Apakah Anda pernah mencoba meluangkan satu menit untuk duduk tenang dan merasakan detak dada Anda? Di balik kulit yang tenang ini, ada sebuah dunia yang tak pernah tidur. Tanpa pernah kita minta, triliunan kurir mikroskopis seperti Kinesin dan Dynein yang merupakan protein motorik di dalam sel tubuh yang terus melangkah dengan beban di atas bahu mereka. Mereka menyusuri lorong-lorong sel, membawa nutrisi, merawat kehidupan, dan memastikan setiap sudut tubuh kita tetap berfungsi. Kita bisa berjalan, makan, tertawa, bernapas. Semua berkat sel-sel kecil yang berada di dalam sistem tubuh kita.
Mereka bekerja tanpa meminta tepuk tangan, tanpa lelah, dan tanpa pernah mengeluh. Namun, seberapa sering kita benar-benar menyapa dan berterima kasih kepada mereka? Jangankan menyapa, tak banyak dari kita sadar sepenuhnya bahwa tubuh kita itu memiliki triliunan sel dalam sebuah sistem yang sangat sempurna yang melebihi sistem komputer tercanggih mana pun. Kita melupakan bahwa tubuh kita ditopang oleh dunia renik sel yang membuat kita tetap hidup.
Sering kali, kita terlalu sibuk berlari mengejar impian hingga lupa pada rumah pertama kita sendiri: tubuh ini. Kita menuntutnya bekerja melampaui batas, mengabaikan sinyal lelah, dan menjejalinya dengan beban emosi yang menumpuk. Kita baru teringat untuk berhenti ketika rasa sakit atau penyakit akhirnya datang. Tubuh akhirnya lemah digerogoti penyakit karena ada rem darurat dalam sistem tubuh kita yang memaksa kita berhenti mendadak. Penyakit bukanlah bentuk pengkhianatan tubuh, melainkan jeritan halus dari triliunan pekerja hening dalam sel-sel tubuh. Mereka telah lama mengiba sambil berbisik, “Tolong, istirahatlah sejenak. Kami butuh bantuanmu.” Ia menjerit pada pikiran kita agar kita sadar dengan keberadaan mereka.
Saya sudah mencoba memraktikkan hal kecil dalam keseharian saya. Saat berdoa sebelum makan saya mengucap, “Terima kasih makanan, dan semua orang yang terlibat sampai jadi makanan ini. Terima kasih tubuhku, sekarang kau siap menerima makanan yang akan kusantap. Sel-sel tubuhku yang baik, terimalah makanan yang berguna, dan buanglah yang tidak berguna. Terima kasih.” Kedengarannya naif dan tidak religius. Tapi saya mengimani dan mengamini doa itu sebagai penghargaan terdalam terhadap tubuh saya yang membuat saya tetap dapat menjalani hidup.
Menyayangi diri sendiri bukanlah sebuah tindakan egois atau bentuk pemanjaan berlebihan. Master Cheng Yen dari China pernah berpesan, “Menyayangi diri sendiri adalah wujud membalas budi. Bersumbangsih adalah wujud rasa syukur.” Doa model saya itu menjadi wujud sederhana cinta saya terhadap tubuh saya. Menyapa, menyentuh, mengingat, menyadari tubuh sendiri adalah wujud sederhana dari rasa syukur saya terhadap kehidupan yang masih saya alami.
Ketika kita merawat tubuh ini dengan baik, kita sebenarnya sedang membalas jasa triliunan kehidupan kecil dan dunia sel yang selalu setia menopang setiap napas kita. Tubuh ini adalah kendaraan berharga yang dipinjamkan kepada kita untuk berbuat kebaikan di dunia. Dengan tubuh ini kita dipanggil agar menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain. Bagaimana mungkin kita bisa bersumbangsih dan menyebarkan kasih kepada orang lain, jika wadah atau tubuh yang kita gunakan untuk mengasihi justru kita biarkan retak dan terabaikan?
Tubuh kita layak mendapatkan cinta dan sapaan. Mencintai diri bisa kita mulai dari hal yang sangat sederhana. Kita bisa mencoba rehat sejenak dari layar gawai misalnya. Tarik napas dalam-dalam, lalu minumlah segelas air putih hangat secara perlahan. Rasakan setiap teguknya mengalir ke dalam tubuh. Sapa dan berikan senyum kepada triliunan sel yang menjadi pekerja setia di dalam diri. Bisikkan terima kasih yang tulus karena mereka masih terus berjuang bersama Anda hingga detik ini. Selamat mencintai sel-sel yang ada dalam tubuh Anda. ***

Leave a Reply