Inspiration

MIMPI MENGUBAH DUNIA

Akhir-akhir ini, linimasa kita penuh dengan riuhnya suara orang-orang yang ingin mengubah keadaan. Negeri ini sedang tidak baik-baik, tidak ramah. Situasinya terasa suram, dan ketidaknyamanan merayap ke setiap sudut kehidupan rakyat. Kebakaran hutan tak kunjung padam, kabut asap merajalela, beli BBM antre berjam-jam, anggaran subsidi energi dipotong, harga-harga naik, banyak PHK, kejahatan korupsi merajalela, dan segala ketidaknyamanan makin dirasakan masyarakat. Wajar jika amarah berkobar dan keinginan untuk segera turun tangan memperbaiki kekacauan meluap-luap. Kita seolah merasa tahu persis apa yang salah dengan para penguasa, sistem, bos kita di kantor, dan bahkan tetangga sebelah. Kita ingin dunia segera mendengar dan kita ingin segera mengubah dunia dalam kejengkelan dan kemarahan itu. 

Namun, dalam kekesalan demi kekesalan itu, saya coba berdiam diri sambil menarik napas dalam-dalam. Ada sebuah tulisan yang lewat di sebuah akun media sosial. Jalaluddin Rumi, penyair mistik dan sufi terkenal, menitipkan sebuah permenungan yang menohok batin. Kata-katanya kurang lebih begini, “Kemarin saat saya pintar, saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, jadi saya ingin mengubah diri saya sendiri.”

Kalimat itu bukan berarti kita menutup mata pada ketidakadilan. Bukan pula tanda menyerah pada keadaan. Rumi sedang mengajak kita melihat sebuah hukum kehidupan. Kita tidak akan pernah bisa menjernihkan air di dalam wadah besar jika tangan kita sendiri masih bergetar dan keruh oleh amarah dan kekesalan. 

Sering kali, justru hasrat kita untuk mengubah sistem atau mental pejabat negara itu hanyalah pelarian terselubung dari ketidakmampuan kita dalam menata hati sendiri. Kita ibarat sibuk meributkan arah angin di luar sana, sementara kompas di dalam diri kita sendiri justru tercabut dan hanyut.

Terinspirasi oleh Rumi, saya belajar dari pohon besar di tengah hutan. Ketika badai politik dan sosial menghantam, pohon itu tidak sibuk memaki angin atau mencoba menghentikan badai dengan ranting-rantingnya. Pohon memilih memperdalam akarnya ke dalam tanah yang gelap dan sunyi. Dari kedalaman akarnya itulah, ia menemukan kekuatan untuk tetap berdiri tegak sambil menyebarkan keteduhan bagi siapa saja yang duduk di bawahnya.

Ketika merasa pintar dan merasa mampu mengubah mental pejabat atau penjahat, saya pikir saat ini sia-sia saja. Kita tak akan sanggup melawan sistem bobrok yang sudah sebegitu masif mengakar dalam segala lini kehidupan masyarakat kita. Lebih baik kita belajar menjadi bijaksana dengan memperdalam akar batiniah kita. Dengan kebijaksanaan itu kita bisa mengubah diri sendiri dulu sebelum bisa mengubah dunia di luar kita. Minimal kalau dunia di dalam diri kita penuh cinta, optimisme, dan sikap batin yang positif, maka dunia di luar yang dekat dengan kita akan terasa teduh dan sejuk. Itu saja dulu saya rasa cukup. Kita menebarkan kesejukan kecil di tengah dunia yang suram dan dipenuhi keculasan ini. 

Menghadirkan kedamaian di ruang tamu, ruang kerja kita adalah bentuk perlawanan paling sunyi namun paling dahsyat untuk menghadapi terhadap kekacauan di luar sana. Sebab pada akhirnya, peradaban yang pulih dengan manusia yang kembali penuh adab selalu bermula dari jiwa-jiwa yang memilih berdamai dengan dirinya sendiri terlebih dulu. ***

Leave a Reply

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑