Siapa sih yang tidak mau jadi orang kaya? Semua pasti punya mimpi dan ambisi untuk menjadi kaya, sekecil apa pun keinginan itu. Hari ini kita makin banyak melihat fenomena kehidupan nyata. Demi mengejar kekayaan orang juga rela mengorbankan segala hal demi ambisi tentang kekayaan. Halal atau haram, legal atau ilegal, benar atau salah, sudah bukan pertimbangan penting. Aturan dilanggar. Hukum diinjak. Alam dirusak. Pesaing dimatikan. Ambisi menjadi kaya kadang membutakan mata hati dan empati. Manusia kehilangan logika kemanusiaannya demi mimpi untuk jadi orang kaya.
Saya tidak nyinyir pada orang kaya. Tapi, faktanya ada banyak anggapan atau stereotip yang kurang mengenakkan ketika berhubungan dengan orang kaya. Ada anggapan bahwa orang semakin kaya, semakin pelit dan semakin berhitung-hitung kalau untuk beramal. Mereka makin takut kehilangan seiring bertambahnya harta. Hal ini ternyata diperkuat sebuah studi di UC Berkeley 2012 dan University of Toronto 2015. Hasil studi ini sudah lama. Semoga hari ini anggapan itu makin memudar dan mematahkan temuan itu.
Anggapan minor berikutnya, orang semakin kaya semakin hidup berkelimpahan dan mereka semakin tidak peka terhadap orang lain. Ada studi psikologi sosial yang memperkuat anggapan ini. Ketika status sosial ekonomi seseorang meningkat, maka terjadi penurunan kemampuan membaca atau mengerti emosi orang lain. Mereka kehilangan empati karena merasa sudah bisa mandiri, tidak bergantung pada orang lain, sudah mencukupi sendiri. Jadi mereka merasa tidak perlu dan tidak peduli orang lain.
Studi lain juga menemukan kalau orang semakin kaya semakin seenaknya. Mereka bisa mempermainkan dan bahkan melanggar aturan karena dengan uang mereka bisa membeli pembuat aturan. Fenomena ini sering kita lihat di negeri ini. Mentang-mentang kekayaannya sampai langit tingkat tujuh, mereka merasa berhak untuk hidup di atas aturan dan norma. Semua bisa dibeli dengan uang.
Anggapan berikutnya, orang yang kaya cenderung eksklusif, memisahkan dari komunitas umumnya, karena circle-nya hanya orang yang sama kelas sosial ekonominya. Akibatnya, banyak orang kaya yang tidak tahu harga beras, jalur transportasi umum, atau bahkan mengupas salak pun tidak bisa. Lingkaran sosial kelas tinggi membuat hidup mereka terpisah dari kelas sosial umumnya. Kehidupan enak membuat mereka tidak peka sosial.
Terlepas dari anggapan tersebut, masih banyak orang kaya dan super kaya yang tetap dermawan dan sangat berempati pada lingkungan sosialnya. Di Indonesia ini banyak contoh orang-orang kaya yang sangat dermawan dan tinggi empatinya. Jadi anggapan ini tidak lantas berlaku umum.
Saya bermimpi kelak kalau saya diberi kekayaan berlimpah, saya ingin menjadi diri saya yang tidak bisa hidup sendiri. Kekayaan itu bukan lagi sekedar memiliki harta, emas, uang, rumah, mobil, aset yang berlimpah. Tapi kekayaan itu sesungguhnya tentang bagaimana kita punya kebebasan untuk membagikan waktu, kebaikan, dan segala pemberian yang bermanfaat bagi dunia di sekitar saya. Saya sangat terkesan dengan kata orang bijaksana bahwa kekayaan sejati itu tidak terletak pada apa yang kita kumpulkan, tetapi bagaimana kita memperkaya hidup orang lain.
Bahkan ada netizen yang berujar bahwa kesuksesan, kekayaan, kelimpahan itu bukan soal seberapa kuat kita menggenggam dan menyimpan, tapi seberapa lancar, ikhlas, dan tulus untuk mengalirkan segala berkah yang kita terima. Harta dan kekayaan itu bukan milik kita sendiri. Tugas kita adalah mengalirkannya pada orang lain, saudara, sahabat, keluarga, orang lain.
Uang dan harta itu energi yang kekal. Energi itu harus mengalir. Kalau sampai terhenti, maka alirannya mampet dan buntu. Kebuntuan itu menjadi sumber penyakit fisik dan hati. Maka saya percaya bahwa setiap energi yang kita lepaskan atau bagikan tidak akan berkurang. Semesta dan Tuhan akan selalu mengisi kembali ruang kosong energi yang telah kita berikan pada orang lain. Di sanalah kita menjadi orang kaya. ***

Leave a comment