Inspiration

BERDIRI DI TITIK NOL

Kemarin saya bertemu sahabat yang sudah lama tak bertemu muka. Ia bertutur tentang kisah hidupnya sebagai tukang bangunan. Bagi orang lain, pekerjaannya mungkin dianggap berat, tapi menurutnya adalah berkah yang sarat makna. Ia sangat piawai tidak hanya saat mengalasi batu bata dengan semen, tapi juga mengalasi seluruh perjalanan hidupnya dengan penuh syukur. 

Di tengah bincang ringan itu, saya dibuat terkejut saat melihat dirinya yang berbeda. Ada yang berkurang dari tubuhnya. Ternyata jari kelingking kirinya kini tak utuh lagi. Ujungnya hilang satu ruas karena terlindas batu bangunan yang ditekuninya. Anehnya, kehilangan ruas yang membuat bagian jarinya tak sempurna justru selalu membuatnya tersenyum. 

“Saya bersyukur karena tiap kali saya lihat jari kelingking saya yang buntung seruas ini selalu jadi pengingat agar saya tidak sombong, meremehkan atau menyepelekan orang,” katanya sambil menunjukkan kelingking buntungnya. Ia sadar bahwa jari kelingking kadang dijadikan simbol untuk meremehkan atau menggampangkan sesuatu atau seseorang. Kini ia punya jari pengingat dalam kehidupannya agar tidak sombong dan merendahkan orang lain. 

Kata orang bijak, manusia sering jatuh dalam dua ekstrem, yaitu saat memiliki dan saat kehilangan. Kita bayangkan  hidup ini seperti sebuah pendulum raksasa. Di ujung sebelah kanan, ada puncak tertinggi bernama kesombongan atau arogansi. Di ujung sebelah kiri, ada jurang terdalam bernama keputusasaan atau kehilangan harapan. Tragisnya, sebagian besar dari kita menghabiskan umur bukan dengan berdiri tegak di titik keseimbangan, melainkan terombang-ambing secara ekstrem di antara kedua ujung tersebut.

Ketika kita menggenggam harta, menduduki jabatan tinggi, punya kuasa atau merayakan kesuksesan besar, jiwa kita sering kali terjangkit penyakit vertigo sosial yang membuat mabuk kepayang. Kita melihat ke bawah dengan rasa jumawa, merasa bahwa apa yang kita miliki adalah hasil mutlak dari kehebatan diri sendiri. Kita lupa bahwa roda kehidupan terus berputar, dan gravitasi takdir bisa menjatuhkan siapa saja dalam sekejap mata. Kesombongan saat di puncak ini adalah bentuk kehancuran pertama. Ia membutakan mata hati dan memutus hubungan kita dengan realitas serta sesama.

Sebaliknya, saat badai hidup datang dan menghempaskan pendulum itu jauh ke sudut kiri saat kehilangan orang tercinta, terpuruk karena kebangkrutan, atau kegagalan karier, kita langsung terjebak dalam ruang gelap tanpa  harapan. Kita memandang ke atas dengan rasa tidak berdaya, mengutuk keadaan, dan merasa bahwa dunia telah kiamat. Ini adalah bentuk kehancuran kedua. Keputusasaan yang melumpuhkan langkah kaki untuk bangkit dan melangkah kembali. 

Baik kesombongan maupun keputusasaan sebenarnya berasal dari akar yang sama, yaitu cara memandang kenyataan. Merasa kesuksesan dan kepemilikan saat ini akan bertahan selamanya. Merasa penderitaan dan kegagalan hari ini tidak akan pernah selesai. Semuanya adalah ilusi. Seseorang yang sombong sedang mabuk oleh masa kini. Sementara orang yang putus asa sedang terpenjara oleh masa lalu. Keduanya sama-sama kehilangan masa depan.

Rahasia hidup yang damai bukan terletak pada seberapa tinggi pendulum bisa berayun, melainkan bagaimana kita menjaga diri agar tetap tenang di titik tengah atau titik nol. Titik keseimbangan hidup. Karena sebenarnya harta dan jabatan hanyalah titipan sementara. Semua itu ibarat gaun pesta yang pada akhir malam harus dikembalikan ke lemarinya. Kita juga mesti yakin bahwa malam yang paling gelap sekalipun selalu berujung pada terbitnya matahari pagi. Kegagalan hari ini bukanlah titik akhir, melainkan tanda koma untuk mempersiapkan babak baru yang lebih kuat. Selalu ada harapan dan jalan di saat gelap.

Hidup yang bijak adalah hidup yang elastis, seimbang namun kokoh. Tidak menjadi terbang layaknya balon yang melambung tinggi lalu meletus karena kesombongan, dan tidak pula menjadi batu yang tenggelam di dasar samudra karena keputusasaan. “Jadilah manusia yang berada di tengah, bersyukur saat pasang, dan bersabar saat surut,” kata sahabat saya yang buntung jarinya. Saatnya kita harus berdiri di titik nol untuk menjaga keseimbangan hidup. ***

Leave a comment

Website Powered by WordPress.com.

Up ↑