Inspiration

TERUS NYALAKAN APIMU

Baru-baru ini masyarakat seolah terusik kesadarannya ketika berita di linimasa, media sosial menayangkan hasil survei CELIOS (Center of Economic and Law Studies) 2026. Survey itu, salah satunya, menemukan bahwa 75 persen masyarakat merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan 67 persen stres terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi publik presiden Indonesia. Bagi saya angka temuan hasil survei itu lebih menjelaskan keresahan masyarakat yang abstrak menjadi bahasa angka dan data yang mudah dimengerti. Faktanya memang seperti itulah yang terjadi. Masyarakat bingung karena tata kelola negara yang amburadul. Negara ini sedang tidak baik-baik saja. Lalu kita mau apa? Itu pertanyaannya.

Daripada merenungkan ketidaknyamanan kita sebagai warga masyarakat dan warga negara, saya ingin mencuplik sebuah dialog pendek antara seorang murid dan gurunya yang bijak yang terinspirasi oleh kisah biarawan Buddha.

“Bagaimana aku akan merasa damai, tenteram, bahagia ketika dunia saat ini penuh dengan penderitaan, ketidakadilan, penindasan, dan kekacauan?” tanya sang murid.

Sang guru setelah berdiam sejenak lalu menjawab, “Penderitaan dan kesuraman dunia di sekitar kita itu memang nyata. Tapi kalau kau sendiri menghancurkan kedamaianmu sendiri, kamu justru akan kehilangan kekuatan yang kau perlukan untuk menolong orang yang menderita.”

Sang murid pun memrotes sang guru, “Tapi kalau saya merasa bahagia sendiri, apakah itu bukan tindakan egois di tengah penderitaan orang lain?”

“Muridku, kamu harus paham bahwa peduli pada penderitaan orang lain tidak berarti kamu harus ikut menderita setiap saat. Kepedulian, bela rasa, empati perlu hati yang teguh. Kalau rumahmu gelap gulita, apakah kamu akan menolak cahaya api hanya karena seluruh dunia masih gelap?” sang guru balik bertanya.

Melihat dialog tersebut, saya atau mungkin Anda bisa jadi menjadi seperti murid yang ingin peduli pada penderitaan orang lain tapi justru bingung, resah, ikut marah, jengkel. Kita ingin berbelarasa dan berempati, tapi hati dan pikiran kita kalut. Ini seperti mengobok-obok air keruh menjadi semakin keruh. Kita tidak bisa melihat dasarnya ketika air menjadi keruh. Kolam keruh ini persis seperti pikiran kita. Pikiran dan hati yang kalut penuh dengan kemarahan, ketakutan, atau keputusasaan tidak akan menyelesaikan masalah. Air keruh tidak akan menjadi tenang dan bening.

Dengan membuat hati dan pikiran tenang memang tidak serta merta akan mengubah kekacauan dan kesuraman situasi dunia di luar kita. Tapi dengan pikiran dan hati yang lebih tenang dan tertata, maka kita akan menciptakan ruang untuk menjadi sedikit lebih bijaksana, lebih berbelarasa, berempati, sehingga akan muncul aksi yang lebih bermakna. Rasa peduli dan belarasa yang kita miliki juga belum tentu mengubah dunia yang kelam. Namun minimal kita sudah menciptakan kedamaian dalam diri. Karena kita toh tidak akan mampu menyangga seluruh penderitaan dan kekelaman dunia ini di dalam satu hati. Sebatang lilin kecil yang menyala tidak mungkin menyapu kegelapan dunia, Tapi cahayanya masih bisa menerangi ruangan yang ada di dekatnya.

Kedamaian dan kebahagiaan itu bukan berasal dari luar, tetapi harus kita ciptakan sendiri. Kedamaian dan kebahagiaan bukan berarti mengingkari penderitaan atau berpura-pura melihat bahwa segala sesuatunya baik-baik saja. Tetapi kedamaian dan kebahagiaan itu adalah cara menciptakan dunia batin yang seimbang agar kita tetap punya rasa peduli, empati, dan belarasa tanpa kita harus tenggelam dalam penderitaan yang sedang kita saksikan.

Sang guru berpesan pada muridnya, “Tetaplah berbuat baik di mana pun kamu berada. Bantulah orang lain selagi kamu bisa. Bicaralah yang lembut. Lindungi orang lain yang kamu bisa. Kurangi penderitaan sekecil apa pun yang masih berada dalam jangkauanmu.”

Kita semua masih boleh merasakan kegembiraan sambil tetap peduli dengan negara dan dunia yang sedang dalam abad kegelapan ini. Kita masih boleh mengistirahatkan diri ketika orang lain sedang berjuang. Kita boleh melindungi kedamaian diri tanpa harus lari dari tanggung jawab agar kita bisa menghadapi penderitaan dengan kebijaksanaan dan belarasa yang kita miliki.

Kita masih punya kedamaian dan ketenangan, cinta dan kepedulian. Itulah api yang masih kita miliki saat ini. Dengan nyala api itu, tugas kita adalah menerangi ruangan dan orang di mana pun kita berada. “Terus nyalakan apimu dan biarkan cahaya  menerangi dunia di sekitarmu karena dunia sedang dilanda kegelapan,” pesan sang guru bijak tadi. ***

Leave a Reply

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑