Beberapa waktu lalu saya menggerutu lantaran hal sepele. Pagi-pagi saya disuruh istri untuk membawa beberapa boks moci untuk dijual. Bawa tas kerja saja sudah berat masih ditambahi beban, begitu pikir saya. Meskipun agak ngomel, akhirnya saya terpaksa membawa juga beban tambahan itu. Tas punggung saya terasa berat menekan kedua bahu.
Di perjalanan, saya merenung sendiri. Kalau saya menolak, meskipun dalam hati, rasanya tidak enak. Mulut cemberut, muka terlipat, hati kesal. Rasanya makin berat saja bebannya. Lama kelamaan, saya mencoba pasrah, ikhlas dan mengakui kalau saya sedang membawa kelebihan beban di tas. Tak disangka, ketika saya mulai menerima kenyataan dan mengikhlaskan hati, beban di tas itu tak seberat di awal. Mulut cemberut pun berangsur balik ke posisi normal. Ringan rasanya.
Sering kali kita merasa hidup ini begitu melelahkan, seolah-olah seluruh beban dunia sengaja ditaruh di atas pundak kita. Kita terjebak dalam rutinitas, menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi, dan mengartikan setiap ujian sebagai penderitaan yang tak berkesudahan. Namun, jika kita mau duduk sejenak dalam keheningan dan menengok ke dalam diri, kita mungkin akan menyadari satu hal, bahwa beban hidup itu sebenarnya berbanding lurus dengan tingkat keikhlasan kita.
Ketika kita menolak kenyataan, mempertanyakan mengapa takdir tidak berpihak pada kita, hidup akan terus menjadi beban berat. Kalau kita terus-menerus mengeluh, tanpa sadar kita sedang memperbesar volume beban tersebut. Semakin kita menolak dan meronta, semakin berat pula langkah kaki kita. Penolakan itu sejatinya adalah memberi beban ekstra pada tubuh kita. Itu yang saya alami.
Sebaliknya, ketika kita mulai membuka hati untuk menerima dengan ikhlas atas apa yang kita anggap beban, itu akan meringankan langkah hidup kita. Kalau kita ikhlas menerima dan mengakui segala ketentuan tanpa menuntut imbalan atau balasan instan, percayalah keajaiban perlahan sedang terjadi dan menghampiri kita. Beban yang tadinya terasa menghimpit dada atau menekan pundak, tiba-tiba terasa begitu ringan. Ikhlas bukan berarti kita menyerah pasrah tanpa usaha, melainkan sebuah ketulusan dan kerelaan hati untuk berjalan selaras dengan kehendak-Nya.
Bayangkan saat kita memegang segelas air. Segelas air sama sekali bukan beban. Bahkan kalau kita memegangnya selama satu menit, itu bukan masalah. Namun, jika kita memegangnya selama beberapa jam tanpa henti, lengan kita akan terasa lumpuh. Airnya tidak bertambah berat, tetapi penolakan otot kita untuk mengistirahatkannya yang membuat tangan kita menderita. Begitu pula dengan hati kita. Semakin dipenuhi penolakan, maka semakin berat beban yang seharusnya ringan. Tugas kita hanyalah meletakkan gelas kekhawatiran itu di atas sajadah ibadah kita. Kita harus melepaskan ego yang selalu menolak dan menyangkal. Kalau kita membiarkan ketulusan dan keikhlasan menuntun kita, niscaya semua yang awalnya kita anggap sebagai beban akan terasa ringan.
Kita bisa belajar dari tumbuhan yang harus menanggung hujan deras semalaman. Mereka bahkan harus rebah karena terpaan air hujan. Mereka membiarkan dirinya menjadi landasan yang tenang, tunduk patuh pada hukum alam, sampai matahari dan angin datang menguapkan genangan air hujan. Tumbuhan rebah itu tetap kokoh, bukan karena ia melawan, melainkan karena ia menyatu dengan keadaan. Di saat hidup terasa berat, cobalah tips sederhana ini. “Aku menerima momen ini dengan rela.” Rasakan bagaimana kelonggaran itu perlahan hadir, lalu memberi ruang bagi jiwa untuk bertumbuh dan bersemi kembali karena hidup terasa ringan.
Beban hidup itu berbanding lurus dengan keikhlasan. Semakin kita ikhlas, semakin ringan hidup kita. Sebaliknya, semakin kita menolak dan menyangkal, semakin berat hidup yang harus kita jalani. Dari sanalah kedamaian muncul. Dalai Lama pernah berujar, “Kita tak pernah memiliki kedamaian dari dunia di luar kita kalau kita tidak berdamai di dalam hati kita sendiri.” ***

Leave a comment