Ketika kita dipuji, kita sering berkata, “Ah, nggak juga… Ah, biasa saja… Ah kamu berlebihan, aku tidak begitu kali… “. Alih-alih ingin rendah hati, kita sebenarnya merasa tersanjung dalam hati. Mending kita mengucapkan terima kasih. Itu sudah cukup. Kadang kita malu mengakui kelebihan diri dengan alasan tidak ingin tinggi hati.
Begitu pula saat dicaci atau dikritik, kita langsung bereaksi keras, entah tersinggung, marah, kesal, atau bahkan frustrasi, stres, patah semangat. Ini reaksi manusiawi dan alami. Tapi kalau kita dicaci dan dikritik kita bisa mengucapkan terima kasih dengan tulus, ini baru pribadi dan reaksi yang hebat, meskipun faktanya tidak semudah itu.
Gambaran keteguhan dan kematangan hati seseorang itu seperti membayangkan sebuah atap rumah di bawah guyuran hujan. Dengan kualitas genting yang bagus, air hujan hanya akan mengalir melewati permukaannya, memberi kesejukan tanpa meninggalkan bekas di dalam rumah. Namun, jika ada satu bagian yang retak atau rapuh, air itu akan meresap, menetes dan bahkan menciptakan noda di langit-langit. Tetesan air itu perlahan merusak ketenangan penghuninya. Begitulah gambaran hati kita saat berhadapan dengan kata-kata pujian atau cacian.
Kita sering kali merasa senang saat dipuji. Ini hal yang manusiawi. Apresiasi dan pujian adalah nutrisi bagi jiwa. Namun, jika kita merasa seolah melayang, besar kepala, mabuk kepayang, atau mendadak merasa lebih tinggi dari orang lain saat sanjungan datang, dari sanalah permasalahan muncul. Itu ibarat genting yang mulai retak. Hati yang terlalu haus akan pujian sebenarnya sedang menunjukkan kerapuhannya. Ia sangat bergantung pada validasi eksternal untuk merasa berharga dan bermartabat. Saat pujian itu hilang, kita akan merasa kering dan kehilangan arah.
Di sisi lain, reaksi kita terhadap kritik atau nasihat sering kali menjadi cermin yang paling jujur. Kritik terasa menyakitkan. Ini reaksi manusiawi dari perasaan. Tapi jika kita langsung tersinggung, membangun benteng pertahanan, atau bahkan menyerang balik, itu adalah tanda bahwa hati kita sedang dalam kondisi lemah. Hati yang kokoh justru melihat kritik dan nasihat seperti embun pagi. Embun itu mungkin terasa dingin dan mengejutkan pada awalnya, namun ia adalah cairan yang membasuh debu-debu kesombongan agar kita bisa melihat dunia dengan lebih jernih.
Kapasitas dan harga diri kita tidak terletak pada seberapa hebat orang lain menilai kita, melainkan pada seberapa selaras kita dengan kebenaran di dalam diri. Hati yang kuat adalah hati yang tetap tenang dalam hening, tidak terguncang oleh tepuk tangan, dan tidak luluh lantak oleh kritik. Kita bisa belajar untuk memosisikan diri bukan sebagai orang yang selalu menuntut pengakuan, validasi, rekognisi. Kita bisa menjadi pembelajar abadi yang senantiasa mencari pijakan untuk terus bertumbuh. Ketika kita mampu menerima pujian dengan tunduk dan menyambut nasihat dengan lapang, di sanalah kita menemukan kedamaian yang sejati. Hati kita tidak goyah oleh pujian dan cacian. Dari sanalah kematangan kita makin bertumbuh dan nyaman dengan diri sendiri. Toh cacian dan pujian tak akan memengaruhi diri kita sejati. Pujian tak membuat kita melambung dan cacian tak membuat kita tersinggung. ***

Leave a comment