Inspiration

DETOKS KATA-KATA

Saya sedang berlatih untuk tidak mudah mengeluh, sekecil apa pun. Ini saya terapkan karena ingin menjadi contoh untuk anak saya yang sangat rajin mengeluh. Hal-hal sepele sudah cukup menjadi alasan untuk mengeluh. Entah panas, dingin, lantai kotor, sandal berantakan, baju berantakan, semua bisa jadi bahan keluhan. Saya selalu mengingatkan dia, tapi tak mempan. Saya tak ingin mengeluh, tapi akhirnya mengeluh juga karena kebiasaan anak saya yang suka mengeluh sulit diubah.

Ternyata saya baru tahu bahwa kebiasaan mengeluh itu bisa membangkitkan hormon stres yang secara perlahan bisa mematikan bagian prefrontal cortext di otak yang digunakan untuk berpikir dan mencari solusi. Dengan bahasa mudah, semakin sering kita mengeluh, otak kita semakin pintar untuk mencari-cari masalah. Semakin banyak mengeluh, semakin terlatih otak kita untuk sekedar cari masalah. Akibatnya, otak kita makin jadi tumpul karena tidak terbiasa mencari solusi. Ini persis yang terjadi pada anak saya, dan kemudian bapaknya juga. 

Saya lalu membayangkan sebuah cangkir berisi air jernih yang siap kita minum untuk menyegarkan tenggorokan. Setiap kali kita menyuarakan keluhan kecil, kita seolah sedang meneteskan tinta hitam yang jatuh ke dalam air jernih itu. Satu tetes mungkin hanya membuat air sedikit keruh. Namun, ketika keluhan itu berulang setiap hari, air jernih itu pelan-pelan berubah menjadi gelap. Tanpa sadar, racun itu tidak datang dari luar, melainkan dari kata-kata yang kita pilih untuk diucapkan dan dikeluhkan. Entah tentang cuaca yang terlalu panas, jalanan yang macet, atau beban kerja yang tak kunjung usai, makanan yang hambar, minuman yang kurang pas. 

Kata-kata kita itu adalah energi yang memiliki getaran. Ia adalah energi yang pertama kali didengar oleh telinga lalu direkam oleh otak kita sendiri sebelum sampai ke orang lain. Ketika kita membiarkan lidah terbiasa melipat rasa ketidakpuasan menjadi keluhan, pikiran kita secara otomatis akan melatih diri untuk hanya mencari keburukan dan persoalan setiap hari. 

Padahal kalau disadari lebih jauh, tidak ada yang berubah lebih baik hanya dengan mengeluh. Yang ada justru kenyataan bahwa semakin kita banyak mengeluh, semakin banyak persoalan yang akan menghampiri kita persis seperti yang kita keluhkan. Dan fakta inilah yang banyak dilupakan orang yang suka mengeluh. 

Meskipun hari-hari ini kita menghadapi dan mengalami banyak peristiwa hidup yang sangat tidak mengenakkan, mengecewakan, bahkan menyakitkan, kita lebih baik jangan mengeluh. Orang bijak berpesan agar kita jangan membuang waktu sedetik pun untuk mengeluh dalam hidup. Toh mengeluh tidak menyelesaikan persoalan, tapi justru menarik persoalan. Semakin kita mengeluh, semakin banyak masalah yang kita hadapi. Akibatnya, kita akan menjadi pembawa virus yang menulari orang lain dengan persoalan kita. 

Untuk melatih diri agar tidak mengeluh, kita harus melakukan detoks kata-kata. Kita harus mulai sadar bahwa kata-kata keluhan itu akan membuat otak kita tumpul dan malas mencari solusi. Kata-kata keluhan adalah racun yang harus kita buang. Kita harus mulai menyadari bahwa tidak semua hal dalam hidup itu sesuai dengan harapan kita. Kita harus mulai membersihkan lidah dan mulut agar jauh dari keluhan.

Pembersihan ini bukan berarti kita harus menyangkal rasa lelah atau berpura-pura bahwa semuanya selalu baik-baik saja. Detoks kata-kata adalah adalah seni menyaring apa yang keluar dari bibir kita, agar yang tersisa adalah kejujuran yang membangun, bukan tumpahan emosi yang merusak. Ketika kita mengeluh atau menyalahkan orang lain atau diri sendiri, kita sebenarnya sedang menguras energi yang seharusnya bisa digunakan untuk melangkah maju. Mengeluh itu ibarat kita mengikat kaki sendiri di tempat yang sama sambil meratapi batu yang membuat kita tersandung. Toh batu tidak akan berpindah dengan kita mengeluh.

Mari kita ubah cara kita berbicara dan berucap. Saat rasa frustrasi mulai memuncak, kita bisa mengubah sudut pandang kalimat kita. Daripada mengeluh tentang kesulitan hidup, kita bisa mengucapkan pada diri sendiri, “Apa yang sedang coba diajarkan oleh situasi ini?” Perubahan kecil dalam sudut pandang dan kata-kata ini bisa menggeser posisi kita dari seorang korban keadaan menjadi seorang pembelajar yang baik.

Detoks kata-kata dan ucapan dan puasa mengeluh bisa jadi pilihan. Jangan mengeluh kalau kita tidak mau atau tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengubah apa yang kita keluhkan. Jika ada hal yang mengganggu atau tidak sesuai harapan dalam keseharian, alih-alih menyuarakan kekesalan, tarik napas dalam-dalam dan ucapkan satu hal kecil yang tetap bisa kita syukuri saat itu juga. Kita harus sadar, dunia di sekitar kita mungkin tidak selalu berjalan selaras dengan keinginan. Namun, ketenangan hidup tidak pernah ditentukan oleh seberapa tenang badai di luar, melainkan oleh seberapa jernih kata-kata yang kita pilih untuk membuat jiwa kita damai. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑