Inspiration

KAYA??

Ciputra yang akrab dipanggil Pak Ci telah pergi menghadap Sang Khalik Rabu 27 November 2019. Namun warisan ajaran dan keutamaan hidupnya tetap akan menjadi kenangan kebajikan yang abadi. Setidaknya itulah kenangan yang saya rasakan ketika beberapa tahun silam saya sempat bertemu dan ngobrol saat makan siang bersama di kantornya. Integritas diri, kejujuran, keterbukaan, jiwa yang pantang menyerah, inovatif dalam menciptakan peluang, kerendahan hati, kesederhanaan adalah sederet kesan yang saya dapatkan. Nilai-nilai ini menjadi budaya perusahaan yang tertanam dalam ratusan perusahaan di kerajaan bisnis Pak Ci.

Budaya perusahaan yang mengakar ini saya buktikan ketika saya berbincang dengan salah  satu direksi di Grup Jaya, induk dari ratusan perusahaan besutan Pak Ci. Sosok ini menjadi presiden direktur, direktur, dan komisaris di banyak perusahaan. Saya hanya membayangkan bahwa beliau memiliki jabatan dan penghasilan fantastis. Saya hanya penasaran dengan kompensasi beliau sebagai komisaris di suatu jaringan media terkemuka di negeri ini.

“Bapak sebagai komisaris di grup media itu pasti menerima kompensasi tahunan yang luar biasa ya, Pak?” iseng saya bertanya. Saya tahu beliau menduduki jabatan komisaris di beberapa perusahaan publik terkemuka.

“Besar atau tidak itu relatif. Tapi katanya sih bisa ratusan juta sampai milyaran,” katanya datar tanpa meninggikan diri, “saya juga tidak pernah mengambil atau merasakan kompensasi atau gaji saya sebagai komisaris. Biar saja dana itu dipakai untuk anak-anak muda supaya menjadi jago olah raga.” Jawaban beliau membuat shock pertama bagi saya. Pak Komisaris ini tidak pernah mengambil sepeser pun haknya untuk dipakai sendiri. Ia justru mewakafkan untuk pengembangan sekolah olah raga di Ragunan, Jakarta.

Ketika saya kejar lagi alasannya, Pak Komisaris ini dengan tersenyum menjawab, “Kalau saya sudah bisa cukup dengan gaji 20 juta rupiah dan bisa hidup, kenapa saya harus mengambil yang ratusan juta. Saya sudah cukup dengan gaji saya.” Jawaban menohok yang memberi shock kedua saya saat itu. Seorang komisaris, presiden direktur, direktur di banyak perusahaan bisa mengatakan “cukup” rasanya sulit diterima akal sehat di kehidupan yang hedonistik jaman ini. Mungkin juga Pak Komisaris bisa menjadi makhluk langka yang tinggal segelintir yang harus dijaga agar tidak punah.

Anak didik Pak Ci ini dengan sadar hanya mengambil secukupnya dari kelimpahan penghasilan dan ketinggian jabatannya. Ia berani mendonasikan haknya demi pendidikan anak muda selama bertahun-tahun. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya di posisi seperti Pak Komisaris itu. Pasti kelakuan saya akan berubah. Berjalan dengan dada membusung, dagu tegak, mata memandang rendah, dan tangan berkacak pinggang. Dompet saya pun tak akan muat di kantong celana saya. Saya pasti tidak mau melihat lagi label harga, karena haram hukumnya bagi orang kaya. Tinggal main telunjuk dan tunjuk, semua bisa terwujud. Itu kalau saya.

Pengalaman dengan Pak Ci dan integritas para direksinya itu membangkitkan memori saya tentang pendakwah kondang yang dijuluki Dai Sejuta Umat, Zainuddin M.Z. yang meninggal pada 2011 silam. Dalam satu ceramahnya beliau mengatakan bahwa sejatinya orang yang paling kaya adalah orang yang pandai bersyukur dan berani mengatakan cukup. Sebaliknya, orang yang paling miskin adalah orang yang tidak pernah bersyukur dan tidak pernah merasa cukup.

Ternyata kaya dan miskin bukan sekedar kuantifikasi harta yang banyak atau sedikit. Tapi kaya dan miskin lebih diukur dari kualifikasi dan sikap hati yang berani mengatakan “cukup”. When enough is enough. Memang ini tidak semudah dan seindah kata-katanya. Perlu sikap batin dan integritas serta seabreg nilai kematangan diri untuk bisa mengatakan ‘cukup’ dalam hidup. Yang sering terjadi adalah mengejar kekayaan dulu sebanyak-banyaknya, baru kemudian mengatakan ‘cukup’. Tapi banyak terjadi proses pengejaran kekayaan itu berlangsung tanpa henti seolah tanpa garis finis. Jadi kata ‘cukup’ masih selalu tertunda. Entah kapan.***(In loving memory of Ciputra, by Leo Wahyudi S)

Photo credit: katadata.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: