Inspiration

BANJIR

Tahun baru 2020 disambut dengan hujan ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Pulau Jawa bagian barat dan utara. Akibatnya, banyak wilayah di Pulau Jawa, terutama Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung Barat, Cikampek pun dilanda banjir. Pesta tahun baru menjadi kontras dengan pengalaman tidak mengenakkan bagi warga yang terimbas banjir dan kebanjiran. 

Hujan ekstrem saat ini menurut BMKG sangat tinggi karena mencapai 377 mm per hari atau melebihi curah hujan 370 mm per hari pada 2007. Banjir 2007 telah melumpuhkan 60 persen wilayah DKI Jakarta, menelan puluhan korban jiwa. Kerugian ditaksir triliunan rupiah saat itu. Namun banjir di awal 2020 kali ini tidak sampai melumpuhkan kegiatan perekonomian dan sosial. Hal yang patut disyukuri di tengah bencana.   

Namun namanya bencana tetap membawa sengsara, terutama pada saudara dan warga yang mengalaminya langsung. Peristiwa ini, terutama banjir di Jakarta dan sekitarnya, sontak mengundang para warga net berceloteh dengan komentar-komentar atau meme yang lucu, ngawur, dan sering tidak berempati. Banyak juga yang memviralkan foto dan video reportase tentang banjir. Ada meme bertuliskan “Akibat ditembakin kembang api semalam, langitnya bocor”. Namun banyak pula komentar yang menghujat gubernur ‘gabener’ DKI Jakarta atas kebijakannya yang ‘tidak jelas’ soal banjir. Padahal soal hujan dan banjir adalah urusan kekuasaan alam dan Pemilik Alam, bukan kekuasaan penguasa manapun. 

Saya kebetulan belum pernah terdampak langsung oleh banjir. Namun dulu saya beberapa kali berkesempatan untuk meliput banjir. Saya ingat bagaimana saya hampir mati karena terseret arus banjir di sebuah gang sempit perkampungan yang dilanda banjir. Saya tidak menyangka betapa kuatnya arus banjir di daratan. Bahkan saya melihat bagaimana sebuah taksi bisa nangkring di tengah kebun pohon pisang gegara arus banjir. Sejak itu, saya tidak pernah mau meremehkan banjir, sekalipun itu melanda jalan raya yang biasa kita lewati. Arusnya luar biasa kuat.

Tanpa mengurangi rasa simpati dan empati bagi para saudara dan warga yang terdampak banjir saya mencoba merenungkan peristiwa banjir ini. Kembali lagi saya terinspirasi oleh tulisan Gede Prama yang mengulas bahwa segala sesuatu akan berlalu. Dalam bahasa saya, biarlah semua berlalu sesuai masanya. Kalau dalam bahasa Gubernur DKI saat ini, banjir itu tidak ada. Yang ada adalah antrean air yang akan meresap ke tanah. 

Masalahnya, antriannya terlalu banyak dan tanahnya sudah tidak ada celahnya lagi. Semua penuh beton dan aspal. Wajar kalau antriannya pun macet. Air yang sedang antri menggenang dimana-mana. Membanjiri semua wilayah dan semua warga tanpa membedakan status sosial, suku, ras dan agama. Dari saudara-saudara yang tinggal di bantaran sungai sampai orang kaya yang tinggal di perumahan elit terkena banjir. Masjid, gereja, atau tempat ibadah lain pun banyak yang tergenang. 

Air tidak selamanya akan menggenang. Ia selalu mencari celah, sekecil apapun untuk dialiri. Air selalu mencari tempat yang lebih rendah untuk mencapai titik isostasi atau titik keseimbangan. Maka antrean air itu juga akan mencari solusi dan jalan keluar sehingga genangan menjadi surut. Air selalu mengalir. Permukaan air banjir yang kita lihat dan rasakan akan berlalu. Semua akan berlalu mencari titik keseimbangan, yaitu ke laut. Gede Prama mengatakan, tidak ada kesedihan dan kesengsaraan yang akan tinggal terlalu lama. Tidak ada kesombongan (seorang pemimpin) yang akan terlalu lama dan memabukkan. Maka, menurut saya, tidak air banjir yang menggenang terlalu lama, karena semua akan berlalu dan mengalir. 

Percayalah, banjir pasti akan berlalu. Kesedihan dan penderitaan pun akan berlalu. Semua akan menuju sebuah titik keseimbangan, sebagaimana air. Tinggal bagaimana kita bersikap sabar menanti sesuatu yang pasti akan berlalu itu dengan harapan akan kebaikan. Karena kita tidak punya kuasa untuk memaksa alam untuk segera berlalu sebelum waktunya.***(Leo Wahyudi S)

Photo credit: liputan6.com   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: