Dalam kehidupan kita sehari-hari, sering kali kita bertemu dengan orang-orang yang sok tahu, sotoy, merasa paling tahu dan paling benar, dan merasa tahu segalanya. Orang-orang semacam ini biasanya keras kepala dengan pola pikir yang tertutup. Ibarat gelas, mereka selalu merasa sudah penuh, sehingga kalau diisi selalu tumpah. Di rumah, di kelas, ruang rapat kantor, ada orang yang gigih mempertahankan pendapatnya, seolah-olah pikirannya adalah satu-satunya kebenaran yang berlaku di dunia. Bahkan di grup percakapan tetangga, selalu ada suara yang merasa paling tahu cara hidup yang paling tepat.
Kadang kita tergerak untuk meluruskan apa yang keliru. Kita mencoba menjelaskan dengan perlahan, membeberkan fakta, hingga menyodorkan sudut pandang lain. Namun, pembicaraan kerap bermuara pada dinding kepala yang tebal yang tak tertembus. Situasi ini sering membuat dada kita sesak dan energi terkuras.
Filsuf Zhuangzi ribuan tahun lalu pernah menuliskan sebuah analogi yang sangat dalam maknanya. “Kita tidak bisa menjelaskan indahnya samudra kepada seekor katak yang seumur hidupnya tinggal di dalam sumur.” Bukannya sang katak bodoh, melainkan karena batas dunia yang pernah ia lihat hanyalah lingkaran langit kecil di atas kepalanya. Sumur itu telah menjadi seluruh semesta baginya. Jadi, rasanya mustahil untuk menjelaskan tentang kolam, parit, sungai, danau, apalagi samudera pada katak semacam itu.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali berhadapan dengan orang yang berpikir seperti katak di dalam sumur ini. Ketika sebuah pikiran telah terikat erat oleh kepastian dan merasa selalu benar, ia menutup rapat pintunya dari kebijaksanaan. Sevalid apa pun kebenaran yang kita tawarkan, ia tak akan diterima. Kebenaran itu tak sanggup menembus ruang yang sudah terlalu penuh oleh keangkuhan dan kepicikan, karena merasa paling tahu dan paling benar.
Di sinilah kita belajar untuk bijak mengelola kedamaian diri. Tugas kita bukanlah memaksa setiap orang untuk melihat luasnya danau atau samudra yang pernah kita arungi. Memaksa seseorang keluar dari sumurnya sebelum ia siap hanya akan memicu perdebatan yang melelahkan. Bahkan lama-lama orang yang berniat meluruskan pun akan merasa ikut tidak waras. Menghadapi situasi semacam ini, kita sebaiknya jangan kehilangan ketenangan jiwa kita karena upaya untuk meyakinkan mereka. Orang yang hanya tinggal di dalam sumur seperti katak tadi tak pernah berniat melangkah melewati dinding yang mereka bangun sendiri.
Ada kalanya, tindakan paling sederhana yang bisa kita lakukan baik untuk diri sendiri maupun orang lain adalah tersenyum, mengangguk, dan membiarkan mereka tetap tenang dengan sudut pandangnya. Tidak usah mendebat, apalagi melawan katak model bloon. Percuma dan menghabiskan energi saja. Kita hanya bisa berharap katak itu melompat ke bibir sumur dan bisa melihat sendiri bahwa di sekitar sumur ada sungai, kolam, danau.
Ketika berhadapan dengan seseorang yang bersikeras merasa paling benar di meja kerja atau di perbincangkan keluarga, tarik napas dalam-dalam, tahan keinginan untuk membalas argumennya. Lalu katakan dalam hati, “Sudut pandangmu menarik,” dan biarkan percakapan itu berlalu tanpa mengganggu kedamaian hati kita.
Biarkan dia jadi katak dalam sumur yang sotoy dan kita tetap berdiri mengagumi samudra. Kedalaman samudra tetaplah indah dan luas, meski katak di dasar sumur tak pernah memercayai keberadaannya. Mari kita jaga kedamaian hati dan pikiran, karena tidak semua hal di dunia ini perlu kita menangkan melalui perdebatan. Kebenaran akan menunjukkan jalannya sendiri.***

Leave a comment