Inspiration

DIET MENGELUH DI SITUASI SULIT

Dunia di sekitar kita hari ini barangkali sedang persis seperti cangkir kopi yang terus-menerus diaduk dengan paksa. Kita sedang hidup di sebuah negeri yang sedang tidak baik-baik saja. Kita melihat, membaca, atau mendengar berita tentang korupsi yang merajalela, etika yang seolah menguap, dan hukum rimba yang membuat kita merasa asing di tanah sendiri. Rasanya sesak dan muak. Secara alami, respons pertama kita adalah berteriak, memprotes, dan mengeluh. Selalu ada saja alasan untuk mengeluh tentang situasi saat ini. Mengeluh terasa seperti penawar instan, sebuah validasi bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.

Namun, mari kita renungkan bersama. Ketika kita mengeluh tentang kegelapan yang pekat, apakah ruangan ini otomatis menjadi terang? Apakah dengan mengeluh tentang korupsi menggila dan para pejabat bobrok mentalnya akan menghilangkan koruptor dan pejabat busuk? Apakah mengeluhkan cuaca yang makin panas akan membuat kita sejuk? Apakah mengeluhkan jalanan yang rusak, begal yang merajalela lalu bisa menambal jalan dan menghentikan para penjahat itu?

Mengeluh itu respons manusiawi yang wajar. Tapi kalau mengeluh secara terus-menerus, tanpa sadar kita sedang memosisikan diri kita sebagai korban. Kita jadi orang lemah yang pasrah ditiup angin ke mana saja. Lalu tanpa kita sadari, kita menjadi magnet bagi hal-hal buruk yang kita keluhkan. Keluhan, sumpah serapah, umpatan, protes itu jadi semacam doa yang selalu diamini. Ketika keluhan itu terkabul seperti yang kita keluhkan, kita merutuk dan makin mengeluh lagi. Kita menciptakan lingkaran setan keluhan yang tak ada ujungnya. 

Mengeluh itu tidak akan merubah apa pun yang ada di luar diri kita. Sehebat dan sekeras apa pun keluhan itu. Ketika kita mengeluh, kita sedang menghabiskan energi hidup untuk sesuatu yang belum tentu bisa kita ubah. Seperti kata bijak, jika kita tidak menyukai sesuatu, maka ubahlah. Jika tangan kita terlampau kecil untuk mengubah keadaan dunia yang makin carut-marut ini, maka hal satu-satunya yang berada penuh dalam kendali kita adalah mengubah sikap kita sendiri. Hanya diri kita sendiri yang bisa berubah. Kita bisa mengubah cara pandang daripada mengucapkan litani atau dzikir keluhan. 

Saat situasi terasa di luar kendali, kita selalu punya tiga pilihan agar kita tetap waras, yaitu tinggalkan situasinya, ubah sebisanya, atau terima dengan lapang dada. Kita adalah manusia, bukan pohon, sehingga punya pilihan untuk meninggalkan atau menghindari situasi yang tidak mengenakkan. Kalau masih ngotot, kita bisa berusaha mengubahnya. Tapi, kalau tidak, lebih baik kita mengubah diri kita dan berdamai dengan diri terhadap situasi.

Di luar ketiga hal itu, termasuk terus mengeluh tanpa henti, adalah sebuah kesia-siaan yang melelahkan jiwa. Kita membuang energi percuma, karena toh tak ada yang bisa kita ubah. Kita tidak bisa memaksa seluruh hutan menjadi taman yang tertib, tetapi kita selalu bisa merawat satu pot bunga kecil di halaman rumah kita sendiri. Ketika moral publik merosot, menjaga kejujuran di dalam rumah kita adalah sebuah tindakan heroik yang senyap. Ketika kita terperosok dalam comberan yang hitam dan bau, kita bisa mencucinya dengan air bersih dan sabun wangi. Kalau terus mengeluh, hal itu hanya akan membuat kulit gatal, mata gelap, hati tumpul, pikiran pun jadi bodoh. 

Saya sedang mencoba membuat tantangan untuk diri sendiri dengan diet mengeluh selama hitungan menit, jam, hari, dan mungkin minggu. Setiap kali saya merasa ingin mengeluhkan situasi negeri, cuaca, atau perilaku orang lain, saya coba untuk berhenti sejenak selama tiga detik, menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba mengalihkan fokus saya untuk melakukan satu hal baik yang berada dalam kendali saya sendiri. Sebagai ganti mengeluh, saya mencoba tersenyum dan mengucapkan terima kasih yang tulus kepada pedagang kecil atau pengemudi ojek yang membantu saya.

Saya yakin, pada akhirnya kedamaian sejati tidak pernah tumbuh dari luar yang tenang, melainkan dari dalam diri yang memilih untuk tenang dan selesai dengan riaknya sendiri. Semua berawal dari diri sendiri yang ingin berubah, bukan dari keinginan untuk mengubah hal-hal di luar diri. Dari situ kita mungkin bisa belajar berhenti mengeluh. Mari kita coba untuk diet mengeluh. Lalu mari kita jaga jernihnya hati, agar kita tidak ikut larut dalam keruhnya situasi. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑