Diakui atau tidak kita hidup sebagai manusia yang selalu punya mekanisme untuk mempertahankan diri, termasuk pertahanan diri secara psikologis. Kita tidak mau disalahkan karena ingin melindungi ego dari rasa salah, rasa malu, dan rasa harga diri rendah. Secara tidak sadar orang ingin melindungi egonya untuk menghadapi kebenaran yang kadang menyakitkan. Alhasil, cara paling lazim adalah menyalahkan balik ke pihak lain, orang lain, kondisi, situasi. Jarang sekali orang langsung mau mengakui kesalahannya. Maling atau koruptor kelas kakap kelakuannya sama, tidak mau dianggap salah meskipun sudah melakukan kesalahan.
Soal salah menyalahkan ini juga terjadi pada makanan. Betapa banyak orang sekarang ramai-ramai mengklasifikasi makanan sehat dan tidak sehat karena anggapan bahwa penyakit muncul karena makanan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar menurut saya. Nasi, karbohidrat, gula, garam, semua dipersalahkan. Padahal akar dari penyakit itu justru dari pikiran dan gaya hidup. Bukan dari makanan semata. Memang ada kompleksitas di balik bahan makanan, cara pengolahan, pola konsumsi hingga makanan yang tersaji yang bisa memengaruhi kesehatan seseorang. Tapi, sejatinya makanan itu sebagai realitas netral yang tak bersalah dan tak layak disalahkan.
Saya tertohok sekali dengan pernyataan seorang kolega yang lebih senior dari saya. Ia mantan pejabat yang sudah pensiun. Pembawaannya dan gaya hidupnya santai dan kelihatan bugar. Suatu kali ia menghardik saya karena saya tidak bisa ikut menemani makan malam gegara gangguan pencernaan yang saya alami. “Jangan pernah menyalahkan makanan, itu pamali buat saya!” katanya pada saya karena saya menyalahkan makanan yang membuat perut saya mual dan diare.
Dari peristiwa itu saya merenungkan kata-kata kolega saya. Memang benar juga bahwa kalau pencernaan kita error bukan berarti makanannya, tapi salah kita yang memakannya. Kitalah yang salah memilih dan memutuskan untuk menyantap makanan itu. Jadi menurut pengalaman saya, sayalah yang salah memilih dan salah memutuskan. Saya asal makan saja tanpa memikirkan akibatnya. Bukan makanan yang saya santap.
Saya suka dengan apa yang dikatakan penyair India yang legendaris, Rabindranath Tagore. “Kalau kamu tidak berselera makan, jangan lantas menyalahkan makananmu,” kurang lebih demikian yang dikatakan. Faktanya, kadang kita karena lapar mata, kita makan sesuatu yang sebenarnya bukan kebutuhan kita. Kita membeli atau mengambil makanan yang sebenarnya tidak kita perlukan saat itu. Kadang kita tak berselera, tapi tetap makan. Akibatnya, ketika ada dampak yang muncul kita lalu menyalahkan makanannya.
Saya harus banyak belajar dari orang-orang bijak yang berpesan agar berhenti makan sebelum kenyang. Artinya, kita jangan rakus saat makan. Karena kekenyangan selain membuat tidak nyaman juga menjadi sumber penyakit karena metabolisme tubuh tak sanggup mengolahnya. Kalau memang tidak suka, ya jangan dimakan. Kalau suka, ya ambil secukupnya. Karena kita yakin bahwa makanan yang baik adalah sebuah pondasi dari kebahagiaan sejati. Termasuk apa yang kita makan, cara kita makan, sikap kita terhadap makanan, itulah yang sesungguhnya bisa membuat kita bahagia dan sehat secara jasmani dan rohani.
Sering kali kita gampang menuding dan mempersalahkan sesuatu yang ada di luar diri kita. Padahal kesalahan justru berada di pikiran dan tubuh kita sendiri. Ini tidak hanya berlaku untuk makanan, tetapi dalam banyak hal dalam kehidupan kita. Kita harus punya kesadaran sebelum menentukan pilihan dan membuat keputusan, termasuk soal makan. Para orang tua dulu selalu mengajarkan adab, etika dan pola makan sederhana yang sehat, yaitu agar kita tidak mencela makanan, karena apa pun wujudnya, makanan adalah bentuk berkah kehidupan. Kalau suka diambil, kalau tidak suka jangan dimakan. ***

Leave a comment