterpurukannya telah membuatnya berhenti memacu kemudi. Mobilnya harus dinetralkan agar tidak lari. Kalau saja ia tidak bertemu perempatan, mungkin ia akan melaju terus dengan kencang. Mungkin saja ia bisa mengalami kecelakaan yang lebih fatal daripada sekedar terpuruk usahanya. Mungkin saja ia jatuh ke dalam kesombongan dan keserakahan sebagai pengusaha.

Lampu merah mungkin dijadikan Tuhan sebagai pralambang kalau ia harus berhenti sejenak. Meskipun pemberhentian sementara ini menyakitkan dan membuatnya menderita. Tapi lampu merah toh tidak akan menyala terus, kecuali sedang konslet. Pasti akan ada saatnya lampu hijau menyala yang membuat mobilnya harus berjalan kembali. Jadi titik nadir di lampu merah ini hanya sebuah penantian beberapa saat sebelum Tuhan memberinya lampu hijau untuk bergerak kembali menyusuri jalan kehidupan. Alhamdulillah, dengan perumpamaan lampu merah ini sahabat saya merasa mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Semoga segera teratasi. ***(Leo Wahyudi S)

Photo credit: jawapos.com 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: