Inspiration

Tali Sepatu

Suatu ketika saya menghampiri seorang teman yang suka olahraga. Kebetulan sore itu ia sedang bersiap untuk berolahraga. Lengkap dengan kostum dan peralatannya yang rata-rata impor teman saya menampilkan sosok seorang olahragawan sejati.

Namun di balik penampilannyayang gagah, ada sebuah raut muka galau. “Kau tidak secerah biasanya, ada masalah apa? Mukamu galau begitu,” saya bertanya sekenanya.

Setelah diam beberapa lama, ia mau juga berbagi cerita. “Aku pusing. Liburan panjang kemarin membuatku bimbang gegara ketemu mantan,” jelasnya datar. Ternyata CLBK, cinta lama bersemi kembali, yang menjadi sumber kegalauannya.

Di satu sisi, bisa dimengerti kalau hatinya goyah. Hubungannya dulu kandas gegara tidak mendapat restu dari orang tuanya. Padahal beberapa tahun mereka berpacaran. Teman saya sulit melupakan kenangan indah bersama mantannya. Ia bisa lepas dari dunia hitam dan narkoba berkat mantannya itu dulu. Sayang, teman saya akhirnya dicampakkan begitu saja karena mantannya harus menikah dengan pria pilihan orangtuanya.

Kini sakitnya terkuak lagi. Meski sedikit terobati, namun tetap pertemuan itu tak menghilangkan rasa nyeri yang telah terpendam bertahun-tahun.

Pertemuan saat Liburan ini menjadi agak ruwet karena status mereka sudah berbeda. Masing-masing telah memiliki pasangan hidup dan anak. Tapi perselingkuhan sesaat itu terjadi karena masing-masing masih menyimpan hati sekaligus sesal. Ditambah lagi keduanya tak mengalami keharmonisan dengan pasangan mereka masing-masing. Jadilah ini alibi yang mengamini perselingkuhan sesaat mereka.

“Menurutmu aku harus bagaimana menyikapi ini, Mas. Aku sulit menghilangkan rasa itu?” tanya teman saya.

“Lihat sepatu mahalmu itu. Kamu bisa belajar dari sepatumu,” saya jawab sekenanya.

“Sepatumu diciptakan berlainan, meskipun senada. Satu hanya pas untuk kaki kiri, dan yang satu hanya pas untuk dipakai di kaki kanan. Ketika terbalik, kamu pasti tak akan nyaman mengenakannya. Kalau kamu memaksakannya paling orang akan bilang kamu gila.

Sekarang aku lihat kaki kanan dan kirimu sudah mengenakan sepatu itu dengan nyaman. Tapi, mengapa tali sepatu kanan dan kirimu kau lilitkan satu sama lain? Bahkan lilitan itu kelihatan kuat dan sulit dibuka. Dengan tali sepatu kanan dan kiri terlilit itu pasti kamu akan susah berjalan. Seandainya bisa melangkah pun, kamu akan mudah jatuh gegara simpul mati tali sepatu kanan dan kirimu. Coba saja kalau kau mau.

Menurutku, solusi terbaik adakah memotong simpul mati tali sepatumu, lalu buang simpul mati itu. Lalu dengan tali yang tersisa, ikatlah tali sepatumu dengan benar. Baru kau akan bisa berjalan dengan normal dan nyaman dengan sepatu mahalmu itu. Meskipun talinya kutung sedikit, toh tidak mengurangi fungsi sepatumu. Paham?”

Teman saya melongo, membayangkan tali sepatu kutung. Tapi ia masih bisa berlari kian kemari kemanapun kaki melangkah. “Love is only true when it encourages complete freedom,” saya masih sempat mengatakannya sebelum saya masuk ke lapangan untuk menjemput bola. Entah dia tahu atau tidak artinya.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: