Inspiration

BERSYUKUR LEWAT PEKERJAAN

Kawan saya bercerita bahwa ia terinspirasi oleh kolega kantornya yang rajin, penuh dedikasi dan tanggung jawab dalam bekerja. Ia bukan penjilat dan pengejar jabatan. Ia tidak gila hormat. Ia tidak terobsesi oleh posisi. Ia hanya mengerjakan tugas dan kewajibannya sebagai karyawan dengan upaya maksimal. Semuanya dilakukan sebagai ungkapan syukur bahwa dia masih diberi pekerjaan. Orang lain melihatnya sebagai pekerja ambisius dan ngotot, tapi dirinya meyakini bahwa apa yang dilakukannya adalah wujud syukur atas berkah pekerjaan yang ia dapatkan. 

Bekerja keras itu sebagai ungkapan syukur, dan ungkapan syukur itu diwujudkan lewat kerja keras. Ia mencintai pekerjaannya dan mengerjakan semuanya dengan cinta. Fokusnya adalah mengerjakan yang terbaik. Urusan penilaian hasil akhir bukan urusan kita. Toh mau dinilai positif atau negatif, semua sama-sama tidak mengubah jati diri kita. Penilaian, kesempatan, karier, jabatan itu hanya bonus ikutan, bukan tujuan utama. 

​Dalam setiap langkah yang kita ambil, dedikasi bukanlah sekadar kata-kata yang menghiasi dinding motivasi. Ia adalah kesediaan kita untuk tetap menekuni bidang yang ada di hadapan kita, meski rasa bosan mulai mengetuk pintu atau lelah mulai merambati sendi. Keberhasilan memiliki harganya sendiri, dan mata uang yang digunakannya adalah kerja keras yang konsisten. Namun, ada satu hal yang jauh lebih berharga daripada piala atau pengakuan, yaitu rasa syukur dan ketenangan batin saat kita tahu bahwa kita telah memberikan versi terbaik dari diri kita. Mahatma Gandhi pernah bilang, “Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.”

​Kita sering terjebak dalam kecemasan tentang hasil akhir. Kita takut kalah, takut gagal, atau takut usaha kita menjadi sia-sia. Padahal, kemenangan yang sesungguhnya bukan terletak pada apakah kita berdiri di podium tertinggi, melainkan pada keberanian kita untuk tidak memberikan celah bagi penyesalan. Ketika kita telah mencurahkan seluruh kemampuan, keringat, dan doa ke dalam tugas yang sedang dikerjakan, maka kemenangan dan kekalahan hanyalah dua sisi dari keping koin yang sama. Keduanya tetap menjadikan kita pribadi yang lebih utuh.

Kita tahu bahwa berlian sangat mahal karena terbentuk dari karbon yang terkompresi dengan tekanan dan suhu sangat tinggi dari mantel bumi selama milyaran tahun. Batubara terbentuk dari pengubahan bahan organik yang menjadi batuan sedimen selama lebih dari 300 juta tahun. Semua yang berharga berasal dari proses yang sangat lama. Persis seperti barang antik yang mahal harganya. Demikian pula orang sukses, para konglomerat papan atas, triliuner, milyarder, mereka terbentuk juga oleh proses panjang yang penuh tantangan, jatuh bangun, dan ketangguhan. 

Seperti halnya permata yang harus melewati tekanan yang menghimpit, panas yang membakar, dan waktu yang seolah enggan beranjak. Begitu pulalah sejatinya rupa dari sebuah keberhasilan yang kita idamkan. Sering kali kita hanya terpukau pada kilau akhirnya, namun lupa bahwa keindahan itu adalah hasil dari daya tahan yang luar biasa terhadap tempaan hidup.

Tak banyak yang tahu dan sadar bahwa bersyukur yang tulus itu bisa diwujudkan dengan menjalankan pekerjaan kita dengan tulus dan maksimal. Tak usah berhitung-hitung dengan apa yang akan didapatkan dari orang lain. Cukup menjadi yang terbaik lewat pekerjaan kita. Itulah syukur yang sesungguhnya. Rasa syukur itu sendiri yang akan membuka gerbang berkah dari semesta. 

​Mari kita belajar dari sang fajar. Ia tidak pernah terburu-buru, namun ia selalu hadir dan menjalankan kewajibannya tepat waktu setelah melewati pekatnya malam. Begitulah kita seharusnya berproses. Fokus, tidak terburu, tepat waktu dan tekun pada hari ini. Karena pada akhirnya, kepuasan sejati lahir saat kita mampu berkata pada diri sendiri di penghujung hari, “Aku bersyukur telah memberikan yang terbaik lewat pekerjaanku.”

Pelatih sepak bola Amerika, Vincent Lombardi, berkata, “Harga dari keberhasilan adalah kerja keras, dedikasi pada pekerjaan, dan keteguhan baik saat menang atau kalah, karena kita telah memberikan yang terbaik dari diri kita.” Inilah yang mengingatkan kita tentang bekerja. Dan jangan lupa bersyukur lewat pekerjaan Anda. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑