Inspiration

STOP BERPIKIR POSITIF

Pernahkah Anda berdiri di tepi kolam yang beriak dan mencoba menenangkan riak air dengan tangan Anda? Alih-alih menjadi tenang, sapuan tangan kita justru menciptakan gelombang-gelombang baru yang semakin gaduh. Kadang begitulah cara kita mempraktikkan berpikir positif untuk menangkal situasi yang negatif. Kita memaksa pikiran untuk tetap tenang yang memoles wajah dengan senyum padahal hati sedang mendung. Kita lalu merapal afirmasi positif dengan nada suara yang sebenarnya tidak menyembuhkan, tapi hanya menyembunyikan kecemasan, kagalauan, kesedihan, kekecewaan.

Berpikir positif itu tidak salah, dan justru dianjurkan agar hidup kita menebar aura positif. Namun, dalam praktiknya kita sering terjebak dalam kelelahan karena terus mencoba menjadi positif di pikiran. Kita berusaha keras untuk melawan rasa dan fakta negatif dengan menyuntikkan pikiran positif. Sementara akar persoalan tetap berada dalam frekuensi negatif. Kesadaran kita tetap berada dalam suasana negatif, penuh kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, kesedihan. 

Kita merasa bersalah saat sedih, seolah-olah kesedihan adalah racun yang akan menggagalkan masa depan. Kita merasa gagal karena tidak bisa berpikir positif. Padahal, berpikir positif yang dipaksakan hanyalah upaya kita untuk melawan, mengingkari dan menutupi luka dengan plester warna-warni. Di bawah plester itu, luka tetap ada dan berdenyut. 

Sejatinya, semesta tidak merespons kata-kata yang kita ucapkan di permukaan, melainkan getaran kesadaran yang ada jauh di dalam lubuk hati. Getaran kesadaran itu melampaui pikiran positif. Getaran kesadaran itu yang jauh lebih penting untuk dibangun. Percuma kita berpikir positif, tapi rasa dan hati masih terkungkung oleh kecemasan dan ketakutan. 

Ada perbedaan mendasar antara mencoba positif dan menjadi pasti. Saat kita menanti matahari terbit. kita tidak perlu berteriak meyakinkan diri bahwa matahari akan muncul. Kita tidak perlu melakukan afirmasi 100 kali sehari agar fajar tiba. Kita hanya menunggu dengan sebuah kepastian. Itulah Hukum Asumsi. Artinya, apa pun yang kita asumsikan sebagai kebenaran dengan perasaan akan terwujud dalam realitas fisik. Dengan hukum asumsi kita bertindak, berpikir, dan merasakan seolah-olah keinginan dan impian kita sudah terwujud sekarang. Dalam hukum asumsi, kita tidak memohon untuk mendapatkannya nanti di masa depan. Tapi diasumsikan keinginan itu sudah terjadi saat ini dalam kesadaran, meskipun secara realitas belum terjadi. 

Mulai sekarang harus dibedakan antara berpikir positif dan berasumsi tentang kepastian. Kepastian bukan negatif atau positif. Kepastian melampau kedua kutub itu. Kita merasa pasti meskipun belum melihat bukti. Kepastian itu keyakinan teguh meskipun ditentang dan dicibir. Sementara pikiran positif hanya berupa harapan. Pikiran positif berkata, “Semoga ini berhasil. Aku berusaha yakin. Aku hanya berfokus pada yang baik.” Sebaliknya, keyakinan yang pasti berkata, “Semua sudah terjadi seperti yang kuharapkan. Tak ada yang harus diharapkan, karena sudah terwujud.” Pikiran positif itu butuh usaha, butuh harapan, melihat angan-angan ke depan. Keyakinan yang pasti hanya butuh ketenangan dan kepasrahan pada fakta saat ini dalam kesadaran diri bahwa semua sudah terwujud saat ini.  

Saat kita menginginkan sesuatu, tugas kita bukanlah memaksa dunia fisik untuk berubah, melainkan meyakini di dalam kesadaran bahwa hal itu sudah menjadi milik kita. Kesadaran adalah satu-satunya realitas kreatif. Dunia luar hanyalah bayangan yang mengikuti. Ketika kita merasa cemas akan kekurangan, akuilah rasa itu tanpa perlu melawannya dengan pikiran positif. Namun, kita harus kembali pada pijakan batin kita yang yakin bahwa dalam dimensi kesadaran, impian kita itu sudah terjadi dan terwujud. Kita tidak lagi berharap, karena kita sudah tahu dan yakin sepenuh hati.

Mari kita berhenti sejenak untuk kembali pada kesadaran diri. Berhenti dari keletihan menjadi positif dan mulai belajar untuk menjadi pasti dengan keyakinan utuh. Kepastian tidak membutuhkan drama atau energi yang meluap-luap. Ia teduh, tenang, diam, pasrah, tapi ampuh kekuatannya. Seperti pohon yang yakin akan datangnya musim semi, ia tetap kokoh meski daunnya berguguran di musim gugur. Karena pohon itu tahu, kehidupan di dalamnya tidak pernah benar-benar hilang.

Pikiran positif saja tak akan mengubah realitas. Tapi asumsi dengan keyakinan teguh akan mewujudkan apa yang kita pikirkan dan impikan. Mulai sekarang, daripada berkata, “Mudah-mudahan ini terkabul”, lebih baik kita katakan, “Semua sudah terwujud dan terjadi dalam pikiran dan kesadaranku.” Daripada berkata, “Saya ingin kaya, saya ingin sehat, saya ingin bahagia”, lebih baik katakan, “Saya berkelimpahan, semua sel tubuh saya sehat, dan saya selalu bahagia. Sayalah kelimpahan, sayalah kesehatan, dan sayalah kebahagiaan.” Lepaskan harapan itu, jangan diingat-ingat, lalu kita melanjutkan aktivitas dengan perasaan tenang dan santai, seolah-olah semua sudah menjadi realitas. Selamat mencoba. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑