Inspiration

IMAN, IMUN, IMIN

Wabah virus corona atau COVID-19 masih bertengger di posisi teratas pemberitaan dunia. Dalam tatanan sosial dan masyarakat isu ini juga tetap menjadi isu hangat yang menimbulkan beragam sikap dan tanggapan. Ada yang pro, ada yang kontra, ada yang lebay dan parno (bersikap paranoid, melebih-lebihkan agar menakutkan), ada yang menggorengnya dengan isu politik dan agama, dan ada pula yang menangguk untung. Namun tak sedikit pula yang masih rasional dan tenang menghadapi wabah virus corona ini.

Data termutakhir per Minggu, 8 Maret 2020, sudah ada 105.837 kasus virus corona di 90 negara di dunia. Kasus tertinggi tetap di China, kemudian Korea Selatan, Italia, Iran, Perancis, dan Jerman (Kompas, 8/3/2020). Sudah ada 58.367 orang yang terjangkit. Namun dari angka tersebut, dilaporkan tingkat kesembuhan sudah lebih dari 50 persen. Artinya, wabah virus corona tidak se-mematikan dan se-mengerikan seperti yang digembar-gemborkan selama ini. Angka harapan hidup semakin tinggi. Semakin banyak ahli yang bekerja tanpa lelah mencari obat penangkalnya.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI melaporkan 158 laporan isu hoaks sampai 3 Maret 2020 yang teridentifikasi dari semua kanal berita daring, media sosial. Hoaks menjadi populer dengan wabah virus corona ini. Sifat hoaks bisa dikategorikan menjadi minsinformasi atau disinformasi. Misinformasi adalah kabar bohong yang menyesatkan karena memelintirkan fakta dari narasi atau berita yang sebenarnya. Bahkan narasi bohong ini yang akhirnya menyebar tanpa sengaja. Sedangkan disinformasi merupakan kabar palsu yang benar-benar bohong, mengada-ada dan tidak masuk akal, tanpa ada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Tapi kenyataan pada hari-hari terakhir, rasanya sulit untuk membedakan antara misinformasi dan disinformasi. Hanya satu yang kita tahu, yaitu hoaks. Padahal, mungkin saja ada yang benar-benar informasi.

Terkait wabah corona ini, saya tersentuh dengan kotbah seorang Romo pada Sabtu lalu. Ia menghimbau semua umat dan warga agar menyikapi wabah corona ini dengan berpegang pada iman dan imun. Dengan iman kita meyakini bahwa semua yang terjadi berasal dari Tuhan dan harus disikapi dengan iman mendalam bahwa Tuhan selalu mendampingi di setiap jalan hidup kita. Saat kita jatuh atau sakit Tuhan akan memberikan kekuatan. Jangan hanya memanggil-manggil namaNya hanya saat kita berada dalam kesusahan. Sementara saat bersuka cita, kita tidak ingin suka cita itu cepat berlalu. Tapi yang sering terjadi, kita cenderung melupakan Tuhan ketika kita bergembira. Hanya saat menderita, rasanya kita lalu mendekat dan memanggil-manggil namaNya agar menyingkirkan segala derita. Intinya dengan iman, kita akan dapat menghadapi isu virus corona dengan rasional, tenang dan tetap yakin akan kebaikan Tuhan.

Selain iman, kita juga harus punya imun. Maksudnya, kita harus memraktikkan gaya hidup sehat. Menjaga kondisi tubuh, makan yang sehat, istirahat cukup, berpikiran positif akan membantu daya ketahanan tubuh terhadap penyakit. Itulah imun yang dimaksud. Tanpa mengesampingkan virus corona, toh kita sudah terbiasa hidup dengan virus influenza. Tubuh kita sudah terlatih dan memiliki ketahanan. Imun kita sudah terbentuk sehingga tidak rentan terhadap penyakit.  

Sementara ‘imin’, ini istilah yang saya buat sendiri. Setelah memiliki iman dan imun, kita jangan merusaknya dengan ‘imin’. Istilah ini saya gunakan untuk merepresentasikan nafsu dan tindakan negatif yang merusak iman dan imun kita. Jangan gegara isu virus corona, kita lalu menjadi bersikap lebay dan parno dengan memborong atau menjual makanan atau masker yang kelewat wajar. Gegara virus corona, kita lalu gampang curiga kepada orang lain atau tetangga. Kita tidak mau lagi berjabat tangan atau bertegur sapa. Gegara corona, kita lalu menjadi rasis dan diskriminatif terhadap suku atau ras tertentu. Gegara virus corona, kita lalu menjadi bersumbu pendek dengan menyalahkan atau menghakimi orang lain. Lalu jari-jari kita gatal untuk menyebar dan menebar ketakutan melalui media sosial.

Kalau dibiarkan, virus yang lebih membahayakan daripada virus corona adalah virus ketakutan berlebihan sehingga orang bersikap tidak rasional. Teror ini jauh lebih dahsyat daripada terorisme dengan kekerasan. Saya hanya menyarankan supaya kita jangan membesarkan ‘imin’ agar tidak merusak ketahanan iman dan ‘imun’ kita. Dengan iman dan ‘imun’, niscaya wabah corona akan berlalu. Kita tetap sehat dan kuat. Akal dan rasio kita pun selalu sehat.***(Leo Wahyudi S)

Photo credit: marketingtribune.nl

2 thoughts on “Inspiration

Add yours

  1. Dalam hal aqidah, iman sangatlah penting dalam menentukan fitrah pola pikir manusia yang dalam tulisan ini anda bentengi dengan istilah imin.
    Kalau kertas didekatkan dengan api kemudian terbakar, setelah itu seseorang membuat kesimpulan bahwa yang membakar kertas itu api, maka bisa dikatakan bahwa orang itu harus belajar lagi tentang aqidah.
    Memang cukup berat, tapi saya kira momen corona ini bisa kita jadikan sebagai ajang untuk memperkuat aqidah kita.
    Tulisan yang sangat menarik, semoga selain iman dan imun, kita semua juga punya imin.

    Liked by 1 person

    1. Terima kasih Pak Ridwan…komentar yang berbobot dan penuh makna. Saya sepakat bahwa momen ini bisa mendorong kita untuk mempertebal aqidah sehingga iman makin menguat..sampai akhirnya, setelah iman, imun, ditutup dengan amin…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: