Inspiration

JANGAN MENYUSAHKAN ORANG LAIN

Sampai hari ini saya mencoba untuk merenungi kehidupan saya. Ternyata saya menemukan banyak orang yang suka menyusahkan orang lain, terutama dalam lingkup pekerjaan, kehidupan bermasyarakat, apalagi kehidupan bernegara. Menyusahkan ini banyak wujudnya. Menghambat rejeki orang, mempersulit prosedur, memberikan ancaman, melanggar aturan yang disepakati bersama, memfitnah orang tanpa dasar, dan sebagainya. Saya yakin tidak hanya saya pribadi yang mengalami, tapi ada banyak orang yang merasa disusahkan. Anehnya, orang-orang yang suka menyusahkan itu merasa bangga jika bisa membuat orang lain susah. 

Saya terus bertanya-tanya, apakah jadi orang baik itu sebegitu beratnya sehingga orang lebih memilih untuk jadi orang tidak baik yang hobinya menyusahkan orang lain. Saya sadar, menjadi baik itu memang lebih sulit daripada menjadi jahat. Coba saja bandingkan, mana yang lebih banyak, orang baik atau orang tidak baik saat ini? Kita akan lebih mudah menghitung dan menunjuk orang tidak baik daripada orang yang masih baik. Apalagi kalau konteksnya hidup bernegara, lebih mudah menghitung orang yang tidak baik daripada yang baik, jujur, rendah hati. 

Di dunia yang bergerak begitu cepat ini, kita sering kali terjebak dalam lingkaran orang yang penuh ambisi untuk diakui, ditakuti, dihormati. Mereka merasa harus menjadi sesuatu atau seseorang yang besar, disukai semua orang, dan selalu tampil sebagai pahlawan dalam setiap cerita. Namun, sadar atau tidak, dalam perlombaan menjadi yang terbaik itu, kita kadang justru melelahkan lingkungan sekitar. Kita sibuk menyebarkan opini, menuntut perhatian, memaksa orang, atau tanpa sengaja menaruh ekspektasi yang memberatkan orang lain.

Padahal hidup ini tidak harus selalu tentang tepuk tangan meriah untuk perayaan pengakuan diri dan ego. Menjadi orang yang tenang yang kehadirannya tidak merugikan orang lain sebenarnya sudah merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa di zaman sekarang. Berbuat baik itu indah. Namun kita tidak harus menjadi Mahatma Gandhi untuk merelakan seluruh hidup demi melayani sesama. Kita bisa memulainya dari prinsip hidup yang sederhana, cukup jangan menyusahkan orang lain. Jangan kita menjadi duri di jalanan yang menusuk tangan atau kaki orang lain. Jangan membuat orang lain tersandung. Jangan menjadi penghambat berkah untuk orang lain. Jangan berlidah tajam untuk menjatuhkan orang lain. Jangan menjadi beban yang memperberat langkah kaki sahabat kita.

Menjadi baik tidak harus muluk-muluk dan sulit. Kita bisa mulai dari yang paling sederhana. Ada banyak contoh yang bisa kita lakukan. Kita tidak mengkritik pasangan saat makanan terasa kurang pas di lidah. Kita menahan lidah agar tidak menyakiti orang atau bergunjing tentang keburukan orang lain. Kita menahan jempol untuk tidak menulis komentar yang menyakiti di media sosial. Kita tidak mengeluh agar situasi di sekeliling terasa damai sebagai ruang bersama. Lewat hal sederhana ini kita sedang belajar berbuat kebaikan. Kebaikan tidak selalu berwujud kepahlawanan yang heroik, yang butuh pengakuan. Kebaikan muncul dalam keheningan dan kesadaran diri. Kita tidak perlu harus diakui dan disukai oleh seluruh isi dunia. Kita cukup memastikan bahwa kehadiran kita tidak meninggalkan luka atau kerugian bagi orang-orang yang bersinggungan dengan kita.

Sebenarnya dalam diri kita sudah ada kebaikan, hanya tidak kita sadari. Dan, kadang kebaikan diri itu kadang berubah jadi ketidakbaikan karena terbawa emosi. Ada banyak kebaikan sederhana. Saat berkendara di jalan raya atau mengantre di tempat umum, berikan ruang dan jalan bagi orang lain dengan senyuman, tanpa harus membunyikan klakson atau mendengus kesal. Cukup jadilah jeda yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk hari ini. Cukuplah dengan kebaikan kecil, asal jangan menyusahkan orang lain. 

Mantan Presiden Amerika, Ronald Reagan, pernah mengatakan, “Kita tidak bisa membantu setiap orang, tapi setiap orang dapat membantu seseorang.” Maknanya, kita mungkin tidak bisa berbuat baik ke semua orang. Tapi cukuplan kita berbuat kebaikan pada seseorang, entah ke sahabat, pasangan, anak, teman, atasan, kolega, dan lain sebagainya. Memilih untuk berbuat baik ke satu orang akan menularkan suasana positif dan penuh kedamaian yang menyebar ke mana-mana. 

Saat kita belajar untuk tidak menjadi beban dan tidak menyakiti, kita sedang melapangkan jalan bagi diri sendiri untuk menemukan kedamaian yang sejati. Menjadi baik dan teduh itu sudah lebih dari cukup. 

Jadilah seperti pohon. Pohon itu hanya berdiri, berakar kuat, dan meluaskan tajuknya. Ia sekadar menyediakan keteduhan bagi siapa saja yang ingin singgah, tanpa memilih, tanpa menuntut balasan. Jangan menyusahkan orang, niscaya hidup kita menarik banyak kebaikan.***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑