Inspiration

TIKUS GOT

Dulu saya pernah hidup di dunia yang terbalik. Siang jadi malam, malam pun menjadi siang. Saya bekerja dari malam sampai pagi untuk memenuhi tenggat penerjemahan berita di sebuah koran nasional. Selama tiga tahun lebih saya hidup dalam kesunyian malam. Namun saya jadi akrab dengan binatang-binatang malam yang selalu setia menemani saya.

Salah satu yang selalu saya lihat adalah tikus got. Di jalanan kompleks depan rumah sangat riuh dengan lalu lalangnya tikus-tikus got. Ada yang bertengkar soal wilayah. Ada yang berebut makanan. Ada yang santai menikmati makanan di tong sampah. Ada yang bergerak dari satu tong sampah ke tong lainnya untuk mengais makanan. Saya sampai hampir hafal perilaku mereka. Tak jarang pula ada yang ‘lembur’ sampai matahari menyinari pagi. Padahal tikus got, yang saya amati, anti dengan sinar matahari.

Saya belajar dari mereka (tikus got). Mereka harus bergerak dan berlari untuk mempertahankan hidup. Hampir tak ada yang berjalan santai. Kalaupun ada, hanya satu dua saja. Itupun yang sudah renta dan mau mati.

Kelincahan tikus got dan kawan-kawannya itu mengingatkan saya pada sahabat saya. Beberapa waktu lalu, sahabat saya menelepon saya. Saya kaget, karena saya kira mau menagih hutang saya yang belum terbayar. Ternyata dia hanya ingin berkisah.

Ia bercerita bahwa hidupnya kini sedang berada di level terbawah. Jatuh terpuruk. Aset hampir disita bank. Kewajiban bank seret. Modal miliaran raib ditipu rekan bisnis. Usaha bangkrut. Pekerjaan formal sudah tidak ada. Padahal dulu dia menikmati jabatan tinggi dengan gaji ratusan juta. Dia tinggalkan semua karena ia tidak dapat menipu hati nuraninya ketika harus berlaku tidak jujur.

Di titik nadir itu ia tiba-tiba terinspirasi agar bergerak untuk melakukan sesuatu demi keluarga dan anak-anaknya. Ia mulai membangun usaha apapun di saat ia kehilangan kekayaan. Ia harus bergerak dan bergerak. Persis seperti tikus got. “Agar tetap makan, maka kita harus bergerak,” katanya di ujung telepon.

Ada sikap hati yang menurut saya patut diteladani dan ditularkan. Dia selalu mengangkat segala kelebihan dan kekurangannya dalam ranah iman. Jalan itu kini sudah mulai terbuka. Ia belajar dari manapun agar bisa memasak. Padahal memasak bukan keahliannya sama sekali. Akhirnya kini ia dan istrinya bisa memasak. Setelah bisa memasak, kini ia memberanikan diri untuk bergerak dan mempromosikan makanannya. Alhasil, sekarang ia membuka catering. Tiap harinya selalu ada order dari puluhan sampai ratusan kotak.

“Aku hanya mencoba selalu bergerak. Karena saat bergerak, maka aku diberi jalan. Dalam menjalankan bisnis inipun, aku selalu menempatkan diri sebagai bawahan dan karyawan dari Sang Empunya bisnis, Tuhan sendiri. Aku hanya orang yang menjalankan usahaNya. Aku menjalankan usahaNya dengan sepenuh hati. Maka kini aku mendapatkan upahnya. Jangan pernah merasa jadi bos dalam hidup ini, karena ada Big Boss di atas sana yang mempekerjakan kita. Dialah pemilik bisnisnya. Kita hanya karyawanNya. Kita pasti diberi upah asal kita mau bergerak dan bergerak. Percayalah!” katanya bersemangat.

Sungguh, imannya telah menyelamatkan keluarganya. Saya hanya melongo, dan berniat untuk terus bergerak. Persis seperti tikus got. ***(Leo Wahyudi S)

Photo credit: kaskus.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: