Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang sahabat. Entah apa sebabnya, tiba-tiba ia mengatakan bahwa hidup itu penuh paradoks. Misalnya, saat kita berani melepaskan, maka kita akan mendapatkan. Sebaliknya, semakin kita menggenggam, kita akan semakin berkekurangan. Dan sahabat saya yang baru menyadari salah satu keutamaan hidup itu merasa gembira. Mungkin ia sedang mengalami pengalaman membahagiakan saat ia berani melepaskan.
Anda mungkin pernah mengalaminya saat mencoba menggenggam pasir pantai dengan sekuat tenaga. Alih-alih mengamankannya dalam genggaman, butir-butir pasir itu justru menyelip keluar dari sela-sela jemari, jatuh berserakan, dan kemudian habis tanpa sisa. Semakin keras kita merapatkan tangan, semakin cepat pula pasir itu pergi. Alam sepertinya punya cara unik untuk mengingatkan kita tentang sebuah hukum kehidupan ini.
Ada kalanya sesuatu justru mendekat saat kita ikhlas untuk melepaskannya. Sebaliknya, kalau kita menggenggam keingingan dengan ketakutan dan kekhawatiran, maka yang kita takutkan itu akan terjadi dan mendatangi kita. Hal ini bisa terjadi saat kita punya impian, doa, harapan, keinginan, ambisi, bahkan obsesi.
Dalam perjalanan mengejar mimpi atau target hidup, kita sering terjebak dalam perangkap yang disebut hyper-intention, niat yang kita genggam terlalu kuat. Sains modern bahkan mencatat bahwa saat seseorang terlalu terobsesi secara berlebihan pada suatu tujuan, otaknya memancarkan gelombang stres dengan frekuensi gamma yang tinggi karena dibayangi ketakutan akan kegagalan. Alih-alih membuat kita fokus, gelombang stres ini justru mengacaukan kinerja motorik, memicu kepanikan, dan membuat setiap keputusan yang kita ambil menjadi ngawur, grasah-grusuh. Kita seolah berlari tergesa-gesa di jalan yang licin, lalu bertanya-tanya mengapa kita terus terjatuh.
Ada pakar spiritual yang selalu saya ingat. Katanya, “Kalau kamu punya niat, impian, atau doa, lepaskan dan lupakan saja setelah diniatkan. Kalau kamu selalu ngotot dan mengingat-ingat terus niatan atau doamu itu, maka kamu seperti sedang menggenggam erat energi yang seharusnya kamu lepaskan. Akibatnya, mimpimu, doamu, tak pernah sampai ke tujuan, karena kamu sibuk mengingat-ingat, sibuk menggenggam dengan kekhawatiran dan ketakuan.”
Dari sana saya belajar bahwa ketika kita berharap terlalu kuat, kita sedang menggenggam energi keinginan itu sehingga tak pernah terwujud. Demikian pun dalam doa. Ketika kita ngotot agar doa terkabul, kita sejatinya sedang menggenggam sendiri doa itu dengan bungkus ketakutan, sehingga paket doa itu tak pernah sampai pada Sang Pengabul doa. Padahal doa atau impian itu bisa terkabul jika kita mau melepaskan, ikhlas, dan tidak diingat-ingat terus.
Sikap spiritual untuk ikhlas dan pasrah setelah berusaha maksimal bukanlah sebuah paradoks tanpa dasar. Ada mekanisme psikologis yang dikenal sebagai hyper-intention relaxation, rileks, lepas, ikhlas, dari segala intensi atau keinginan kita. Fakta membuktikan bahwa ketenangan batin yang lahir dari keikhlasan terbukti mampu meredakan badai saraf di kepala. Saat pikiran melonggarkan cengkeramannya yang kaku, ruang bagi kejernihan dan kreativitas kembali terbuka lebar. Energi, mimpi, harapan, niatan, dan doa yang kita kirim pun akan terbang menuju tempat yang semestinya. Sebab pada akhirnya, hal-hal baik sering kali menemukan jalannya pulang kepada hati yang telah selesai dengan rasa takutnya.
Semesta bekerja selaras dengan keheningan dan keyakinan, bukan dengan kepanikan dan kekhawatiran. Tuhan mengabulkan doa orang yang ikhlas dan percaya, yang tidak mengingat-ingat terus doanya. Karena dengan mengingat-ingat dan sikap ngotot, sejatinya kita sedang menunjukkan rasa tidak yakin pada Sang Pengabul doa. Sama halnya kalau anak kita punya keinginan dan terus menagih kita, maka lama kelamaan sebagai orang tua kita juga sebal, dan bahkan malas untuk mengabulkan keinginan anak yang memaksakan keinginannya itu.
Kita bisa mulai memraktikkan seni melepas ini. Saya belajar dari ilmu biarawan Buddha yang mengajak kita untuk menyadari napas. Kalau ingin tetap hidup, kita harus melepaskan napas yang kita hirup. Kalau kita tidak mau menghembuskan napas yang kita hirup, kita bisa mati. Kesadaran sederhana tentang napas ini mengajari kita bahwa hidup itu hakikatnya melepas agar bisa menarik. Mari kita belajar ikhlas persis seperti saat melepas napas sesudah mengambil napas. ***

Leave a Reply