EKSPEKTASI, LANGKAH MENUJU PRESTASI
Orang beranggapan bahwa ekspektasi itu sering kali berujung pada kekecewaan, karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka kalau ingin hati damai, jangan terlalu berekspektasi. Namun, tidak selamanya berekspektasi, berharap-harap pada sesuatu atau seseorang itu jelek. Buktinya adalah kisah Thomas Edison dan Ibunya. Ibunya tidak mengubah struktur otak Edison, tapi hanya membebaskan sumbu keyakinan yang selama ini padam oleh penilaian sepihak.
Thomas Alva Edison adalah penemu bola lampu listrik pertama pada akhir 1800-an. Berkat temuannya, dunia jadi terang seperti yang kita nikmati hari ini. Dialah penerang di tengah kegelapan. Thomas Edison juga menjadi penemu alat perekam suara, proyektor, dan alat-alat yang dikembangkan dalam dunia kapal selam dan pesawat.
Tapi, di balik kehebatan dan kejeniusannya, Thomas Edison tidak terlahir sebagai orang jenus. Ia justru dianggap bermasalah saat bersekolah. Oleh gurunya dia dicap sebagai pengganggu, hiperaktif, lamban, dan bodoh. Saking bermasalahnya, sekolah mengirim surat kepada ibunya tentang keadaan anaknya di sekolah dan mengeluarkannya dari sekolah.
Sang ibu kemudian menangis setelah membaca surat dari sekolah yang dibawa anaknya, Alih-alih sedih dengan isi suratnya, Ibunya justru menyimpan surat itu. Lalu dengan lembut ia berkata bahwa Thomas adalah anak yang sangat jenius, sehingga sekolah tersebut tidak sanggup lagi mendidiknya. Sejak itu, Ibunya berniat mengajari Thomas di rumah. Ibunya memiliki keyakinan dan ekspektasi bahwa anaknya jenius dan hebat.
Thomas pun bertumbuh menjadi anak yang cerdas dan gemar melakukan percobaan hingga akhirnya menemukan banyak hal. Setelah ibunya meninggal, Thomas baru menemukan surat yang dulu dibaca oleh ibunya tersebut. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa isi surat aslinya adalah pemberitahuan bahwa Thomas dianggap memiliki gangguan mental dan tidak diizinkan lagi bersekolah di sana. Sang ibu mengubah kata-kata dalam surat tersebut untuk menyelamatkan masa depan dan kepercayaan diri anaknya.
Hidup kita sering kali berjalan seperti di dalam kegelapan. Kita menyimpan begitu banyak potensi, tetapi kerap kali kita menunggu orang lain atau bahkan diri kita sendiri untuk menekan sakelar yang bisa menyalakan lampu potensi kita. Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Pygmalion Effect, sebuah situasi di mana ekspektasi dan keyakinan tinggi dari seseorang dapat mengubah kapasitas orang lain secara luar biasa. Kita menjadi seperti yang diharapkan orang lain. Ekspektasi dan keyakinan orang lain bisa membentuk diri kita. Ekspektasi orang bisa menjadi penggerak dan mengubah hidup kita agar sesuai dengan ekspektasi itu.
Proses dari Thomas versi lama menjadi Thomas sang jenius bukan sulapan. Ekspektasi tinggi dari ibunya tidak serta merta membuat Thomas berubah jadi jenius dalam seminggu. Ekspektasi sang ibu dibarengi dengan latihan, dukungan sumber daya, waktu, apresiasi yang nyata. Kalau cuma ekspektasi saja tanpa ada dukungan dan apresias, hasilnya justru membuat kita makin terpuruk dan stres.
Di dalam keseharian kita, tanpa sadar kita juga sering menjadi penentu bagi orang di sekitar kita. Ucapan kecil kita kepada rekan kerja yang sedang ragu, atau kepercayaan yang kita berikan pada anak-anak, adalah energi ekspektasi yang bisa mengubah keraguan mereka menjadi sebuah keyakinan baru. Kita semua adalah pemilik sakelar kehidupan. Ketika kita menekan sakelar, kita sedang melihat titik terang dalam diri seseorang. Kita sedang membantunya selaras dengan versi terbaik dirinya yang siap berkembang penuh. Satu kalimat hangat kita mungkin adalah sakelar yang sedang mereka tunggu untuk menerangi ruang gelap dalam hati mereka hari ini.
Ekspektasi harus berjalan beriring dengan apresiasi. Ekspektasi itu bahasa harapan yang diam. Apresiasi adalah penghargaan lewat kata dan aksi. Keduanya saling melengkapi. Ekspektasi orang lain terhadap diri kita dapat membuat kinerja kita berubah searah dengan ekspektasi tersebut. Hal itu juga bisa berlaku untuk ekspektasi terhadap diri sendiri. Ekspektasi dapat mengubah keyakinan diri sehingga bisa berubah searah dengan harapan tersebut. Ekspektasi bisa menjadi jalan menujut prestasi.***

Leave a comment