Dulu saya sering menuntut pasangan untuk hal sepele. Sepulang kerja saya selalu minta disediakan kopi atau teh pada pasangan. Banyak suami yang pekerja juga punya kecenderungan bersama. Mungkin ini karena budaya patriarki selalu memosisikan laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Ini perkara sepele, soal minuman sepulang kerja. Tapi tak jarang persoalan teh atau kopi ini menjadi biang keributan rumah tangga. Untuk kasus saya, saya lupa bahwa pasangan saya juga capek sesampainya di rumah setelah bekerja seharian dan mengurus pekerjaan di rumah. Saya sibuk menuntut hak saya Saya menuntut kewajiban pasangan untuk menghargai saya.
Lama kelamaan tak hanya masalah kopi, saya mulai merambah pada hak-hak lain sebagai laki-laki, kepala keluarga, suami. Saya merasa bahwa saya sudah merasa melakukan kewajiban sehingga saya berhak untuk mendapatkan. Situasi ini kerap terjadi dalam relasi rumah tangga, atau bahkan yang masih pacaran. Relasi yang seharusnya penuh cinta dan pengertian bisa saja berubah menjadi hubungan transaksional semacam ini. Hak dan kewajiban diperjualbelikan dengan mengatasnamakan cinta, penghormatan, penghargaan.
Di dalam sebuah ruang yang kita sebut rumah, ada sebuah rahasia kecil yang sering kali luput dari pandangan kita karena terlalu sibuk menuntut hak. Kita sibuk mencari pengakuan dan pengukuhan ego. Belajar dari pengalaman, saya menemukan bahwa rumah tangga atau relasi yang paling damai ternyata adalah milik dua orang yang sama-sama lupa menuntut hak. Kata-kata ini dalam sekali maknanya. Melupakan hak itu sama saja meluruhkan ego entah sebagai laki-laki atau perempuan.
Kita sering kali terjebak menjadi seorang tukang dagang cinta yang transaksional dalam sebuah hubungan. Kita mencatat dengan rapi setiap perhatian yang kita beri, lalu dengan teliti menagih kapan giliran kita untuk menerima. Kita sibuk mengukur, “Aku sudah melakukan ini, lalu apa yang kudapat?” Di sinilah akar perselisihan itu bermula. Akar dari setiap ketegangan sering kali muncul saat kita mulai memaksa orang lain memenuhi kewajibannya demi memuaskan ego yang seolah menjadi hak kita sendiri. Kita menjadi haus untuk meminta, hingga lupa cara menikmati kebersamaan.
Padahal, sebuah relasi bukanlah meja transaksi. Ini bukan tentang siapa yang paling banyak mendapat, melainkan tentang siapa yang paling banyak memberi dengan ikhlas. Ketika kita mulai melupakan timbangan hak dan memilih untuk memperluas ruang memberi, ada beban yang luruh dari ego kita. Kita tidak lagi dikejar oleh rasa kecewa karena ekspektasi yang tak terpenuhi dari pasangan. Kedamaian sejati itu justru tumbuh saat kedua belah pihak sama-sama meletakkan senjatanya, yaitu tuntutan ego, dan menggantinya dengan tangan yang terbuka untuk merangkul, memberi, dan berbagi.
Saat kita belajar melupakan hak dan fokus pada apa yang bisa kita berikan, suasana di dalam rumah akan berubah menjadi lebih hangat dan penuh cinta. Hubungan tidak lagi terasa seperti medan laga tempat kita saling bertransaksi dan menuntut keadilan, melainkan sebuah tempat bernaung yang teduh untung saling memberi. Ada ruang baru di mana kita saling mengisi tanpa takut kekurangan, tanpa takut tak dihargai.
Mari kita perlahan menghapus daftar tuntutan kita. Kita bisa memberi kebaikan kecil pada pasangan tanpa mengharapkan balasan sekecil apa pun, sekalipun itu ucapan terima kasih. Biarkan cinta tumbuh dari apa yang kita tabur, bukan dari apa yang kita tagih. Sebab pada akhirnya, kebahagiaan tertinggi dalam sebuah relasi tidak ditemukan saat kita berhasil merebut hak kita, melainkan saat kita menemukan kedamaian dalam ketulusan untuk terus memberi. Mari kita ciptakan rumah tangga atau hubungan yang penuh cinta dan kedamaian dengan saling melupakan tuntutan atas hak kita.***

Joss, magna cum laude!
LikeLike