Inspiration

Alamat Rejeki

Seorang kawan sedang mengalami gundah dan galau. Dia selalu mengeluh kepalanya pening, gegara soal ekonomi yang sedang terjerembab. Sebagai kontraktor ia mengalami kebangkrutan karena sepinya proyek. Setiap hari ia mengeluh. Tukang belum dibayar. Pemilik rumah rewel. Tagihan belum dibayar. Apalagi ketika anaknya minta uang saku ke sekolah. Kantongnya kempes. Pusing dan pening ternyata berkorelasi positif dengan tebal tipisnya dompet. Semakin tipis semakin pusing kepalanya. Demikian sebaliknya.

Saya tidak menjanjikan sebuah solusi pada kawan saya. Saya hanya bercerita tentang gelas kosong dan kran air yang mengalir. Ketika gelas kita kosong, kita memerlukan sumber air untuk memenuhinya. Kita pegang gelasnya lalu kita cari sumbernya. Namun ketika hati penuh kegalauan dan kekhawatiran, maka gelas yang kita pegang pun akan bergerak kian kemari mengikuti genggaman tangan yang digerakkan hati yang penuh kekhawatiran. Putaran dan goyangan gelas itu seolah seperti banteng buta mengamuk, berlarian tak tentu arah. Padahal kran sumber air mengalir deras dan tidak pernah berpindah dan letaknya tak jauh dari gelas yang kita pegang.

Dalam skala dan konteks tertentu, pasti kita pernah mengalami situasi pahit semacam itu. Kita seolah berada di titik nadir. Kita terpuruk secara ekonomi. Seolah semua celah tertutup rapat tanpa ada lobang sedikitpun untuk berharap. Dalam suasana penuh kegalauan dan kepanikan, seperti biasa dilakukan orang beragama, kita lalu merengek-rengek minta rejeki kepada Tuhan. Menangis dan mengiba minta agar gelas kita terisi air untuk memuaskan dahaga ekonomi. Kita bahkan menangis dan mengemis-ngemis dengan air mata tak kunjung henti. Dalam situasi seperti ini, tangan kita menjadi labil, seperti terkena sakit parkinson. Gelas kosong yang kita pegang pun bergoyang-goyang, bergerak liar, tanpa pernah ketemu sumber air kran.

Padahal, kalau kita ingin gelas rejeki dan segala permintaan terisi, yang perlu kita lakukan hanya ketenangan. Saya pernah mengalaminya. Percayalah, ketenangan hati, kesabaran dan iman yang kuat akan membuat gelas yang kita pegang menjadi kokoh. Dalam ketenangan itu maka mata hati akan melihat posisi kran air. Tuhan ibarat kran yang mengalirkan airnya tanpa henti. Gelas permohonan kitalah yang bergerak kesana kemari. Kita mengubah alamat rejeki karena ulah kita sendiri, karena iman yang rapuh, harapan tak utuh, kesabaran yang hampir runtuh.

Kata orang, rejeki tak pernah salah alamat. Syaratnya, tangan dan gelas permohonan harus kita posisikan di titik tepat di bawah air berkah. Sekali lagi, syaratnya hanya ketenangan dan keyakinan iman yang kuat. Tanpa ada kekhawatiran, kepanikan atau ketidakyakinan. Jangan ada tremor atau parkinson saat memegang gelas permohonan. Saat tenang, hati dan telinga akan menuntun gelas kita ke sumber air yang tak kunjung henti mengalirkan berkahNya. Maka, rejeki benar-benar sampai ke alamat kita. Teman saya pun manggut-manggut, katanya,  “Insya Allah, semoga aku tidak mengubah alamat kiriman rejeki.” (Leo Wahyudi S)

Photo credit: beritadunia.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: