Inspiration

GERBANG SURGA

Dalam kehidupan bermasyarakat, bertetangga, berteman atau bersama orang lain, kita pasti akan menjumpai beragam karakter manusia. Ada orang yang berkarakter menyenangkan, hangat, ramah, murah senyum, ringan tangan kepada siapapun tanpa pernah membedakan status sosial, suku, agama. Ada pula yang berkarakter menyebalkan, pembuat onar, pongah, congkak, munafik, penuh iri dan dengki. Saya tidak sedang menghakimi teman, tetangga, atau bahkan keluarga. Kesan itu muncul dengan sendirinya ketika kita berinteraksi dengan orang lain. 

Kita amati saja apa yang terjadi akhir-akhir ini. Ada banyak sekali orang yang berbangga serta menyombongkan diri dengan penguasaan agamanya (bukan pemaknaan ajaran agama). Anggaplah itu kita sendiri. Lalu kita merasa paling pintar, paling benar. Kita pandai menghakimi dan memilahkan orang yang beragama sama dan yang tidak sama. Muncullah label-label terhadap orang, binatang, tanah, bangunan, pakaian, bahkan kuburan. Semua diklaim berdasarkan agama. Penguasaan kita terhadap agama menjadikan kita seolah penguasa tunggal agama. Kita sedang dimabukkan oleh penguasaan agama. Kita tiba-tiba menjadi ahli surga dan neraka. Alih-alih menyampaikan penguasaan agama, kita bahkan bisa mendikte Tuhan tentang baik dan buruk, dosa dan kesucian, pahala dan hukuman. Kita dengan pongah menggembor-gemborkan ajaran agama. Tetapi lupa menggarisbawahi bahwa salah satu inti ajaran agama adalah memaknai cinta kepada manusia dan cinta kepada Tuhan dengan sepenuh hati, akal, dan budi dalam setiap peristiwa hidup sehari-hari. 

Saya tertampar ketika saya temukan sebuah kalimat indah dari Elizabeth Ann Seton. Katanya, “Gerbang surga itu sangat rendah, dan hanya orang yang rendah hati yang dapat memasukinya.” Surga dan kerendahan hati menjadi harmoni surgawi. Tamparan itu makin terasa ketika ingat kata-kata mendiang KH Maimun Zubair atau Mbah Moen. Katanya, “Banyak orang pintar tapi tidak benar …. Maka, daripada menjadi orang pintar tapi tidak benar, lebih baik menjadi orang benar meskipun tidak pintar…” Elizabeth dan Mbah Moen mengajarkan betapa surga sesungguhnya bersaudara dekat dengan kebenaran dan kerendahan hati.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan orang-orang congkak yang dagunya selalu terangkat sambil berkacak pinggang merendahkan orang lain. Selalu merasa paling benar dan paling suci. Mungkin orang-orang tinggi hati dan congkak demikian sepertinya akan kesulitan memasuki gerbang surga. Ketika berjalan menuju gerbang surga, bisa saja kepalanya terantuk bagian atas gerbang dan benjol. Atau, bisa saja mereka tersandung dan jatuh, karena dagunya yang tegak dan muka yang mendongak tidak melihat batu yang menghalangi langkahnya. Kalaupun tidak jatuh, hatinya yang tinggi nan pongah akan membentur gerbang surga yang rendah itu. Paling si sombong itu akan mengumpat dan menyalahkan gerbang surga yang terlalu rendah. 

Hanya yang saya takutkan, kalau si pongah itu banyak akal. Ia tiarap dan merangkak, agar ia bisa masuk gerbang surga yang rendah itu. Semoga saja, malaikat penjaga di balik gerbang surga tahu kalau yang menerobos gerbang itu masih terlalu tinggi hatinya karena kebenaran mutlak yang hanya dimilikinya. Mungkin malaikat akan menendang kita atau mereka ke luar gerbang lagi sambil berkata, “Kamu keluar dulu sana. Belajar dulu yang benar, bagaimana merendahkan hati, baru masuk gerbang ini.” *** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: beliefnet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: