KETIKA MANUSIA KALAH DERAJAT DIBANDING ALAT
Beberapa waktu lalu saya kena omel seorang bos gegara tidak dapat menyediakan mobil yang bagus yang dibutuhkannya. Omelannya menyakitkan. Seolah hidupnya menderita dan sengsara karena tidak ada mobil tersedia saat itu. Gegara mobil, semua hal baik yang mendukung kinerja seolah terhapus begitu saja. Saat itu saya merasa derajat kemanusiaan saya kalah berharga dibanding sebuah mobil.
Ada banyak contoh dalam kehidupan kita sehari-hari ketika kita lebih mementingkan benda mati di atas segalanya. Keterikatan pada benda mati itu bisa mengalahkan rasa hormat pada sesama. Martabat manusia dan ciptaan lainnya terkorbankan oleh benda mati. Hanya karena motor, mobil, laptop, gawai tergores, orang tega menganiaya orang lainnya. Orang rela mengumbar angkara murka demi sebuah benda dan ini fakta. Bahkan ada banyak kejadian yang menelan korban jiwa gegara perkara benda mati itu.
Kita layak merenungkan kembali apa yang pernah dikatakan Dalai Lama. Manusia diciptakan untuk dicintai. Benda diciptakan untuk dimanfaatkan. Namun, kini yang terjadi sebaliknya. Benda makin dicintai dan orang makin dimanfaatkan. Akibatnya dunia makin kacau dan rusuh. Martabat dan nyawa kalah berharga dibanding benda. Selembar jiwa kalah derajat dibanding materi berharga puluhan hingga ratusan juta.
Tanpa sadar, kita sering kali menukar tempat dalam kehidupan ini. Kita menaruh hati pada benda-benda mati di sekitar kita. Misalnya, smartphone terbaru dan termahal, kendaraan mewah, atau angka besar di dalam rekening. Keterikatan dan pemujaan benda-benda itu sudah lewat kewajaran. Materi disembah dan dipuja. Sementara di sisi lain, kita mulai memperlakukan sesama manusia layaknya perkakas yang bisa dibuang saat fungsinya habis. Kita menjadi begitu cemas saat layar ponsel kita retak. Ironisnya, kita merasa biasa saja saat kata-kata kita meretakkan hati seseorang. Dunia menjadi terasa bising, rusuh, kacau, dan melelahkan justru karena kita mulai mencintai apa yang seharusnya dimanfaatkan, dan memanfaatkan apa yang seharusnya dicintai.
Ketika kita memperlakukan manusia sebagai alat untuk mencapai tujuan, kita sedang mengikis kemanusiaan kita sendiri. Kita sedang merusak kodrat, derajat dan martabat manusia karena kecintaan dan kemelekatan kita pada barang. Padahal manusia diciptakan dengan keunikan, perasaan yang hanya bisa diisi oleh penerimaan serta kasih sayang. Sebaliknya, benda-benda dibuat untuk mempermudah hidup kita, bukan untuk menguasai ruang emosi kita. Tapi faktanya, materi mengaburkan pandangan, bahkan membutakan mata. Kita sudah tak peduli lagi nasib, norma, etika, saat berhubungan dengan sesama. Kita kehilangan empati bahkan hanya untuk mendengar cerita sesama, karena kita lebih bersimpati pada tas mahal, rumah mahal, mobil mahal, perhiasan mahal.
Kita masih diberi waktu untuk menata kembali kesadaran tentang hakikat manusia dan benda. Mari kita mengembalikan keselarasan yang kacau ini. Kita tidak perlu menunggu momen besar untuk mengubah keadaan. Bahkan kita bisa memulainya hari ini dengan hal-hal kecil. Anda dapat membuka kaca mobil mewah Anda untuk menyapa tukang sapu jalan, satpam kompleks. Atau, saat Anda memesan makanan atau membeli sesuatu, tataplah mata orang yang melayani Anda. Taruh smartphone termahal Anda. Bagikan senyum, dan ucapkan terima kasih dengan tulus seolah mereka adalah bagian terpenting dalam hari Anda saat itu. Dari kebiasaan kecil ini, kita sedang belajar memosisikan kembali benda sebagai alat, dan manusia sebagai sosok yang berharga untuk dicintai, dihormati, disapa.
Ketika kita mampu menata ulang tempat bagi materi dan manusia di dalam hati, perlahan kedamaian yang hilang itu akan kembali bersemi. Kita akan menemukan kembali ketenangan dalam hidup. Kedamaian itu muncul ketika kita melepaskan kemelekatan sambil menyadari bahwa setiap barang harus kembali pada fungsinya, dan setiap jiwa harus menemukan rumahnya untuk dicintai. ***

Leave a comment