Inspiration

HALANGAN MEMBERI ITU EKSPEKTASI

Pernahkah Anda punya niat baik untuk berbagi dan memberi, tapi niatan itu jadi goyah di tengah jalan? Saya mengalaminya beberapa waktu lalu untuk hal sepele. Saya memulai hari dengan niatan dalam hati bahwa saya ingin memberi tips lebih pada ojol yang akan saya naiki pagi itu. Saya sudah siapkan uang tips itu di saku. 

Ketika ojol yang saya tunggu tiba, niatan saya tiba-tiba jadi goyah lantaran kesan pertama saya. Ojol itu sama sekali tidak ramah, menyapa seperlunya, dan itu pun dingin. Tampilannya kumuh. Motornya pun butut tak terawat. Saya yang biasanya cerewet dengan obrolan ringan tiba-tiba kehilangan selera. Sekedar menyapa pun tidak saya lakukan. Perjalanan 30 menit itu terasa nggak nyaman. 

Dalam ketidaknyamanan itu hati saya berkecamuk. Ada pertarungan antara sisi kebaikan dan kejelekan. Drama pikiran itu begitu  serunya berkecamuk dalam sebuah pertarungan satu babak. Sisi jelek mengatakan bahwa ojol ini tidak simpatik, tidak niat kerja. Tampilan juga tidak bersih. Motor tidak enak. Jalannya lambat yang bikin ketar-ketir takut ketinggalan jadwal kereta. Pokoknya sikap pengendara ojol ini tidak membuat perjalanan saya nyaman. Bikin saya menggerutu salam hati. Jadi dia tidak layak mendapat uang tips.

Sisi baik saya berkata lain. Pengendara ojol ini mungkin sedang suntuk karena masalah di keluarganya sehingga malas untuk bicara atau sekedar menyapa. Atau, mungkin ia sedang tidak sehat, tapi terpaksa narik karena dikejar kebutuhan ekonomi. Dia tidak bisa kencang karena motornya tidak terawat, karena tidak punya uang untuk servis. Ojol ini diam juga mungkin karena ia sedang berzikir sepanjang  jalan. Buktinya ia pegang alat hitung kecil di jarinya dan selalu ia pencet secara berkala. Ojol ini sebetulnya orang baik. Tapi keadaan yang membuat sikapnya tidak mengenakkan. 

Begitu sampai di tujuan, akhirnya sisi baik yang saya menangkan. Saya tetap memberikan uang tips. Dan, benar, ojol itu sepertinya dingin menerima tips. Tanpa ucapan terima kasih. Spontan sisi jelek saya berontak, “Tuh kan, apa kubilang!” Tapi saya tak peduli dan tetap jalan dengan membawa kemenangan sisi baik saya. Niat baik untuk memberi itu tetap teguh. 

Semua orang pasti pernah dan punya niat baik dan sisi baik. Saya yakin itu. Tapi niat baik ternyata butuh keteguhan. Kita sering memasang standar, syarat dan kondisi hanya untuk memberi atau berbagi. Lebih mudah memberi dan berbagi pada orang yang tahu diri, tahu terima kasih, tahu tata krama. Rasa keberterimaan mereka yang tulus sangat membahagiakan dan mengisi ruang validasi yang kita butuhkan. Kita tanpa sadar butuh balasan validasi di balik apa yang kita berikan. 

Tapi berbagi pada orang yang cuek, itu baru unik. Ujiannya gampang. Cobalah berbagi atau memberi pada orang yang menyebalkan, yang tak tahu terima kasih, yang songong. Kalau Anda berhasil berbagi pada orang seperti itu dan tidak menggerutu, berarti niat baik Anda benar-benar tulus, tanpa pamrih validasi. Anda lulus dalam kebaikan kecil. 

Ekspektasi, syarat, kondisi sering kita gunakan untuk menghalangi niat baik. Kebaikan kalah oleh ego dan rasa ingin diakui. Padahal ada pepatah, orang yang paling dermawan adalah orang yang berbagi dalam sunyi, tanpa mengharapkan balasan atau pujian. Mulai sekarang, niatkan untuk berbagi dan berbuat baik. Hilangkan ekspektasi dan asumsi karena mereka perusak niat tulus tentang kebaikan. 

Semua harus kembali pada niat memberi dan berbagi. Tidak usah peduli fakta yang tak sesuai ekspektasi. Lupakan reaksinya saat diberi, lupakan faktanya yang kadang mengecewakan. Dengan sikap ini, kita memurnikan niat tulus untuk berbagi. Hati kita sedang memberi kesempatan  untuk terus berbuat baik. Kita hidup dari apa yang kita dapatkan. Tapi kita membuat kehidupan dari apa yang kita berikan. Itu pesan dari Winston Churcill.*** 

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑