Inspiration

YIN YANG

Saya dari dulu selalu senang dengan konsep harmoni dalam simbol Yin dan Yang. Konsep ini digambarkan dengan bentuk bola terbagi dua, putih dan hitam. Di antara yang putih, Yang, masih ada yang hitam. Di antara yang hitam, Yin, ada yang putih. Konsep Yin dan Yang lahir kira-kira pada abad ke-6 Sebelum Masehi di Tiongkok.

Falsafah ini menggambarkan dua sifat Yin dan Yang yang saling berlawanan, tetapi tidak bisa berdiri sendiri dan bahkan saling melengkapi. Konon secara harafiah Yin yang gelap itu dimaknai sebagai sesuatu yang pasif, feminin, dingin dan negatif. Sedangkan Yang berupa cahaya terang, putih, aktif, laki-laki, dan positif. Konsep ini tidak berarti diskriminatif dan bias gender. Falsafah Tiongkok ini memiliki kekuatan untuk menciptakan sebuah harmoni dan keseimbangan yang saling melengkapi.

Membawa konsep Yin dan Yang dalam alam berpikir membuat saya harus hati-hati dalam menilai orang. Apalagi menghakimi. Hal ini sangat terasa ketika saya bertemu sahabat lama. Dia seorang pensiunan penjudi kelas wahid. Menghabiskan waktu sehari sampai seminggu duduk bersila untuk bermain kartu sudah jadi makanan sehari-hari. Tak terbilang perputaran uang yang dimainkan dalam judi kala itu.

Saya penasaran dengan gaya hidup para penjudi kelas kampung seperti dia. Saya kagum dengan ketahanannya untuk duduk tak beringsut dari kalangan penjudi selama puluhan jam. “Kekuatan harapan untuk mendapatkan kemenangan dan bau uang di depan mata, itu yang membuat saya betah,” katanya. Harapan akan kemenangan, itulah spirit yang membuat para penjudi tidak pernah kapok. Padahal kenyataannya banyak mengalami kekalahan dan kebangkrutan. Tapi, kembali lagi, semangat dan harapan untuk menang itulah yang membuatnya kembali ke arena judi.

Saya tidak sedang mengagumi judi sebagai profesi. Toh ayah saya dulu juga main penjudi kelas kakap. Tetapi di balik nafsu serakah, harapan untuk selalu menang, dan spekulasi-spekulasi yang berani itu membuat judi ada sisi-sisi yang dapat dipelajari sebagai pelajaran hidup. Tetapi, sisi jeleknya juga banyak. Egoisme mau menang sendiri dan enak sendiri tanpa memikirkan orang lain dan keluarga itu juga menjadi batu sandungan dan senjata penghancur tatanan hidup keluarga dan masyarakat.

Melihat teman saya yang mantan penjudi, saya masih melihat falsafah hidup yang positif. Ada titik putih dalam Yin yang gelap. Dia sekarang lebih ulet dalam menggeluti naik turunnya hidup. Hidup kadang menang, kadang di atas. Tapi di kali lain, hidup berada di titik terendah dan kalah. Semua disikapi dengan wajar dengan falsafah judi yang pernah ia alami. Harapan untuk memenangkan pertandingan hidup tetap membuatnya tersenyum dan selalu berharap akan kebaikan.

Dengan falsafah Yin dan Yang membuat saya lebih berhati-hati dalam menilai orang. Orang yang kelihatannya suci, mulus, bersih, taat beragama seperti gambaran Yang, ternyata masih ada titik hitamnya. Ia ternyata pernah selingkuh, memiliki dendam kesumat, merasa paling benar dan suci, pembencinya banyak, tukang fitnah di kantor. Sebaliknya, ada orang yang kelihatannya jahat dan gelap, namun hatinya penuh kelembutan, perhatian pada keluarga, murah hati, suka berbagi, rendah hati. Ada titik putih dalam Yin yang gelap.

Ketika kita sombong dan merasa tinggi dibanding orang lain, kita cenderung akan menghakimi orang sesuai kesombongan kita. Ini sama saja menghapus titik putih dan titik hitam harmoni dalam konsep Yin dan Yang. Hitam dan putih saling berlawanan, tetapi saling melengkapi untuk menciptakan sebuah harmoni kehidupan.*** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: indozone.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: