INSPIRATION

MENJADI MANUSIA SEBELUM BERAGAMA

Saya kadang tersenyum kalau melihat kelakuan orang-orang yang mengaku religius di negara paling religius ini. Banyak ironi yang saya lihat. Katanya beragama, minimal terlihat dari rajinnya ibadah, dari pakaiannya, tapi kadang masih suka membeda-bedakan dan menghakimi orang lain yang tidak sealiran. Katanya religius, tapi suka merendahkan dan menghina orang lain. Mengasihi orang pun dibedakan. Apalagi mengasihi ciptaan lainnya. Kucing dicintai, tapi anjing dimusuhi. Si anu yang kaya harus dihormati, tapi si ono layak direndahkan.

Di sisi lain, saya membuat tulisan ini pun saya juga tidak berbeda dari orang-orang semacam itu, karena saya ikut menghakimi orang yang beda kesadaran. Mohon dimaafkan sejenak. Bukan maksud saya demikian, karena tulisan saya ini hanya pengamatan dan permenungan saya pribadi. Lucu melihat paradoks kehidupan sehari-hari di negeri religius ini. Kesejatian sebagai manusia dan ciptaan justru sering kali tertutup oleh atribut agama dan keyakinan yang kita kenakan.

Kita hidup di tengah masyarakat yang, boleh dikata, sangat religius. Tempat rumah ibadah berdiri megah di setiap sudut dan ruang publik. Banyak orang tak mau ketinggalan waktu ibadah. Di dalamnya dipenuhi khotbah tentang kebenaran dan welas asih. Namun, di balik riuhnya ritual itu, ada satu pertanyaan yang kerap melintas di benak saya. Mengapa semakin banyak orang rajin menjalankan ibadah dan ajaran agama, justru semakin mudah mereka melempar jarak dan prasangka kepada sesamanya?

Ada kalanya spiritualitas dipahami secara mentah, hingga tanpa sadar melahirkan pribadi-pribadi yang merasa paling berhak atas surga, berhak atas kebenaran mutlak, merasa paling suci, dan mengklaim kekuasaan Tuhan sebagai miliknya sendiri. Mereka sangat pandai menghakimi dan menghukum orang lain. Aturan dan norma agama dipeluk begitu erat, namun hati yang welas asih justru tertinggal di belakang, dan bahkan inti ajaran agama itu tanpa sadar terinjak kakinya saat menjalankan ibadah. Padahal, sebelum kita mengenal identitas, keyakinan, atau dogma apa pun, kita ditakdirkan lahir sebagai manusia yang sama dan setara. Kita diciptakan untuk hidup bersama dengan rasa welas asih pada makhluk ciptaan lainnya.

Kemanusiaan sesungguhnya merupakan fondasi. Ia adalah tanah subur tempat benih agama atau keyakinan ditanam. Ketika tanahnya sudah keras dan gersang karena ego, setinggi apa pun ajaran yang kita siramkan, ia hanya akan menjadi ornamen yang kaku. Agama semestinya hadir untuk memperhalus jiwa yang sudah lebih dulu memiliki kepekaan, empati, rasa iba, welas asih. Kebaikan tidak membutuhkan kartu identitas dan agama. Rasa kemanusiaan jauh lebih agung daripada agama. 

Menjadi manusiawi adalah satu kelas lebih tinggi daripada sekadar menjalankan rutinitas ibadah. Seseorang yang memiliki hati penuh kasih tidak akan tega merendahkan orang lain yang berbeda jalan darinya. Sebab, manusia dan segala makhluk diciptakan oleh Sang Maha Cinta. Maka selayaknya ciptaanNya pun menjadi sumber cinta bagi semua ciptaan, tanpa membedakan, tanpa menghakimi. Puncak dari segala keyakinan yang matang bukanlah seberapa nyaring kita membela nama Tuhan, melainkan seberapa utuh kita mampu memantulkan kasih dan cintaNya kepada sesama.

Sudah saatnya kita kembali menjadi manusia dan melatih kembali kejernihan hati itu. Kita dapat mulai menebarkan rasa welas asih lewat tindakan kecil yang sederhana. Kita bisa menyapa tetangga maupun kawan yang berbeda pandangan dan keyakinan. Tanyakan kabarnya dengan tulus, tanpa menyelipkan keinginan untuk menghakimi atau menilai perilakunya. Cukuplah kita hadir untuknya sebagai sesama manusia.

Saya suka sekali dengan apa yang dikatakan oleh Maya Angelou, penulis dan penyair kulit hitam. Ia belajar bahwa orang akan lupa dengan apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan. Tapi, orang tidak akan lupa dengan cara kita memperlakukan perasaan orang lain. Maka, lebih baik kita terus menebarkan kebaikan dan melupakan apa kata orang. 

Ketika ruang-ruang perdebatan menjadi hening, dunia tidak akan mengenang seberapa lantang norma agama yang kita perjuangkan, melainkan seberapa hangat kehadiran kita bagi mereka yang terluka. Dunia tidak akan melihat agama kita, tapi bagaimana kita memanusiakan orang lain. Karena toh kebaikan yang kita bagikan hari ini bersumber dari Sang Maha Cinta. ***

One thought on “INSPIRATION

Add yours

  1. kira² apa yg ada di benak orang yg seperti itu ya? Apakah ini Allahku dan bukan punyamu, karena kamu beda? Jika demikian apa mereka berpikir ada lebih dari 1 Allah??

    mboh lah.. guks guks

    Like

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑