Inspiration

PERASAANMU ADALAH DUNIAMU

Saat kita menggunakan kacamata bening, dunia dan realitas yang kita lihat akan cerah apa adanya. Bunga pun akan kelihatan warna aslinya. Tapi saat kita memakai kacamata gelap, maka yang kita lihat pun akan suram, redup, dan bahkan gelap. Bunga yang indah pun akan tampak gelap di mata kita. Dunia di luar kita tidak berubah. Yang menentukan bagaimana rupa dunia dan realitas itu adalah kondisi kaca yang kita gunakan untuk memandangnya. Begitulah cara perasaan bekerja dalam hidup kita. Perasaan kita adalah lensa sekaligus frekuensi yang menentukan realitas seperti apa yang sedang kita undang masuk ke dalam ruang tamu kehidupan kita.

​Sering kali kita terjebak dalam pemikiran bahwa kebahagiaan akan datang jika situasi di luar sana membaik. Kita menunggu badai reda, menunggu lampu lalu lintas berubah hijau, atau menunggu orang lain bersikap manis. Namun, kita perlu menyadari sebuah rahasia kecil kehidupan. Dunia kita sebenarnya diciptakan dari dalam ke luar. Pikiran kita mungkin adalah arsiteknya, namun perasaan adalah energi yang memberinya kehidupan. Pikiran dan perasaan adalah pasangan yang tak terpisahkan dalam tarian hukum tarik-menarik. Saat kita merasa penuh syukur, kita sebenarnya sedang menyetel radio diri kita pada frekuensi yang jernih, sehingga lagu-lagu indah pun mulai menggema dan terdengar oleh orang di sekeliling kita. 

Saya meyakini bahwa pikiran kita menentukan perasaan kita. Perasaan kita menciptakan aksi. Lalu aksi itu akan membawa kita pada hasil. Maka kalau kita ingin mendapatkan hasil yang baik, dunia yang indah, realitas yang penuh kedamaian, kita harus mengubah pikiran dan perasaan. Kenyataan dan dunia yang kita alami sesungguhnya adalah cerminan dari pikiran dan perasaan kita.

​Apa yang kita rasakan saat ini adalah laporan cuaca bagi masa depan kita. Jika kita merasa cemas, kita sedang menanam benih keresahan untuk hari esok. Sebaliknya, saat kita mampu menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuk, kita sedang menarik peristiwa-peristiwa yang selaras dengan kedamaian tersebut. Perasaan adalah kompas yang tidak pernah berbohong. ia merangkum seluruh getaran diri kita dan memancarkan apa yang sedang kita ciptakan saat ini juga. Kita tidak bisa mengharapkan hidup yang ceria jika kita terus memelihara mendung di dalam dada. Mari kita mulai belajar untuk merawat perasaan dan pikiran. Bukan karena keadaan menuntutnya, tetapi karena kita sadar bahwa pikiran dan perasaan adalah kemudi utama dalam perjalanan  hidup kita.

​Dunia akan selalu menawarkan berbagai warna. Ada yang cerah. Ada yang gelap pekat. Ada yang abu-abu. Kita tinggal menyetel pikiran dan perasaan, lalu memilih yang mana yang selaras. Kita adalah penguasa atas pikiran dan perasaan. Dengan demikian kita bisa menciptakan realitas yang kita inginkan dari dalam. Ketika kita memilih untuk merasa cukup, semesta seolah membuka pintu-pintu keberlimpahan yang selama ini tertutup. Ketika kita memilih suram dan halu, maka kita akan dikelilingi oleh situasi dan orang-orang yang suram dan suka mengeluh, yang toksik. Dunia di luar diri kita adalah cermin dari pikiran dan perasaan kita. Jadi, jangan menyalahkan realitas. 

Kalau ada masalah, jangan mencari jalan keluar, tapi carilah jalan ke dalam diri, ke dalam pikiran dan perasaan kita. Pasti ada yang salah di sana. Persoalan itu berasal dari dalam, bukan dari luar. Bukan kekuatan di luar diri kita yang membuat kita merasakan dan memikirkan sesuatu. Tapi, apa yang kita pikirkan itu yang akan menentukan perasaan kita dan dunia yang kita alami. Lalu perasaan kita itulah yang akan menciptakan realitas dalam kehidupan kita. Mari kita ciptakan perasaan yang penuh syukur, ketulusan, kejujuran, agar dunia yang kita alami, orang yang kita temui, situasi yang kita jalani pun seturut dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Perasaan kita adalah dunia kita. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑