Inspiration

MENJADI JAWABAN DOA

Indonesia dikenal sebagai negeri yang religius. Semua diangkat dalam doa. Tak terkira banyaknya orang berdoa di negeri. Apalagi di tengah situasi yang makin penuh sengkarut dan ketidakpastian ini. Kejahatan, korupsi, kesewenang-wenangan, ketidakpedulian, situasi ekonomi dan sosial yang remuk, sedang merajalela dan mungkin kita menjadi salah satu korbannya. Kita lalu merasa menderita dan terdzolimi. Di saat itulah musim doa makin bersemi. 

Orang beragama cenderung banyak berdoa agar dianggap punya agama. Namun, orang yang mengaku religius cenderung selalu meminta dan meminta jawaban doa. Mata hati jadi buta. Telinga jadi tuli. Mulut jadi bisu. Kita hanya fokus meminta dan meminta. Egoisme makin merajalela. Persoalan hidup seolah hanya milik kita sendiri. Seolah nasib baik tak pernah berpihak pada kita. Ketika jawaban doa tak kunjung tiba, kita lalu sibuk menuding orang lain, keadaan dan realitas. Kita sibuk menghakimi karena merasa paling suci dan saleh. Seolah mereka penanggung jawab atas persoalan hidup kita. Termasuk doanya yang tak kunjung dikabulkan. Ujung-ujungnya menyalahkan Tuhannya karena cuek terhadap seruan umatNya. 

Betapa kehidupan religius justru makin membuat hati kita menyempit dan egois. Hidup hanya dipenuhi doa yang penuh permintaan. Tapi lupa bahwa kita juga harus menjadi jawaban doa bagi orang lain. Kita tidak pernah menyadari bahwa kita diberi penugasan oleh Tuhan dan semesta untuk menjadi jawaban atas kepusingan dan persoalan orang lain. Tuhan yang tak kelihatan itu menugaskan kita agar kelihatan sehingga Dia bisa menyapa mereka yang berseru kepadaNya. 

Saya terinspirasi oleh film perang besutan Mel Gibson berjudul “Hacksaw Ridge” pada 2016 yang mengisahkan perang antara Jepang dan Amerika Serikat. Film itu berkisah tentang Prajurit Desmond Doss, tentara medis, yang menjadi penyelamat 75 tentara Amerika terluka. Di saat genting dan nyawa terancam di tengah hujan peluru Desmond masih mengatakan, “Tuhan, beri aku kesempatan sekali lagi untuk menolong yang terluka.” Ia menyelamatkan semua temannya yang terluka sendirian, tanpa memanggul senjata. Desmond menjadi jawaban doa bagi prajurit yang terluka, ketakutan dan putus asa. Ia datang tepat pada waktunya untuk menyelamatkan nyawa yang hampir hilang di ujung bayonet tentara Jepang. 

Saya sering memraktikkan hal ini, meskipun saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menjadi jawaban doa bagi orang lain. Ikuti kata hati saja untuk berbuat baik, peduli, berbagi, mau mendengarkan, merangkul yang tersingkir, menghibur yang susah. Niat kebaikan yang kita lakukan akan membawa kita pada situasi atau orang yang butuh dijamah, disapa, ditemani. Pengalaman saya membuktikan demikian. Tuhan hadir lewat kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun itu.

Yang jelas kita tidak usah berpamrih, sekalipun hanya ucapan terima kasih. Tidak usah berhitung-hitung pahala. Tidak usah berharap balasan. Tidak usah berpikir bahwa kita sedang akting sebagai utusan Tuhan untuk menjawab doa orang lain. Kita menjalani dengan alami saja selayaknya manusia yang ingin berbuat baik untuk semua ciptaanNya, entah manusia, binatang, tumbuhan. Kalau ternyata ada orang yang berkata, “Terima kasih banyak, Mas sudah menjadi jawaban doa saya kemarin”, ini hanya bonus kebetulan saja. Kita melakukan kebaikan berarti kita sedang menjadi jawaban doa orang lain, dan bukan untuk mencari pujian atau pengakuan. Kita hanya meyakini bahwa kita diciptakan oleh Sang Maha Baik sehingga kita pun harus berbuat baik. Cukup itu saja. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑