Kapibara adalah salah satu binatang favorit saya. Dari bentuknya, perilakunya, lucunya, semua saya suka. Setiap kali menonton kapibara, saya selalu menikmati melihat kelakuan binatang itu entah saat berendam di air, atau saat dia diam. Tak jarang pula dia sengaja digoda. Lubang hidungnya disogok. Kupingnya diremas. Kepalanya ditoyor. Ia hanya diam, seolah tak terganggu apa pun. Dalam diamnya, matanya terpejam separuh, wajahnya begitu teduh, seolah-olah seluruh huru-hara dunia di sekitarnya menguap sikapnya yang penuh damai. Di tengah dunia kita yang bergerak begitu cepat, bising, dan seringkali menguras energi, ketenangan makhluk pengerat terbesar di bumi ini rasanya seperti sebuah kemewahan yang kita rindukan.
Belakangan ini, hidup mungkin terasa lebih berat dan dan menantang. Banyak persoalan yang kita hadapi. Tekanan ekonomi, tumpukan pekerjaan, hingga riuh rendah media sosial seringkali memicu riak kecemasan di dalam dada. Kita mudah tersulut, mudah lelah, dan tanpa sadar selalu dalam mode bertahan. Otak manusia memang diciptakan untuk selalu dalam mode bertahan hidup. Kalau mode itu terlalu banyak digunakan, maka tubuh akan memroduksi hormon stres, kortisol. Dalam situasi serba sulit inilah, barangkali kita perlu melipir sejenak. Kita sebagai manusia tak perlu malu untuk belajar dari binatang seperti kapibara. Perilaku dan sifatnya mengajarkan banyak keutamaan hidup yang lebih manusiawi daripada manusia.
Kapibara sering dijuluki sebagai “anjing air Zen”, sebuah predikat yang lahir dari pembawaannya yang luar biasa tenang karena binatang ini tidak mudah marah. Mereka hidup tanpa memancarkan ancaman bagi makhluk lain. Di alam liar, kita bisa melihat buaya, burung, bahkan monyet duduk berdampingan dengan kapibara tanpa ada ketegangan. Kapibara bukan jadi ancaman bagi binatang lainnya. Bahkan ada rekaman video ketika kapibara duduk di atas punggung buaya yang sedang berenang di sungai. Mereka memilih untuk menjadi ruang yang aman bagi sekelilingnya. Kapibara mengajarkan kita sebuah seni menjalani hidup yang damai. Sikap tenang kapibara bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah kekuatan emosional yang penuh kematangan.
Ketika badai persoalan datang, kita tidak harus selalu meresponsnya dengan kepanikan yang meledak-ledak. Kita bisa memilih untuk menjadi adaptif, mengalir mengikuti arus tanpa harus kehilangan pijakan diri. Menjadi kapibara berarti belajar melepaskan beban yang bukan milik kita. Mereka adalah mahluk yang gemar bergotong royong, waspada namun tidak paranoid. Dan yang paling indah, kapibara bukan binatang tipe pendendam. Mereka menerima hari ini apa adanya, menyerap sengatan matahari, dan menikmati dinginnya air dengan rasa syukur yang hening. Menghadapi hari-hari yang berat ini, mari kita pelan-pelan mengadopsi energi baik sang kapibara. Kita tidak bisa mengendalikan arah angin, namun kita selalu punya kendali penuh terhadap cara hati kita meresponsnya.
Saat kita merasa mulai jenuh atau emosi kita tersulut oleh keadaan hari ini, ambillah jeda selama tiga menit. Tarik napas dalam-dalam, embuskan perlahan, dan nikmatilah satu gelas air putih dengan kesadaran penuh. Jangan menggenggam gawai, tenang, tanpa memikirkan hari esok. Kita izinkan diri kita untuk merasakan kedamaian sederhana itu. Sekilas kita seolah sedang menjadi kapibara di tengah hiruk-pikuk dunia. Kita menjadi kapibara yang memancarkan energi kedamaian. Kita bukan ancaman sehingga siapa pun di sekeliling kita akan merasakan suasana nyaman. Seandainya dunia ini dipenuhi oleh manusia dengan karakter seperti kapibara, mungkin peperangan, pertikaian, permusuhan, kebencian, dendam, akan teredam. Sayang manusia tidak mau belajar dari hewan satu ini.
Pada akhirnya, hidup yang selaras dan damai tidak melulu bising oleh pencapaian besar. Seringkali, ia justru bermula dari kemampuan kita untuk tetap teduh, saling merangkul, dan memilih untuk tidak terluka oleh hal-hal yang berada di luar kendali kita. Mari melangkah dengan lebih ringan, dengan senyum yang lebih tulus, bersahabat, dan hati yang sedamai kapibara. Mari kita belajar dari kapibara. ***

Leave a comment