Inspiration

PANIK ITU SEPARUH DARI PENYAKIT

Beberapa waktu lalu sahabat saya datang ke rumah dan mengeluh bahu kirinya sakit. Dia panik karena sudah beberapa bulan bahu kirinya sakit. Bahkan untuk membuka baju pun tangannya sakit. Awal sakitnya muncul akibat otot yang terpelintir saat mengangkat galon dengan gerakan yang salah. Tangannya sudah diurut, tapi bukannya sembuh, malah makin nyeri. Makin hari ia makin khawatir kalau-kalau otot bahu kirinya ada yang robek.

“Aku takut ototku ada yang robek seperti pada bahumu,” katanya pada saya. Bahu kiri saya memang selalu lepas karena ada robek otot yang sampai kini belum pulih, meski sudah dua tahun. Kadang lepas dan harus dikembalikan ke posisinya. Rasanya nyeri. Otot bahu dan sendi saya bermasalah karena saya pernah jatuh, terkilir dan saya diamkan. Ditambah kemudian dislokasi bahu karena kecelakaan.

Sahabat saya ini memang selalu parno atau paranoid, lebay, sering melebih-lebihkan sesuatu yang sebenarnya sepele menjadi berlipat-lipat sepelenya alias rumit. Dalam segala hal ia selalu dipenuhi pikiran yang parno. Karena itu, saya hanya mengatakan, “Rasa sakitmu itu separuhnya berasal dari kepanikanmu.” Dia hanya bengong sambil tetap menyakini bahwa otot bahunya robek.

Dalam hidup kita sering dilanda kepanikan. Bahkan kalau levelnya parah, ada yang namanya panic attack, serangan rasa panik yang tiba-tiba. Saya pun sering mengalami kepanikan itu. Pikiran jadi lebay, melebih-lebihkan yang seharusnya tidak lebih. Kepanikan bisa membunuh dan bahkan menenggelamkan orang. Saya pernah mengalaminya. Saya pernah tenggelam, padahal saya bisa berenang. Tapi karena terserang panik, saya tenggelam di kolam. Untung nyawa saya terselamatkan oleh orang baik. 

Dalam konteks penyakit, ada anggapan kalau kepanikan adalah separuh penyakit. Sementara ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan. Kata-kata ini dalam sekali maknanya. Dulu saat wabah Covid 19 melanda, betapa banyak korban jiwa terjadi karena rasa panik berlebihan. Ini berdasarkan salah satu kesaksian dari sahabat saya yang kehilangan adiknya. 

Untuk memahami rasa panik dan rasa sakit, saya tertarik dengan sebuah analogi yang diunggah oleh akun @permanaandi_ , seorang ahli kesehatan di sebuah media sosial. Ia menjelaskan bahwa tubuh kita itu seperti kerajaan besar. Obat-obatan yang kita konsumsi itu seperti persenjataan canggih yang dikirim sebagai bala bantuan. Sementara itu, tubuh kita punya seorang jenderal, yaitu pikiran kita. Sebagai layaknya jenderal, pikiran kita memegang kendali penuh atas seluruh pasukan dan tubuh kita. 

Saat kita sakit, kita meminum obat seperti layaknya mengundang pasukan tempur. Tapi sehebat apa pun senjata yang dikirimkan ke dalam tubuh kita, itu tidak akan berfungsi kalau sang jenderal justru berteriak panik dan meyakini bahwa sebentar lagi tubuh akan hancur dimakan penyakit. Kepanikan itu bisa muncul saat tubuh kita sakit lalu muncul kecemasan dan asumsi. 

Karena takut dan cemas, kita lalu mencari diagnosa sendiri dari mana-mana dan menyimpulkan kita sedang menderita penyakit berat. Padahal gejalanya sebenarnya ringan. Sang jenderal atau pikiran kita lalu memencet tombol bahaya. Di saat cemas dan panik inilah otak lalu membanjiri tubuh dengan hormon stres atau kortisol. Konon secara medis, kortisol ini justru bisa merusak imunitas kita. Ia membekukan dan melumpuhkan pasukan sel darah putih yang seharusnya berjuang di garis depan melawan penyakit. Kortisol justru melumpuhkan pasukan tempur atau obat yang kita minum. Itulah sebabnya ada pepatah yang mengatakan bahwa rasa panik adalah setengah dari rasa sakit yang bisa memperparah penyakit yang sebenarnya bergejala ringan. Persis seperti yang terjadi pada sahabat saya yang selalu parno tadi.

Rasa panik adalah hak setiap orang. Tapi mengelola kepanikan itu adalah cara bijaksana untuk menghormati raga dan sistem imunitasnya sendiri. Pikiran tenang adalah senjata yang paling ampuh untuk melawan segala tantangan. Seorang jenderal yang tenang akan mampu mengambil keputusan tepat dalam ketenangannya. 

Kalau kata filsuf, kita sering menderita karena imajinasi atau bayangan kita sendiri yang kadang jauh melampaui kenyataan. Persis seperti sahabat saya, ototnya hanya terkilir, tapi imajinasinya ototnya robek dan akan lumpuh. Penyair kondang sekelas Kahlil Gibran meyakini bahwa kecemasan, kepanikan dan ketakutan kita itu bukan berasal dari pemikiran tentang masa depan atau apa yang akan terjadi. Kecemasan dan kepanikan itu datang karena kita digerakkan oleh hasrat untuk bisa mengendalikan semuanya. Padahal dalam kehidupan, ada yang bisa kita kendalikan, dan ada yang di luar kendali kita. Tinggal kita pintar-pintar untuk memilah dan memilihnya. Pesan saya, jangan panik biar tidak jadi penyakit sungguhan. Mari kita yakini bahwa ketenangan dan kesabaran adalah awal kesembuhan. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑