Inspiration

WAJAH DI BALIK KEKUASAAN

Hari ini kita disuguhi pameran yang tidak mengenakkan untuk dilihat. Penguasa yang sok kuasa dan menyalahgunakan kekuasaan seenaknya. Kekuasaan menjadi kendaraan untuk bersikap semena-mena terhadap rakyat. Penguasa yang diberi amanah oleh rakyat justru lupa dengan sang pemberi amanah. Panggung kekuasaan kini justru menjadi ajang pameran watak sesungguhnya para penguasa. 

Sering kali kita keliru menilai ketulusan seseorang saat ia berada di bawah, saat bukan menjadi siapa-siapa. Mengenakan jubah kerendahan hati adalah hal yang mudah ketika seseorang tidak memiliki wewenang atau pengaruh. Saat tidak punya apa-apa, mereka bersikap pura-pura sebagai satu-satunya pilihan untuk bertahan hidup, meskipun harus bersikap munafik untuk menyembunyikan karakter sesungguhnya. Kita melihat mereka begitu santun, mau mendengar, dan seolah selaras dengan denyut penderitaan sesama. Namun, semua itu barulah ujian ketahanan, bukan ujian kesejatian.

Tapi dalam kehidupan, watak seseorang itu bukan diuji saat orang berada di titik terendah. Ujian sesungguhnya datang bukan saat gelas itu kosong. Ujian hidup untuk melihat karakter orang justru saat gelasnya meluap. Saat orang merasa naik kelas, naik derajat, naik jabatan, naik taraf hidupnya. Seperti yang pernah dikatakan Abraham Lincoln, “Hampir semua orang bisa bertahan dalam kesengsaraan, tetapi jika Anda ingin menguji karakter seseorang, berikan ia kekuasaan.” Kesulitan memang menguji ketahanan seseorang, tetapi kekuasaan menguji siapa dirinya yang sebenarnya.

Saat orang punya jabatan tinggi dan punya kendali atas orang lain watak asli seseorang akan tersingkap. Kekuasaan menjadi sebuah selubung tirai yang akan menelanjangi muka seseorang. Kekuasaan bisa mengubah siapa kita sesungguhnya. Keserakahan atau kesombongan yang dulu tersembunyi rapi di balik senyum ramah, kini bertransformasi menjadi kebijakan yang menjerat dan tawa yang meremehkan, sikap arogan dan semena-mena. Panggung kekuasaan hari ini menjadi sebuah teater satir yang menyedihkan, di mana mereka yang dulu berjanji melayani, kini sibuk minta dilayani. Mereka lupa pada pijakan awal saat mereka masih sekadar orang biasa tanpa kuasa. 

Namun, di sinilah keindahannya. Kekuasaan juga memiliki sisi magis yang lain. Bagi jiwa yang matang, kekuasaan justru memantulkan cahaya kebijaksanaan dan integritas yang makin benderang. Ia tidak menggunakan jemarinya untuk menunjuk dan menghakimi, melainkan untuk merangkul dan mengangkat yang terjatuh. Kekuasaan menjadi sebuah sarana untuk meluapkan sikap melayani yang penuh empati. 

Kita mungkin bukan penguasa negeri. Tetapi kita semua adalah penguasa atas banyak hal, sekecil dan sesederhana apa pun. Kita adalah penguasa, entah itu sebagai orang tua di rumah, atasan di kantor, di masyarakat, atau bahkan sekadar pemilik kuasa atas kuota internet untuk berkomentar di media sosial. Di dalam ruang-ruang kecil itulah watak kita sedang ditelanjangi. Kita diuji apakah menjadi penguasa yang kejam dan semena-mena, penguasa yang selalu minta dilayani, penguasa sombong, atau justru menjadi penguasa yang rendah hati, penuh empati dan selalu mau untuk melayani orang lain. 

Pada akhirnya, kekuasaan yang sejati tidak pernah diukur dari seberapa banyak orang yang berhasil kita tundukkan dan kita kuasai. Kekuasaan diukur dari seberapa aman dan nyaman orang-orang yang berada di sekitar kita saat kita memiliki kekuatan untuk menguasai mereka. Mari kita merenung sejenak, wajah mana yang sedang kita tampilkan saat kita memegang kekuasaan? ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑