Inspiration

MENGATUR TUHAN

Saya berasumsi keberadaan Tuhan itu hanya diingat secara serius hanya ketika manusia berada dalam kondisi hidup yang tidak nyaman atau kondisi yang penuh penderitaan, kedukaan, luka batin, sakit hati dan sebagainya. Bahkan dalam kebencian sesama manusia pun nama Tuhan dibawa-bawa seolah ingin membela kuasaNya. Di luar kondisi itu, Tuhan hanya diingat karena kewajiban, kebiasaan, rutinitas doa, yang keberadaanNya lewat begitu saja setelah diingat dalam doa. Tapi di saat kita menjulang dengan segala kelimpahan, Tuhan hanya sebagai pemanis bibir.

Agar lebih nyata, kita membahas saat Tuhan selalu diingat, doa selalu diangkat, dan ketika kita “butuh” kehadiranNya. Karena saya yakin ini pengalaman semua orang. Di saat kritis, Tuhan diundang. Sering kali, tanpa sadar, kita memperlakukan hidup dan Sang Pencipta dengan cara kekanak-kanakan. Kita datang dalam doa membawa daftar panjang keinginan, lalu sibuk “mengatur” bagaimana seharusnya Tuhan mengabulkannya. Kita menentukan jalannya, membatasi waktunya, dan cemas setengah mati kalau-kalau skenarioNya tampak melenceng dari rencana kita. Kita memegang kendali itu begitu kuat, seolah-olah jika tangan kita sedikit saja mengendur, seluruh dunia akan runtuh, doa tidak akan dikabulkan, lalu kita gagal dan terpuruk.

Padahal, ada keindahan tersendiri dalam keheningan doa saat kita akhirnya memutuskan untuk melepaskan genggaman keinginan itu. Ketika kita berhenti menggenggam ego yang penuh keinginan dan berkata, “Tuhan, aku pasrah,” saat itulah keajaiban yang sebenarnya mulai bekerja. Bukan berarti kita menyerah pada keadaan, melainkan kita sedang memindahkan beban di pundak kita ke tangan yang jauh lebih kuat untuk membawanya.

“Tuhan, aku pasrah,” adalah tiga kata ajaib yang pernah saya alami ketika berada di titik nadir dan terendah dalam hidup saya. Saya merasa harta saya yang paling berharga tinggal tiga kata itu. Ego dan kesombongan sudah saya lepaskan. Semua saya lepaskan dan menyerah total tanpa ada perlawanan dan kata-kata indah selain tiga kata itu. Pasrah dan percaya adalah momen penting ketika kita membiarkan Tuhan mengerjakan bagianNya untuk kita. Tuhan menunggu orang yang pasrah dan yakin penuh.

Di momen seperti itu, saya membayangkan Tuhan tersenyum dan berkata, “Kau memaksa Aku untuk memberikan semua yang kau inginkan. Untungnya kau sadar dan melepaskan kendali atas ego dan keinginanmu. Kau berhenti melawanKu dengan gayamu yang seperti bos. Saat kau memaksaku siang dan malam, kau memegang erat doamu dan seolah penuh kesalehan. Tapi kau memegang keinginanmu itu begitu erat dan tak mau melepaskannya untuk Aku.

Aku ada di depanmu, tapi kau buta karena terbungkus oleh doa yang penuh dengan keinginanmu. Aku tidak perlu pujianmu. Aku tidak butuh pembelaanmu. Aku tidak butuh kau rayu-rayu lewat doa-doa panjangmu yang hampa. Kau selalu mengingat-ingat doa dan permintaanmu, seolah Aku pelupa. Aku tahu semua itu kau lakukan karena pamrih, bukan ketulusan, bukan keyakinan pada kekuasaanKu. Aku hanya butuh hatimu yang kosong, yang pasrah, percaya dan menyerahkan semua padaKu, tanpa perlu kau paksa dan kau atur semaumu.

Kau sekarang mulai menyerah dan membiarkan Aku masuk dengan kuasaKu. Cukup kau minta sekali dan kau yakini itu seolah sudah Aku berikan, maka akan Aku berikan semua sesuai permintaanmu. Kini kau mulai percaya padaKu untuk melakukan yang terbaik untukmu. Sekarang akhirnya aku bisa bergerak bebas, Kau memberi Aku ruang, karena Aku lebih tahu apa yang kau mau sesungguhnya. Aku sudah menyiapkan apa yang kau perlukan dengan caraKu.”

Begitulah kira-kira tanggapan Tuhan saat kita tulus mengucapkan tiga kata yang penuh kekuatan, “Tuhan, aku pasrah.” Jangan mengatur, jangan mendikte kapan, di mana, dengan cara bagaimana doa kita dijawab. Jangan mengingat-ingat terus permintaan itu agar Tuhan punya ruang untuk kuasaNya. Kita tinggal menunggu pemberianNya dan menerima keajaibanNya di saat kita lupa. ***

Leave a Reply

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑