Inspiration

MEMUTAR CERITA LAMA

Siapa sih yang tidak suka dengan kenangan lama? Saya yakin hampir semua orang selalu ingin memutar kembali hal-hal yang sudah berlalu. Entah lagu kesukaan, film favorit, bintang atau tokoh yang dikagumi, orang-orang yang dicintai, semua menjadi kenangan masa lalu yang enak untuk diputar kembali. Itulah hakikat nostalgia, karena ada rasa rindu yang mendalam yang membawa perasaan terhadap masa lalu yang indah untuk dikenang. Semua orang punya dan suka dengan nostalgia.

Saya kesulitan menemukan lawan kata dari nostalgia. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia pun ternyata tidak ada lawan katanya. Meski kata tidak ada lawan kata, tapi fakta yang berlawanan dengan nostalgia itu ternyata ada. Bahkan kita pun sering melakukannya, yaitu dengan memutar kenangan pahit, rasa sakit, penderitaan, dan segala hal yang tidak mengenakkan yang anehnya selalu ingin kita putar kembali. Kenangan-kenangan itu meskipun menyakitkan terus ingin kita putar dengan melibatkan perasaan sentimentil yang turut menyertainya. 

Mau bukti? Ada banyak contohnya. Misalnya orang yang patah hati ditinggal kekasihnya. Orang yang dipecat. Orang yang merasa tersakiti, dikecewakan, dan dibiarkan menanggung penderitaan hidup. Orang-orang semacam ini cenderung ingin memutar kenangan-kenangan pahit itu. Ironisnya, mereka bermimpi bahagia, tapi yang dikenang selalu ingatan akan penderitaan.

Salah satu sahabat saya pun mengalaminya. Kini ia sedang sakit, cukup parah yang membuatnya harus tinggal di rumah dan tidak bisa mencari rejeki untuk keluarganya. Kini ia sedang menjalani masa terapi untuk penyembuhannya. Namun ada satu hal yang menurut saya akan memperlambat masa kesembuhannya. Ia selalu memutar kenangan akan rasa bersalah dan rasa dosa lantaran ia tidak bisa mendampingi ibunya saat meninggal. Sulit rasanya memaafkan dirinya. Padahal saya yakin, ibunya di alam keabadian tidak pernah menyalahkan anaknya di saat sakratul maut menjemputnya. Tapi rasa bersalah itu justru selalu diputar, dinikmati, didengarkan dan dikenang kembali hingga kini. 

Saya jadi melihat penderitaan ganda yang sedang menimpa dirinya, beban rasa bersalah yang seolah tak termaafkan, dan sakit serius yang sedang dialaminya. Saya sudah mengingatkan berulang kali agar membuang kenangan pahit itu dan menggantinya dengan kenangan indah tentang ibunya. Tapi sahabat ini selalu gagal move on, tidak mau berubah. Tapi di sisi lain dia ingin sembuh secara fisik. Menurut saya, hal ini agak mustahil. Karena fisik yang sembuh itu harus dilandasi oleh kekuatan batin yang juga sudah sembuh. Bukankah banyak penyakit itu sumbernya lebih banyak dari pikiran, bukan makanan? Itu yang saya yakini. 

Saya selalu mengingat ajaran Sang Buddha yang pernah mengatakan, “Anda makin menderita karena cerita lama yang selalu Anda putar ulang di dalam pikiran bahkan melebihi peristiwanya.” Beliau menyarankan, kalau mau hidup tenang, lepaskan, biarkan semua kenangan tidak mengenakkan itu berlalu. Maka kita akan terbebas dari penderitaan. Kita bukan hidup di masa lalu, tapi masa kini. Karena sejatinya hidup adalah saat ini, di sini, sekarang ini. Bukan kemarin, bukan besok, tapi semua terjadi saat ini, lewat kesadaran akan nafas yang masih menggerakkan sistem tubuh yang sangat canggih dan sempurna ini. 

Kalau mau hidup bahagia dan merasa bebas, maka lepaskan beban masa lalu, bahkan sedetik yang lalu pun sudah masa lalu. Saya belajar dari seorang tukang urut yang menerapkan ilmu lupa. Ia mudah melupakan apa yang sudah terjadi demi membuat dirinya selalu ceria dan menikmati hidup saat ini, di sini, sekarang ini. Ternyata ilmu lupa itu memang membuat kita lepas bebas, hepi dalam menjalani hidup, terutama melupakan yang tidak mengenakkan. Kalau mau mengenang, ingatlah nostalgia, yaitu memutar kembali kenangan indah di masa lalu. Kalau memutar lagu lama yang menyakitkan, itu namanya “nostalgila” alias kenangan yang akan membuat kita gila dan mengundang penyakit. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑