Inspiration

TELEVISI

Suatu hari anak saya mencurahkan isi hatinya. Ia sedang mengalami kekesalan serius di sekolahnya. Ia menjadi sasaran bullying atau perundungan oleh kakak kelasnya gegara urusan OSIS. Kebetulan memang dia menjadi salah satu pengurus OSIS di sekolahnya. 

Menjelang pergantian kepengurusan ini, ternyata dia mengalami perundungan yang sebelumnya jarang ia alami. Ia mengisahkan kalau dalam banyak kesempatan seniornya yang menjadi pengurus OSIS selalu memarahi adik-adik kelas yang yunior hanya karena alasan-alasan sepele. Semua dapat dijadikan alasan bagi seniornya untuk mem-bully. Mulai dari cara kerja, hasil kerja, sikap cuek, tidak mau menegur kakak kelasnya, dan sebagainya. Jadi dia merasa tidak ada yang benar di mata kakak kelasnya, sebenar apapun yang dia kerjakan dalam organisasi. Akibatnya, secara psikologis anak itu merasa terteror setiap kali ketemu kakak kelasnya. Sampai-sampai dia rela untuk tidak makan siang di kantin gegara tidak mau ketemu dengan kakak kelasnya. 

Curhatan anak saya itu akhirnya merembet kemana-mana. Bola curhatnya menjadi liar. Dari urusan OSIS, pertemanan, sampai soal bagaimana guru bersikap dalam mengajar. Semua ditumpahkan seperti senapan mesin yang memuntahkan ratusan peluru per menit. Saya sebagai orang tuanya pun ikut terkena sasaran tembak kejengkelan dan teror psikologis yang sedang dialaminya.

Saya hanya bisa diam dan mendengarkan curhatan dia. Setelah semua kekesalan dia ungkapkan, saya hanya mengatakan, “Kamu suka kan nonton tivi, atau YouTube atau media sosial lain di hapemu? Apakah kamu suka semua channelnya?”

Ngapain ayah nanya-nanya begitu? Apa hubungannya? Kalau aku nggak suka kan tinggal ganti channel apa cari yang lain yang aku suka,” jawab anak saya ketus. Mukanya makin jutek.

“Anggap saja sekarang kamu lagi nonton tivi atau YouTube di sekolah. Nah, kalau acaranya menyebalkan dan membuat kamu jengkel, kenapa ditonton? Kenapa kamu menikmati?” 

Anak itu terdiam. Masih dengan muka cemberut. Saya hanya mengatakan kepada dia bahwa ia berhak untuk merasa bahagia dan senang dengan apa yang ditontonnya. Kalau apa yang dilihat dan ditonton tidak menyenangkan, dia punya hak penuh untuk ‘ganti channel’ yang sesuai dengan hati kita.

Dalam hidup, kita pun sering melakukan hal demikian tanpa disadari. Kita menjadi televisi yang mempertontonkan tayangan sesuai keinginan orang lain yang memegang remote control. Tapi anehnya kita menikmati adegan itu, sekalipun memuakkan dan menjengkelkan.

Hidup dan apa yang terjadi dalam kehidupan itu bagaikan layar televisi atau layar ponsel yang menyuguhkan tontonan dari media sosial. Kita punya kendali penuh atas apa yang kita tonton dan kita alami. Dengan kesadaran, kita seharusnya bisa menjadi remote control atas televisi kehidupan. Kita tidak perlu bereaksi terhadap hal-hal di luar kita sehingga kita lupa bahwa kita bebas menentukan kebahagiaan kita sendiri. “Kita berhak bahagia,” kata teman saya. 

“Jangan pernah biarkan orang lain atau keadaan luar memegang kendali atas kebahagiaan kita. Ketika kesenangan, suka, duka kita masih dikendalikan orang lain, berarti remote control kita dikuasai orang lain. Kalau demikian, kita hanya menjadi siaran televisi yang bisa dipilih sesuka hati orang lain”. Tulisan Mustika Wayan di media sosial ini saya kutip untuk mengingatkan saya sendiri dan anak saya.*** (Leo Wahyudi S).

Photo credit: rukita.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: