Inspiration

HATI-HATI MEMAAFKAN

Suatu kali ada dua orang yang bersahabat mengalami perseteruan panjang. Awal mulanya adalah masalah utang piutang. Masalah lalu berkembang menjadi soal penghinaan yang membuat salah satu sahabat itu tersinggung. Ketersinggungan itu memperburuk relasi mereka dan permusuhan pun meruncing. Egoisme dan kesombongan menjadi minyak yang senantiasa membakar tungku permusuhan mereka. Api amarah pun makin membesar nyalanya. Lidah apinya menjilat kesana kemari. Panasnya membuat siapapun yang berada di sekelilingnya urung mendekat.

Setelah tenggelam lama dalam suasana perang, salah satu dari kedua orang sahabat itu mulai mendapat pencerahan. Ia ingin mengakhiri permusuhan. Ia ingin memulai rekonsiliasi dan berniat untuk minta maaf demi keutuhan persahabatan. Sahabat satunya lagi mau memaafkan meskipun dengan sederet daftar kesalahan dan persyaratan.

Banyak orang beranggapan bahwa memaafkan adalah melupakan. Melupakan kadang menjadi cara efektif bagi orang yang ingin memberi maaf.  Namun pada saat memaafkan tidak jarang pikiran kita memutar kembali drama kemarahan, ketersinggungan, sakit hati. Ibarat video, kita dengan sengaja menekan tombol replay sebelum meluluskan permohonan maaf. Kadang pada adegan-adegan tertentu kita pause. Kita mengamati dan bahkan menikmati adegan itu dengan seksama. Penggalan adegan itu akan menyedot gelombang emosi dan hormon adrenalin kita. Kita menikmati tontonan dengan penghayatan penuh. Karena kitalah pemain utama adegan tersebut.

Niatan memberi ampun itu masih dipenuhi dengan syarat berdasarkan pengamatan atas penggalan adegan-adegan masa lalu. Kita menimbang-nimbang dulu sebelum memutuskan untuk memberi ampunan. Pengampunan dan maaf diberikan berdasarkan timbangan antara kesalahan dan maaf. Padahal memaafkan bukan jual beli komoditi kesalahan. Timbangan yang dipakai bukan timbangan pedagang yang kadang ukurannya diubah demi keuntungan penjual. Timbangan maaf harusnya lebih berat bobotnya agar jatuh. Sebesar apapun kesalahan, pemaafan harus melebihi bobot kesalahan.

Tidak jarang orang yang sudah kita maafkan merasakan bebannya hilang. Hatinya bersih dan disegarkan kembali. Namun justru orang yang seharusnya memberi ampun selalu membawa-bawa noda kesalahan orang yang sudah minta maaf itu di hatinya. Hatinya masih belum terlepas bebas dari beban kesalahan orang lain di masa lalu.

Mungkin cerita ini layak untuk kita renungkan:

Suatu ketika ada orang yang merasa takut datang pada Tuhan. Dosanya sudah terlalu besar. Ia enggan untuk datang pada undangan Tuhan. Ia malu dan khawatir kemarahan Tuhan akan meledak. Ia takut jangan-jangan Tuhan mengungkit-ungkit dosanya di masa lalu. Ia ingin menjauh. Tuhan lalu menyapa orang itu suatu kali. “Ayo ke tempatku. Kamu datang saja seperti yang lain.”

            “Saya takut, Tuhan. Dosa saya besar sekali. Untuk minta maaf pun saya takut.”

            ‘Kesalahan yang mana? Dosa yang seperti apa? Aku sudah lupa kapan kamu berbuat salah dan kapan kamu menyakiti aku. Aku hanya ingat kamu pernah berurai air mata saat kamu meminta maaf. Dan saat itu aku sudah memaafkanmu. Kenapa kamu ingat-ingat dosamu. Aku saja sudah melupakan semua kesalahanmu,” demikian jawab Tuhan.*** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: echoak.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: