Inspiration

AGAMA HANYA PINJAM RUANG DI KEPALA 

Beberapa waktu lalu saya melihat tayangan video di medsos yang menggambarkan bagian belakang truk dengan tulisan menggelitik. Bacaannya, “Sebelum belajar tentang agama, belajarlah tentang memanusiakan manusia. Biar kita tidak hanya pandai beribadah, tapi juga pandai menghargai orang lain”. Tulisannya jauh dari artistik. Tapi maknanya sangat menohok bagi orang yang membacanya. Ringan, tapi dalam.  

Banyak orang belajar agama hanya meminjam ruang di kepala, tapi tak pernah turun ke hati. ​Belajar agama hanya agar pintar untuk menghakimi dan merasa paling suci. Sering kali kita terjebak dalam keriuhan untuk memenuhi tempurung kepala dengan berbagai hafalan, dalil, liturgi, dan ritual yang tampak megah dari luar. Kita berlomba-lomba meninggikan menara pemahaman, seolah-olah Tuhan hanya bisa ditemui di puncak kecerdasan logika. Namun, kita tak pernah menyadari bahwa terkadang cahaya yang kita kumpulkan di kepala itu gagal menerangi jalan setapak di bawah kaki kita sendiri? Apalagi turun ke hati dan menjadi cahaya nurani. Kita menjadi begitu fasih berbicara tentang langit, namun lupa bagaimana cara menginjak bumi dengan lembut.

​Agama dalam bentuknya yang paling murni seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan jiwa kita dengan jiwa-jiwa lainnya. Ajaran agama menjadi penghubung antara semua ciptaanNya. Namun, ketika ia hanya dipinjam untuk mengisi ruang di kepala, ia sering kali berubah menjadi dinding yang kaku. Kita menjadi pandai menghakimi, namun gagap, bahkan gagal dalam mengasihi. Kita begitu disiplin dalam sujud dan doa, namun begitu ceroboh dalam menjaga perasaan sesama. Seolah-olah kesalehan bisa berdiri tegak di atas reruntuhan martabat orang lain yang kita lukai dengan keangkuhan spiritual kita.

​Memanusiakan manusia adalah fondasi yang harus diletakkan sebelum kita membangun gedung keagamaan yang megah. Mengasihi dan menghargai semua ciptaan, tak hanya manusia, tapi binatang, tumbuhan, alam menjadi dasar dari semua ajaran agama. Tanpa rasa kemanusiaan dan cinta, agama hanya akan menjadi identitas yang kering. Agama hanyalah sebuah aksesoris yang kita pamerkan untuk merasa lebih baik dan lebih saleh dari orang lain. Padahal, esensi dari setiap ajaran yang luhur adalah tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain, binatang, tumbuhan, dan alam yang ada di sekitar kita. Sikap ini kelihatan dari bagaimana kita berempati dan punya hati pada yang orang lain, bagaimana mendengar tanpa menilai, bagaimana kita melihat luka tanpa mencibir, dan bagaimana kita memberikan ruang bagi orang lain tanpa rasa takut. Di sana ada cinta sebagai sebuah syarat utama sebelum belajar agama.

​Mari kita jujur pada diri sendiri soal agama ini. Apakah deretan ibadah kita sudah melahirkan kelembutan, atau justru memupuk rasa benar sendiri, rasa paling suci, rasa paling benar? Apakah kita beragama sudah melahirkan cinta tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan? Jika pengetahuan kita tentang Tuhan belum mampu membuat kita lebih peka terhadap tangis tetangga atau kegelisahan seorang kawan, mungkin pemahaman agama itu memang baru sebatas mampir di ingatan, belum benar-benar turun dan menetap di kedalaman hati.

​Mari kita bersama belajar untuk menjadi manusia yang utuh terlebih dahulu. Karena hanya di dalam hati yang penuh empati, nilai-nilai ketuhanan bisa tumbuh dengan wajar dan teduh. Ketika kita sudah pandai menghargai setiap napas dan keberadaan manusia atau ciptaan lain, maka ibadah kita tidak lagi menjadi sekedar rutinitas. Ibadah kita menjadi sebuah perayaan cinta yang tulus. Pada akhirnya, ukuran kedekatan kita dengan Sang Pencipta sering kali terpantul dari seberapa hangat cara kita menyapa ciptaan-Nya. Dengan demikian, ajaran agama tidak sekedar mampir di kepala, tapi turun ke hati, lalu naik ke mulut, mata, telinga untuk berbagi cinta pada semua ciptaan. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑