Inspiration

SUKA DAN CINTA ITU BEDA

Suatu hari seorang murid bertanya pada Sang Buddha. “Apa bedanya “saya suka kamu” dan “saya mencintaimu”? Buddha pun menjawab, “Ketika kau menyukai bunga,  kau hanya memetiknya. Tapi, kalau kau mencintai sekuntum bunga,  kau akan menyiraminya setiap hari. Barangsiapa memahami hal ini akan memahami kehidupan.”

Dalam kehidupan, s​ering kali kita terjebak dalam hasrat untuk memetik. Dalam pekerjaan, kita menginginkan kesuksesan yang instan dan pengakuan yang wah, namun enggan bergelut dengan proses yang kadang tidak mudah dan tak sesuai harapan. Dalam studi, kita mendamba gelar yang mentereng, namun kerap lupa bahwa ilmu membutuhkan ketelatenan untuk dirawat setiap hari dalam ingatan dan praktik. Memetik memang memberi kepuasan cepat, namun ia sekaligus memutuskan proses kehidupan dari apa yang kita petik. Bunga yang dipetik akan layu dalam vas, sementara bunga yang disiram akan terus bersemi, memberi warna pada taman kita lebih lama.

Dulu saya pernah mewawancarai beberapa penjahat. Dari mereka saya tahu modus kejahatan yang mereka lakukan. Untuk begal atau maling motor, mereka punya istilah memetik dan pemetik. Yang memetik adalah maling motor yang membegal korbannya. Pemetik adalah tukang tadah yang sudah siap membeli motor curian. Mereka memetik karena ingin mendapat uang instan lewat kejahatannya.

​Dalam relasi dengan pasangan atau keluarga, prinsip ini menjadi pijakan yang sangat penting. Kita harus belajar membedakan antara menyukai dan mencintai. Menyukai saja tidak cukup. Tapi, mencintai pasangan bukan berarti mencoba mengubahnya agar sesuai dengan selera kita. Ini sama saja seperti memangkas kelopak bunga agar terlihat cantik di mata sendiri. Mencintai adalah tentang proses menyiram, memberikan perhatian kecil yang konsisten, mendengarkan cerita yang mungkin sudah pernah didengar sebelumnya, dan hadir saat pasangan merasa sendirian. 

Kita sering lupa bahwa rumah tangga atau persahabatan yang kuat tidak dibangun dari peristiwa-peristiwa besar yang meledak, melainkan dari embun-embun perhatian yang menetes setiap pagi tanpa suara. Tanpa terasa, embun meskipun hanya sedikit namun titik demi titik embun itu ternyata makin menyuburkan sebuah relasi yang penuh cinta. 

​Memahami kehidupan berarti menyadari bahwa segala sesuatu yang berharga menuntut pemeliharaan, bukan sekadar kepemilikan. Ketika kita beralih dari mentalitas pemetik menjadi penyiram, kita sedang menyelaraskan diri dengan irama semesta yang tumbuh perlahan. Kita tidak lagi sekedar menyukai, tapi mencintai. Kita tidak lagi menuntut hasil yang instan, melainkan menikmati setiap proses usaha yang kita lakukan. 

Pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak ditemukan pada apa yang berhasil kita kumpulkan di tangan, melainkan pada apa yang berhasil kita tumbuhkan dengan hati. Mari kita mulai melihat sekeliling kita hari ini, mana yang selama ini hanya kita petik dan mana yang mulai saat ini ingin kita siram dengan penuh kesabaran dan kesadaran. Dari sini kita akan memahami makna menyukai dan mencintai kehidupan. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑