Parenting

Prestasi, sebuah tuhan baru?

Suatu malam, anak saya yang masih duduk di kelas delapan sekolah menengah pertama curhat. Ia menceritakan temannya yang gampang panik dan nangis. “Masak hanya karena nilai Matematikanya dapat 95 dia nangis, stress, terus panikan,” kata anak saya. Fenomena ini cukup mengherankan bagi anak saya.

Ia berpikir bahwa pelajaran Matematika itu sulit, dan dia selalu mengeluh soal pelajaran satu ini. Maka perjuangan untuk mencari nilai pun relatif berat, terutama bagi anak saya. Bisa dapat nilai 70 itu sudah merupakan kemewahan (dan ini pun jarang ia dapatkan). Jadi, ketika ia melihat temannya mendapat nilai 95 dan masih merasa kurang sampai stres dan menangis, ini menjadi peristiwa yang mengherankan sekaligus menjengkelkan. Mengherankan, karena seharusnya temannya bersyukur bisa dapat nilai bagus, hampir sempurna. Menjengkelkan, karena ini membuat kecemburuan sosial bagi anak saya. “Orang kok nggak bisa bersyukur..aneh,” komentar anak saya kesal.

Saya heran dengan dunia pendidikan saat ini. Pendidikan, kata pakarnya, seharusnya memerdekakan, membuat anak belajar dengan gembira. Namun yang saya lihat dan saya alami sepertinya jauh panggang dari api. Dalam konteks kehidupan urban, setiap pagi anak harus berangkat pagi-pagi buta bersama orang tua yang akan berangkat ke kantor, menembus kemacetan pagi. Teror psikologis dan stres sudah membuat adrenalin pagi naik level. Belum lagi kalau sambil melirik jam. Muncullah teror ancaman kalau terlambat masuk. Ditambah beban buku-buku pelajaran yang pernah iseng-iseng saya timbang tas anak saya, beratnya bisa 3-5 kilogram. Beban ini hampir selalu memberati punggung-punggung belia untuk dibawa ke sekolah. Jam pelajaran dari pagi sampai sore. Kalau ada pelajaran ekskul bahkan anak bisa pulang jam 4-5 sore.

Hal ini masih diperparah dengan tugas, pekerjaan rumah, ulangan, prakarya, beli bahan prakarya, kerja kelompok untuk hari berikutnya. Belum lagi dengan sekolah yang jadwalnya selalu dioplos setiap hari. Beban ini masih bertambah jika anak harus ikut les pelajaran tambahan sore atau malam harinya. Sampai di rumah masih ada bahaya mengancam. Orang tua yang haus prestasi dan nilai akan ngamuk dan ngomel berkepanjangan dengan kecepatan jaringan 4G alias nyerocos ngebut. Membayangkan saja saya sebagai orang tua ikut stres.

Pada saat ada tugas prakarya atau pekerjaan rumah, tiba-tiba orang tua yang haus prestasi akan tampil sebagai pahlawan. Anak yang kecapekan disuruh istirahat. Tugas pun diambil alih oleh orang tua. Para orang tua berlomba mengejar kesempurnaan dan nilai. Mereka lupa bahwa kesempurnaan itu tidak pernah ada. Karena hakikatnya sesuatu yang sempurna itu adalah proses menuju kesempurnaan itu sendiri.

Anak tidak mendapat apresiasi karena nirprestasi. Yang ada hanya caci maki. Seperti yang terjadi pada kawan anak saya tadi. Tak heran kalau anak gampang depresi ketika tidak berprestasi. Banyak orang tua menuhankan prestasi. Mengukur keberhasilan hanya dari hasil akhir dan nilai. Lalu dimana letak pendidikan yang memerdekakan? Yang terjadi hanya penjajahan psikologis anak-anak millenial karena sistem pendidikan yang lupa mengajarkan anak untuk berkreasi, berinovasi, berpikir kritis dan bebas.

Saya selalu mengatakan kepada anak saya, jalani proses sebagus mungkin. Ikuti tahapan yang harus ditempuh. Belajar sebaik mungkin. Nilai itu hanya bonus, bukan vonis terakhir dari kualitas otak atau daya nalar. “Orang tuamu lebih menghargai upaya yang kalian lakukan, bukan nilai yang kau hasilkan. Jangan khawatir dengan nilai ulangan atau nilai rapormu. Usaha jauh lebih tinggi nilainya daripada sekedar angka,” kata saya kepada anak-anak saya.

Tak lupa saya tanamkan kepada anak-anak, bahwa kesuksesan, kebahagiaan hidup bukan diukur oleh nilai akademis. Banyak anak-anak dengan nilai akademis tinggi di sekolah, tapi di rumah di masyarakat mereka tidak tahu cara bersikap sopan dengan orang lain, tak tahu cara berbagi dengan teman. Padahal mereka berasal dari keluarga pendidik dan kuat kehidupan beragamanya. Sungguh ironis. Atau, mungkin saya yang salah berekspektasi?

Saya tidak membahas soal pendidikan 4.0. Tapi melihat dunia pendidikan anak-anak sekarang, mungkin layak kita renungkan kata-kata seorang motivator, Mohsin Ali Shaukat. “Keberhasilan bukan semata-mata soal tujuan, tapi merupakan keseluruhan perjalanan. Keberhasilan bukan semata-mata hasil, tapi lebih merupakan keseluruhan proses.” (Leo Wahyudi S)

Photo credit: telegraph.co.uk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: