Inspiration

AIR DAN KEPASRAHAN

Seorang pelatih renang sedang melatih para calon atlit perenang indah asuhannya. Para atlit itu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berlatih. Namun kemampuan berenang saja toh tidak cukup untuk menjadi seorang perenang indah. Paling tidak, ia harus juga memiliki rasa kebersamaan, rasa keindahan, rasa memiliki, rasa berbagi, kekompakan, kepekaan terhadap ritme. Tanpa kualitas ini mustahil seorang perenang indah dapat menjadi bagian dari tim yang solid.

Mereka belajar bersama untuk mengambang di air. Hanya telentang mengambang. Tanpa gerakan lain kecuali diam dan terapung. Ternyata latihan itu tidak sesederhana instruksinya. Banyak dari calon atlit itu gagal mengapungkan tubuhnya di permukaan air. Semakin mereka berusaha keras, semakin mereka oleng, dan tubuh pun tenggelam ditelan air kolam. Semakin bernafsu mereka mencoba, semakin cepat pula air menyedotnya masuk.

Melihat pemandangan itu, sang pelatih pun turun ke air. Lalu dengan gerakan yang tenang, tubuhnya pun mulai terlentang. dan mengapung. Ia seolah tidur di kasur air. Matanya terpejam bak orang bersantai. Tenang, tak ada beban. Mengapung lepas. Begitu sesi latihan selesai sang pelatih itu pun keluar dari kolam. Ia kemudian mengumpulkan anak-anak asuhannya di pinggir kolam.  “Kalian gagal, karena tidak memiliki rasa pasrah. Hati kalian tidak tenang. Kalian berusaha tapi penuh ketergesa-gesaan dan kekhawatiran,” kata pelatih itu.

Air itu halus gerakannya. Tapi ia menyimpan kekuatan dahsyat. Ia mengalir tenang, tapi menghanyutkan. Air harus dirangkul dan diakrabi, bukan dilawan. Ketika hati kita tenang maka akan timbul rasa aman. Ketika ada rasa aman, kekhawatiran pun hilang. Ketika kehawatiran sirna, yang ada hanyalah rasa pasrah yang tulus. Ketika kalian tulus berpasrah, air akan menopang badan kalian, dan kalian pun akan mengapung.

“Sedetik saja, kekhawatiran kalian muncul, tubuh kalian tidak akan seimbang lagi. Tubuh kalian akan oleng. Selanjutnya akan terbenam. Saat kepasrahan itu datang lagi, maka tubuh kalian akan terangkat lagi ke permukaan air. Percayalah maka kalian terapung.”

“Sebaliknya, semakin kalian berusaha keras, air semakin menolak tubuh kalian. Semakin bernafsu, semakin kuat pula air menyedot tubuh kalian ke dasar kolam. Ketika kalian meronta, air dengan kekuatannya juga akan memberi perlawanan yang sama,” pelatih itu menjelaskan.

Alam mengajarkan kearifan pada manusia. Hukum alam itu tak bisa ditundukkan oleh hukum manusia. Mari kita belajar tentang kepasrahan tak bersyarat dari air. Dengan kepasrahan total, ada ikatan dan rasa damai antara manusia dan air. Kepasrahan total memerlukan keyakinan kuat atau iman.

Iman juga menuntut bentuk kepasrahan tak bersyarat. Saat berpasrah dan berserah manusia membuat keselarasan dengan alam. Sang Pencipta Alam dan alam ciptaanNya akan menyambut kepasrahan itu dengan tangan terbuka. Selanjutnya tangan-tangan alam akan memberikan topangan yang sebanding dengan rasa pasrah yang kita berikan.

Kalau manusia merusak harmoni itu dengan kekhawatiran, alam pun akan memberi reaksi negatif pula. Tangan-tangan alam takkan memberi topangan pada siapapun yang masih dipenuhi kekhawatiran. Manusia pun akan dibiarkan tenggelam atau terjatuh. Sikap pasrah membawa berkah. Bukannya resah dan gelisah yang mengakibatkan musibah.*** (Leo Wahyudi S)

Photo credit: websiteedukasi.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: