Banyak pendaki gunung yang pernah mengalami hal paling mengerikan, yaitu tersesat. Akibatnya bisa fatal, bahkan menelan korban jiwa, hanya karena tersesat. Biasanya kejadian fatal itu terjadi karena orang lambat menyadari jalannya yang sudah sesat. Dan, mereka justru terus maju dan mencari. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering melihat atau mengalami pengalaman tersesat atau salah jalan.
Anda pun mungkin pernah mengalami tersesat. Bukannya berhenti sejenak untuk melihat peta atau memperhatikan arah angin, tapi justru terus jalan makin kencang. Sikap nekad kadang bisa menutup mata dari kenyataan bahwa jalurnya sudah salah. Padahal, seseorang yang tersesat tidak akan pernah menemukan jalannya kembali hanya dengan terus melaju lebih cepat.
Fenomena ini sering kali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan diri kita sendiri yang mengalami. Mengakui sebuah kesalahan adalah salah satu hal tersulit yang harus dilakukan manusia. Ada ego besar yang membisikkan bahwa menyerah pada rasa bersalah akan membuat kita terlihat lemah dan bodoh. Kita rela berjalan memutar ribuan kilometer dalam lingkaran yang sama, melelahkan diri sendiri, hanya demi melindungi gengsi agar tidak terlihat keliru. Kita menghabiskan energi untuk lari dari kesalahan, ketimbang membenahinya.
Pengalaman sesat atau salah pilih jalan ini terasa begitu nyata, bahkan dalam skala yang besar. Banyak yang sekarang menyesal karena salah pilih pemimpin saat pemilu. Ketika kita keliru memilih pemimpin keadaan bangsa menjadi riuh dan carut-marut. Tapi banyak pula yang merasa bahwa mengakui kesalahan itu sering kali terasa bagai menelan pil yang sangat pahit. Banyak di antara kita yang lebih memilih bertengkar, mencari pembenaran, dan terus bertahan dalam pilihan yang keliru ketimbang berani berkata, “Ya, saya salah memilih.”
Pengalaman salah dan tersesat ini harus dimulai dari kesadaran diri untuk bersikap rendah hati. Tanpa hal ini, jalan salah itu akan membuat kita tersesat makin jauh dari jalur yang seharusnya. Kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan, melainkan jalan pintas tercepat menuju rute yang benar. Mengakui bahwa kita telah mengambil jalan yang salah tidak akan pernah menghancurkan martabat kita. Justru, itulah satu-satunya hal yang menyelamatkan kita dari kesia-siaan karena terbuangnya tahun-tahun berharga kita yang telah terbuang percuma.
Mungkin hari ini, langkah terbaik yang bisa kita ambil bukan menambah kecepatan, melainkan keberanian untuk berhenti. Cobalah luangkan waktu sejenak hari ini untuk duduk hening dan jujur pada diri sendiri. Akui satu kesalahan kecil yang selama ini enggan Anda akui, entah itu dalam pikiran, perkataan, perbuatan, dan kelalaian. Bisa juga salah dalam cara mendidik, keputusan finansial yang keliru, perkataan yang melukai orang terdekat, atau sekadar pilihan yang salah. Katakan pada diri sendiri dengan tulus dan jujur, “Saya salah.”
Pada akhirnya, melepaskan beban untuk merasa selalu paling benar adalah awal dari kebebasan yang sejati. Hanya ketika kita berani mengakui bahwa kita tersesat, jalan yang benar baru bisa terlihat kembali. Kita tidak lagi tersesat. ***

Leave a comment