Inspiration

BUNGA TERATAI DI KOLAM KOTOR

Setiap kali saya melihat bunga teratai saya selalu tertarik untuk memperhatikan dan memotretnya. Komposisi dan kelopak bunganya selalu unik sehingga saya tak pernah bosan untuk mengabadikannya. Saya juga baru sadar kalau bunga teratai tidak selalu tumbuh di air bening, tapi tengah kolam yang keruh. Di bawah permukaan, akarnya mungkin menyentuh lumpur yang pekat dan berbau, namun di atas sana, mahkotanya tetap bersih, mekar dengan warna yang cerah seolah tak terganggu oleh lingkungan di bawahnya. Teratai tidak mencoba menjernihkan seluruh kolam untuk bisa tumbuh cantik. Ia hanya memastikan bahwa dirinya tidak menyerap polusi atau air kotor yang ada di sekitarnya menjadi bagian dari jati dirinya. Hasilnya, bunga teratai tetap cantik, meski tumbuh di air keruh. 

Dunia kerja kita sering kali menyerupai kolam itu. Ada hari-hari di mana suasana terasa menyesakkan, penuh dengan gesekan kepentingan, atau mungkin aroma persaingan yang tidak sehat. Konflik adalah keniscayaan selama kita masih bekerja di antara manusia dengan segala isi kepalanya yang berbeda. Entah konflik dengan atasan, bos, kolega, atau bawahan. Selalu ada gesekan. Ketika gesekan itu makin menjadi, sering kali kita terjebak pada keinginan untuk segera pergi dan melarikan diri. Setiap kali riak negatif itu muncul, sontak kita emosi dan pengen segera menyingkir. Kita berpikir bahwa dengan berpindah tempat, atau pekerjaan baru, kita akan menemukan kolam yang benar-benar jernih. Padahal, di tanah mana pun kita berpijak, debu akan selalu ada. Di  air mana pun kita berendam, endapan lumpur selalu ada. 

Masalahnya bukan pada seberapa kotor air yang ada di sekitar kita, melainkan pada seberapa banyak air kotor itu kita biarkan merembes masuk ke dalam kapal kehidupan kita. Saat kita membiarkan kata-kata tajam rekan kerja atau sikap atasan yang tidak adil merusak suasana hati, kita sebenarnya sedang membiarkan air kotor atau debu itu mengotori hati dan pikiran kita. Kita seolah menyerahkan kunci kendali kebahagiaan kita kepada mereka. Kita seolah-olah menyelaraskan frekuensi batin kita dengan kebisingan yang mereka ciptakan. Sudah banyak contohnya. Orang keluar dari pekerjaan karena tidak betah dan tidak tahan dengan suasana kerja, bos atau atasan yang tidak manusiawi di kantor. 

Di tengah situasi semacam ini, kita perlu menyadari bahwa tidak ada orang yang benar-benar bisa memengaruhi kita dengan pikiran negatif mereka kecuali kita mengijinkan. Kita punya kemerdekaan atas hati dan pikiran sendiri. Kalau kita menolak semua racun negatif, kita sedang menutup pintu agar kita tidak masuk ke dalam frekuensi yang sama toksiknya. 

Memutuskan untuk bertahan di tengah lingkungan yang kurang mengenakkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah bentuk kemerdekaan dan kemandirian emosional. Jangan biarkan emosi sesaat menjadi alasan yang memaksa kita untuk melepaskan pekerjaan yang mungkin sebenarnya menjadi jembatan menuju mimpi-mimpi besar kita, anak-anak, atau keluarga kita. 

Kita harus menetapkan sendiri frekuensi diri kita melalui pikiran dan perasaan. Semakin baik perasaan kita, semakin tinggi frekuensi positif kita di mana pun kita berada. Semakin tinggi pula pikiran-pikiran yang bisa kita akses. Kita harus meyakini bahwa pikiran-pikiran negatif orang lain tidak bisa menggapai diri kita asalkan kita tidak membiarkannya menguasai hati kita.

Ketika kita mendengar percakapan yang penuh keluhan atau aura negatif di kantor, cobalah untuk tidak menimpali atau menyerapnya. Tarik napas dalam dan katakan pada diri sendiri, “Ini adalah keadaan di luar sana, bukan keadaan di dalam sini. Aku bukan mereka.” Fokuslah pada satu tugas kecil yang paling bermanfaat bagi pertumbuhan kita, dan selesaikan dengan penuh kesadaran. Dengan tetap selaras pada ketenangan batin, kita akan menyadari bahwa kita punya kuasa penuh untuk tetap mekar seperti bunga teratai yang indah, tak peduli seberapa keruh kolam tempat kita berada saat ini. Sejatinya kita semua punya perisai diri untuk menghadapi lingkungan kerja yang toksik. Ingatlah selalu bunga teratai. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑