Inspiration

MENGEJAR SETORAN

Beberapa hari lalu saya naik taksi online yang membelah kemacetan Jakarta di jam pulang kantor. Pengemudinya masih muda. Ia menjadi bapak dari seorang anak lelaki yang baru berumur tiga tahun. Ia bercerita banyak tentang pengalaman kerjanya yang cukup keren. Ia pernah menjadi sopir pribadi pejabat, petinggi perusahaan, dan bahkan duta besar negara lain. Namun kini ia terpaksa kehilangan pekerjaannya karena sang duta besar sudah kembali ke negaranya. 

Sudah tiga bulan ia mencari pekerjaan sambil menjadi pengemudi taksi online. Kebutuhan ekonomi untuk menghidupi keluarganya menjadi hal yang mendesak. Egonya sebagai laki-laki yang harus menghidupi keluarganya juga tak kalah besarnya. Sampai-sampai ia stres karena ngotot mengejar setoran. Ia berangkat pagi dan pulang larut malam.

Saya ikut senang mendengar perjuangannya sebagai sosok laki-laki dan suami yang bertanggung jawab. Ketika saya tanya pendapatannya dari taksi online dari subuh sampai larut, dia menjawab, “Sering bawa pulang hanya 50 ribu, kadang ada sisa 100 ribu, karena harus setoran harian, Pak. Makanya saya pusing, dan bawaannya pengen marah terus, suntuk, dan imbasnya ke anak istri, Pak.” Kejengkelannya muncul karena sudah berusaha maksimal, tapi tidak sebanding dengan pendapatan yang diperolehnya. 

“Kalau menurut saya, pasti ada yang salah itu, Mas,” kata saya.

“Maksudnya, Pak? Saya sudah ngotot dan minta ke Tuhan supaya diberi rejeki yang banyak padahal,” jawabnya tak mau kalah. 

Saya lalu berbagi cerita, bukan untuk menggurui orang yang sedang capek, putus asa, hati tak tenang karena berburu rejeki. Saya mengatakan bahwa rejeki, keberuntungan, nasib baik, itu bukan dikejar-kejar. Karena semakin kita ngotot mengejar, makin jauh rejeki itu. Persis saat kita ingin menangkap ayam dengan mengejar-ngejar. Ayam makin lari menjauh, badan kita capek. Semakin bernafsu, semakin panas hati kita. Yang ada bukan ayamnya yang tertangkap, tapi kejengkelan demi kejengkelan itu lama-lama membuat kita putus asa dan marah. Rejeki pun tetap tak mau menghampiri kita. 

Betapa sering dalam keadaan kalut kita bekerja, berdoa, berusaha dengan keras demi mendapatkan rejeki. Kita merasa dengan usaha keras dan doa yang bertubi-tubi akan meluluhkan Tuhan dan Semesta untuk memberikan sebagian rejekinya untuk kita. Tapi, cara seperti ini biasanya hasilnya nihil. Yang ada justru semakin putus harapan karena rejeki yang tak kunjung datang.

Ternyata cara paling ampuh untuk menarik rejeki dan membuka pintu kelimpahan itu justru dengan menciptakan hati yang tenang, bersih, sekalut apa pun realitas yang sedang kita hadapi. Dan, saya tahu ini bagian tersulit untuk dipraktikkan. Tapi, dengan kesadaran penuh, ketenangan, keheningan, dan kebersihan hati ini bisa kita wujudkan. Ketenangan batin itu ibarat lorong yang dipersiapkan untuk aliran kelimpahan dan rejeki.

Saat kita berhenti mengejar, maka batin kita akan berangsur tenang. Saya mengalami bahwa ketenangan batin dibalur dengan kepasrahan dan keyakinan penuh adalah modal utama yang dapat menarik kelimpahan serta rejeki. Ketenangan menandakan bahwa kita sedang mengubah pikiran kalut dan putus asa. Ketenangan dan keyakinan itu berarti memberi ruang dalam hati kita untuk bersiap menerima. Sebaliknya, kalau pikiran kita kalut terus, tidak ada ruang lagi untuk menerima kelimpahan. Mereka menyumbat aliran rejeki dan kelimpahan. Berdoa khusyuk pun tidak menyelesaikan masalah kalau dalam hati terus gelisah dan berharap, karena pikiran dan hati kita terus dikuasai kepanikan. 

Tapi sebaliknya, dalam keheningan, ketenangan, kepasrahan dan keyakinan saat berdoa itulah saat kita membuka ruang yang mempersiapkan datangnya rejeki dan kelimpahan. Karena kelimpahan sejati itu tidak datang dalam suasana yang berisik. Kelimpahan itu menghampiri hati yang tenang dan penuh keyakinan bahwa kita seolah sudah memiliki cukup kelimpahan dan rejeki. Kunci pembuka rejeki adalah menghentikan nafsu untuk minta lebih banyak dan mulai mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Niscaya rejeki akan datang bertubi-tubi. Persis kalau kita menebar beras dengan hati iklas dan gembira, maka ayam pun akan mendekat tanpa harus kita kejar-kejar. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑