Inspiration

BAHAGIA ITU DARI HAL SEDERHANA

Di suatu sore, tanpa sengaja saya mendengar sebuah dialog antara ibu dan anak dari panggilan video yang suaranya cukup keras di sebuah ruangan.

“Ibu cepet pulang dong. Adek kangen. Ini lagi ngejar-ngejar cicak.”

“Sebentar, dek, Ibu belum bisa pulang sekarang. Sebentar lagi ya, tunggu ya. Lagian kenapa cicak dikejar-kejar gitu sih?…Iya-iya, Ibu juga kangen adek. Tunggu ya.”

Sambil lewat, saya tersenyum mendengar dialog hangat di sebuah sore saat karyawan pulang kantor. Ibu itu adalah seorang Office Girl di sebuah gedung perkantoran. Rasanya sejuk mendengar dialog sederhana itu di tengah beban tekanan kerja seharian yang membuat stres.

Saya lalu teringat kerena sudah beberapa hari kolega kantor dan istri saya selalu mengatakan bahwa bahagia itu sederhana. Saya tidak tahu apakah ini suatu kebetulan, atau memang cara semesta mengingatkan saya agar merasakan bahagia yang sudah sirna karena beberapa minggu terakhir ditelan oleh tuntutan kerjaan yang tiada putus? Peristiwa, teguran, obrolan yang sederhana yang lewat dalam keseharian kita kadang memang menjadi pengingat ketika cara kita hidup sudah melenceng dari yang seharusnya. Hanya sering kali kita cuek, abai, dan tidak mau peduli dengan tanda-tanda alam hingga kita tetap lupa untuk bahagia.

Tahun lalu saya sudah menulis bahwa bahagia itu sederhana. Saya sekarang menulis lagi karena memang ada banyak hal sederhana yang bisa membuat kita bahagia. Ada banyak alasan yang seharusnya membuat kita bahagia. Melihat foto teman yang pamer ketika sedang healing di suatu tempat, mendengar kabar teman mendapat pekerjaan yang bagus, melihat keberhasilan, kemenangan, prestasi orang lain yang kita kenal, semua sudah jadi alasan kita untuk ikut bahagia. Melihat tingkah anak atau pasangan kita yang konyol tapi lucu juga membuat bahagia. Menekuni hobi, healing, me time,  yang selama ini kita lupakan juga jadi jalan untuk bahagia. Melakukan kebaikan kecil pada orang lain juga bisa memicu rasa bahagia. Bahkan saat karyawan bisa bekerja bebas di alam tanpa terganggu bosnya yang galak dan suka memaksa itu pun sudah jadi sumber kebahagiaan. Banyak sekali peristiwa sederhana yang seharusnya membuat kita bahagia.

Ada banyak sekali definisi tentang rasa bahagia. Bahagia itu bukan tujuan hidup, tapi produk dari kehidupan yang kita hasilkan. Bahagia itu adalah pilihan hidup yang memerlukan perjuangan untuk mempertahankannya. Bahagia itu menikmati hal-hal sepele yang kita miliki, apa pun itu. Bahagia itu muncul ketika kita tidak pernah berharap sekecil apa pun dari apa pun atau siapa pun. Bahkan bahagia itu bukan pula berarti bahwa hidup tidak ada masalah, tapi tentang cara kita menghadapi masalah itu. Saya punya cara sendiri untuk tetap bahagia saat menghadapi masalah, yaitu dengan melakukan hal bodoh, konyol, dan setelah itu saya menertawakan diri saya sendiri. Meski kata orang lain ini aneh, gila, tapi saya pede, karena ciri-ciri orang yang matang itu, katanya, adalah orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri.

Menurut saya, banyak orang terjebak mitos tentang kebahagiaan yang katanya harus dicari dan berada di luar diri. Sering kita mendengar, “Kamu akan bahagia kalau bersama orang itu, kalau mendapat posisi itu, kalau kaya seperti dia,” dan sebagainya. Maka tak heran kalau orang yang duitnya tak berseri rela menghamburkan kekayaannya demi mengejar kebahagiaan. Sayangnya, mereka salah alamat.

Kebahagiaan itu bukan tentang apa yang kita inginkan, tetapi menikmati dan mensyukuri apa yang sudah kita punyai. Bahagia itu ditemukan justru saat kita bisa menikmati yang ada meskipun sedikit, daripada mencari yang lebih banyak tapi belum ada. Karena orang yang paling bahagia itu bukan orang yang memiliki segala yang terbaik, tetapi yang mampu membuat segalanya menjadi terbaik untuk dirinya. Yang jelas, kebahagiaan itu harus kita ciptakan sendiri, bukan dari luar diri kita. Kebahagiaan itu pilihan dan buatan kita sendiri. Sumber bahagia itu adalah ketika kita bisa menghargai segala yang ada tanpa berharap apa pun. Ternyata, bahagia itu sederhana, sesederhana mendengar percakapan hangat seorang ibu dan anaknya yang rindu. ***

Leave a Reply

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑