Tulisan ini tidak dimaksud untuk menginspirasi orang untuk menjadi pecundang, atau menjadi orang kalah yang layak diinjak dan direndahkan. Tulisan ini justru ingin mengajak kita semua untuk merenungkan keutamaan dan nilai di balik kata mengalah. Di jaman yang bergerak serbacepat, orang berkompetisi untuk selalu menjadi yang terdepan agar jadi pemenang. Kata kalah dan mengalah tak boleh ada di dalam kamus kehidupan orang modern. Tapi, benarkah demikian?
Dalam menjalani hidup, tak semuanya selalu berjalan mulus sesuai dengan harapan. Tidak semua bisa kita tundukkan. Tidak semuanya bisa kita kalahkan. Tidak semua keadaan atau situasi bisa kita kendalikan semau kita. Ada banyak sekali peristiwa, orang, situasi, kondisi yang berada di luar kendali kita yang tidak selalu bisa kita menangi.
Ketika berada di jalan raya yang ramai, lalu ada pengendara yang sengaja melawan arus atau melanggar lampu lalu lintas, apakah kita berusaha mengalahkan mereka? Menyalahkan mereka itu mungkin, tapi mengalahkan kebodohan dan kecerobohan mereka adalah hal yang tak perlu dilakukan. Kita masih terlalu waras melawan kebodohan kolektif semacam itu. Ketika menghadapi situasi yang demikian, tak ada kata lain kecuali kita harus mengakui bahwa kita kalah dan harus mengalah.
Ketika berada di lingkungan pekerjaan, ada atasan yang tidak bisa kerja, tapi hobinya menyalahkan dan mempersalahkan bawahan. Seberapa baik pekerjaan kita, selalu saja dicari kesalahannya. Apakah kita bisa mengendalikan atasan yang hobinya menyalahkan seperti itu? Ada relasi kuasa atasan dan bawahan yang tak bisa kita lawan dalam kondisi tertentu. Kadang mengalah adalah pilihan pahit yang harus kita ambil.
Saya sepakat dengan banyaknya kata-kata dari para orang bijak, bahwa mengalah tidak berarti kalah. Kalau kita kalah bukan berarti kita pecundang. Mengalah tidak selamanya rendah dan membuat kita lemah. Bahkan ada yang mengatakan, kita justru menjadi jiwa merdeka saat orang meremehkan dan menganggap kita pecundang. Artinya kita justru punya kesempatan dalam diam untuk menjadi pemenang. Istilahnya, kita punya keuntungan yang kompetitif saat orang merendahkan dan menyepelekan kita. Itulah salah satu manfaat mengalah.
Tapi ada yang lebih mulia dari sikap mengalah yang bisa kita jadikan falsafah hidup. Minimal, dengan penyadaran semacam ini, kita tidak perlu merasa jadi pecundang atau jadi orang gagal, gegara sikap kita yang mengalah. Karena mengalah sesungguhnya ada arti yang lebih mendalam daripada sekedar bersikap seolah-olah kalah. Mengalah bisa dipahami sebagai sebuah proses menuju sifat Allah. Sifat-sifat Allah itu kita yakini jauh lebih utama. Ia tak pernah dikalahkan atau terkalahkan. Dialah yang punya sifat segala maha. Maha welas asih, maha baik, maha cinta, maha pengampun, maha menang, maha berkelimpahan, maha hebat, dan sebagainya.
Mengalah adalah mendekati sifat Allah. Itu yang harus kita sadari penuh. Kita bisa belajar seperti tanah. Tanah diciptakan untuk diinjak-injak, dilubangi, dicabik-cabik, dicangkul. Ia diam, tidak protes. Tapi tanah dalam diam membuat tanaman tumbuh subur. Tanah hanya menampung segala bangkai manusia, binatang, tumbuhan. Lalu dalam diamnya mengubah semua menjadi kesuburan, jadi batu bara, jadi batu mulia, jadi minyak. Namun, dalam diamnya, tanah memiliki kekuatan yang maha dahsyat ketika diperlakukan tidak selayaknya. Tanah longsor, gempa bumi, adalah wujud kemenangannya yang selama ini kelihatan lemah, mengalah, tak pernah berontak.
Mulai sekarang, kita bisa belajar kesadaran bahwa mengalah adalah mulia, karena kita sedang diam dan berusaha mendekati sifat Allah yang maha kuat dan hebat, meski terkesan diam dan seolah kalah. Mengalah tidak berarti kalah. Karena dari sikap seolah lemah dan kalah, kita sedang menghimpun sebuah kemenangan batin yang bisa muncul kapan pun kita mau. Persis seperti sifat Allah yang tak pernah kalah meskipun dihina, diinjak, direndahkan, diremehkan. Apakah sekarang Anda mau mengalah? ***

Leave a comment