Pernahkah Anda memohon sesuatu dengan sangat khusyuk, merinci setiap detailnya, namun yang terjadi justru sebaliknya? Pintu yang Anda harapkan terbuka malah tertutup rapat, dan rencana hidup Anda berantakan. Di titik itu, wajar jika kita merasa kecewa dan bertanya-tanya di mana letak keajaiban hidup.
Ada kisah kawan saya yang lututnya bengkak karena osteoarthritis. Setiap hari adalah siksaan bagi perempuan aktif seperti kawan saya itu. Apalagi selama sakit itu dia harus berjalan pincang dengan menggunakan tongkat penyangga. Suatu kali, ia terpaksa harus belanja di pasar. Entah apa sebabnya, tiba-tiba ia jatuh terjerembab. Padahal ia tidak menyandung atau terpeleset. Ia menjerit kesakitan karena lututnya terantuk lantai pasar yang keras.
Tapi anehnya, beberapa jam setelah kejadian, tanpa diduga ia bisa duduk dan berdiri dengan leluasa. Ia berjalan tanpa harus limbung seperti sebelumnya. Bengkak di lututnya pun berangsur menghilang. Rasa sakitnya pun juga menghilang. Ia kini berangsur sembuh. “Ternyata doaku dikabulkan, meskipun dengan cara yang menyakitkan dan memalukan,” katanya.
Fenomena ajaib? Mungkin ya. Namun, mari renungkan kembali makna keajaiban. Albert Einstein pernah berkata bahwa hanya ada dua cara menjalani hidup, yaitu menganggap tidak ada satupun hal yang merupakan keajaiban, atau menganggap segala sesuatu adalah keajaiban. Sering kali, kita terjebak pada definisi keajaiban yang sempit dan berupa hal-hal spektakuler di luar nalar yang harus wah dan wow.
Padahal, kalau direnungkan keajaiban sejati jauh lebih dekat dari yang kita bayangkan. Setiap detik hidup kita sesungguhnya adalah keajaiban jika disadari penuh. Bahwa kita bisa bernapas normal, pembuluh darah dan syaraf berjalan sesuai fungsinya tanpa kita perintah, itu sudah merupakan keajaiban dari sistem tubuh kita yang berfungsi melebihi prosesor super komputer tercanggih sekalipun. Kita bisa tiba-tiba marah, sedih, tersenyum, tertawa, itu pun keajaiban.
Saya mengamini apa yang dikatakan oleh biarawan Buddha, Thich Nhat Hanh, mengingatkan kita, “Keajaiban bukanlah berjalan di atas air. Keajaiban adalah berjalan di bumi hijau ini.” Bernapas hari ini, merasakan detak jantung, melihat warna langit senja, dan mendengar tawa orang terkasih itu semua adalah keajaiban yang sering kita abaikan karena terlalu sibuk mengejar impian, ambisi, waktu, dan sebagainya. Sesungguhnya setiap perubahan sekecil apapun adalah keajaiban yang sedang terjadi setiap detik.
Sering kita terjebak dalam doa untuk minta keajaiban ketika kita berada dalam situasi kritis. Ketika doa kita tidak dijawab sesuai proposal yang kita ajukan kepada Sang Pencipta, bukan berarti Dia menolak. Kita kadang sampai putus asa karena menanti keajaiban yang tak kunjung tiba. Padahal sering kali semesta sedang menyiapkan keajaiban dalam bungkus yang berbeda. Kegagalan, kemacetan, atau keterlambatan kita hari ini bisa jadi adalah caraNya untuk menyelamatkan kita dari jalan buntu atau kondisi yang mencelakakan kita. Bisa jadi yang kita anggap sebagai penolakan atas doa kita sebenarnya adalah perlindungan yang Dia berikan.
Ketika kita dengan kesadaran penuh melihat, mendengar, merasakan, di sanalah kita menemukan keajaiban. Kalau mau direnungkan lagi, setiap bagian dari diri kita, tubuh kita, hidup kita, semuanya adalah keajaiban. Maka, kita harus bisa belajar berdamai dengan ketidakpastian. Ketika doa-doa kita seolah diabaikan, kita harus membuka mata dan hati. Bisa jadi, keajaiban itu tidak datang sebagai sulapan atau sihir dari jin lampu wasiat yang kita gosok. Keajaiban itu bisa jadi kesempatan baru yang menyamar sebagai masalah.
Seperti para orang bijak, saya ingin menikmati hidup seolah-olah segala sesuatu adalah keajaiban. Kita bisa bersyukur atas napas yang masih berhembus’ Kita menghargai proses perubahan yang sedang terjadi. Kita harus percaya bahwa apa yang tertunda atau dialihkan akan selalu digantikan dengan cara yang jauh lebih baik oleh Sang Maha Sutradara. Hari ini, mari kita belajar untuk takjub pada hidup, karena di sana tersembunyi ribuan keajaiban. ***

Leave a Reply